Minggu, 25 Agustus 2013

Jati Diri Umat Hindu dan Ajeg-Bali



Jati Diri Umat Hindu dan Ajeg-Bali Dalam Era Globalisasi
Agama Hindu bukanlah agama dogmatik, bukan agama yang berdasarkan atas dogma. Hindu adalah agama yang berdasarkan dharma. Hindu juga disebut sanatana dharma, atau kebenaran yang abadi.
Apakah dogma? Dogma adalah kepercayaan yang tidak boleh dipertanyakan dan yang selalu harus diyakini sebagai kebenaran, bahkan jika itu tidak masuk akal atau irasional.
Misalnya:
  • kepercayaan bahwa semua manusia telah berdosa sejak lahir
  • kepercayaan tentang kebangkitan tubuh setelah mati
  • kepercayaan bahwa suatu agama telah memonopoli kebenaran
  • bahwa hanya pemeluk agama tersebut yang bisa masuk sorga
  • kepercayaan bahwa setiap manusia telah ditentukan nasibnya oleh Tuhan secara sepihak
  • kepercayaan boleh membunuh manusia lain yang tidak seagama demi untuk membela serta mengunggulkan agama yang dianutnya
Itulah contoh-contoh dogma yang irasional dari suatu agama tertentu namun harus diyakini oleh pemeluknya sebagai suatu kebenaran.
Dharma adalah prinsip kebenaran universal dan kebenaran hukum alam abadi. Dharma adalah hukum universal yang dapat ditemukan melalui penyelidikan objektif.
Sebagai contoh, dharma sebagai sifat api suci; seseorang tidak dapat membayangkan api yang tidak membakar; dalam kaitan ini dharma akan selalu membakar atau memusnahkan adharma.
Dharma mempunyai prinsip-prinsip etika dan spiritual antara lain: dasar-dasar Yoga seperti: tidak menyakiti (ahimsa), kebenaran (satya) pengendalian diri (tapa), serta etika dan kewajiban manusia yang diulas dalam Yama dan Niyama-brata.
Prinsip dharma yang lain adalah hukum karma-phala, yakni buah dari segala perbuatan yang pasti akan diterima kembali oleh manusia baik di masa kini, di kehidupan kemudian, dan di dunia niskala.
Dengan berpegang pada hukum karma-phala manusia dibimbing untuk berbuat (kayika), berbicara (wacika), dan berpikir (manacika) yang baik.
Agama-agama dogmatik sangat menekankan pada iman yang harus diyakini secara bulat. Pemeluk agama jenis ini bisa mengatakan: “Percayalah, atau masuklah agama kami, maka kalian akan selamat dan masuk sorga”.
Tetapi Hindu sebagai agama yang berdasarkan dharma, akan selalu menekankan pada perilaku yang baik dalam berbuat, berkata, maupun berpikir. Seorang Hindu akan senantiasa menganjurkan: “Lakukanlah perbuatan, perkataan, dan pemikiran yang baik, maka kalian akan selamat.”
Akibat kaidah yang demikian pada kehidupan manusia adalah: Pemeluk agama-agama dogmatik memisahkan antara ibadah dengan perilaku, karena cukup dengan percaya saja dan taat melakukan ibadah sesuai kitab sucinya, sudah menjadi “jaminan” akan masuk sorga, atau dapat saja ibadah dianggap sebagai penghilang dosa.
Mereka bersifat sangat eksklusif, merasa memonopoli kebenaran, mempunyai kecenderungan untuk menaklukkan, menguasai, dan mengendalikan. Sebagai konsekuensinya, disadari atau tidak, sering menganjurkan kebencian. Dari kebencian lahir kekerasan terhadap orang-orang beragama lain.
Sebaliknya pemeluk sanatana dharma menyatukan keyakinan, ibadah, dan perilaku yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip yang jelas, Hindu mengajarkan bahwa dosa-dosa dalam kehidupan tidak dapat dihapuskan hanya dengan kepercayaan dan ibadah saja, namun harus pula diimbangi dengan perilaku dharma.
Bagaikan sinar matahari yang terik, maka bila ada hembusan angin dan awan, teriknya tak terasa, demikianlah dosa yang telah tertutup oleh dharma.
Agama yang berdasarkan dharma tidak memiliki ambisi untuk menaklukkan dan menguasai karena tujuan agama bukan untuk menjadi imperialisme politik dan budaya, tetapi untuk mencapai kesadaran diri atau pencerahan spiritual. Itulah agama universal yang sesungguhnya.
Ajaran Veda dalam Hinduism yang demikian humanis membuat Hindu menjadi agama terbesar di dunia, karena ia melayani keperluan setiap manusia, apapun suku, bangsa, dan agamanya. Ia tidak hanya sekedar suatu agama, tetapi ia adalah jalan spiritual dan cara hidup.
Veda adalah wahyu Tuhan kepada umat manusia karena itu ajaran-ajarannya akan hidup sepanjang masa.
Veda memberikan jalan yang terbuka bagi umat manusia yang ingin mencapai kebahagiaan lahir bathin dalam pola hidup sederhana namun berpikiran tinggi dan mulia, atau populer dengan istilah: “simple living high thinking”.
Veda tidak menginginkan umat manusia bertindak hanya di atas landasan keberadaan tubuh (just on the bodily platform of existence), tetapi Veda lebih menekankan pada tendensi kesehatan spiritual.
Dari aspek spiritual yang sehat akan terwujudlah emosional yang sehat, serta intelegensial dan physical yang sehat pula. Ajaran Veda yang mulia ini banyak dikutip oleh psikolog terkemuka dengan istilah: “living healthy” sebagai kondisi mutlak bagi kesehatan yang menyeluruh bagi umat manusia.
Tanpa disadari, umat Hindu telah memiliki sesuatu yang sangat bernilai, sangat mulia, dan kekal-abadi.
Kita telah mempunyai prinsip-prinsip jati diri yang tiada taranya. Sejarah Indonesia telah membuktikan bahwa dengan berpedoman pada prinsip-prinsip ajaran Veda, masyarakat Hindu dapat mencapai mokshartam jagaditaya ca iti dharmah.
Lihatlah Nusantara di zaman keemasan Majapahit dengan rajanya Tribuwana Tunggadewi sampai Hayam Wuruk; Bali di zaman keemasan Kerajaan Gelgel dengan rajanya yang terkenal Dalem Waturenggong sampai Dalem Seganing.
Sejarah pula membuktikan bahwa kerajaan-kerajaan yang pernah berjaya itu memudar dan akhirnya runtuh, karena rakyat dan para pemimpinnya kehilangan jati diri ke-Hindu-an.
Ajaran-ajaran Veda banyak ditinggalkan atau dimanipulasi untuk kepentingan sesaat; para Pendeta dan kelompok rohaniawan tidak mendapat kedudukan yang wajar serta petuah-petuahnya tak dihiraukan.
Penyimpangan-penyimpangan perilaku masyarakat makin lama makin meluas seiring dengan kemajuan iptek dan informasi.
Jaman bergulir menuju kaliyuga, di mana masyarakat mengalami kemajuan yang pesat dalam aspek-aspek material namun semakin miskin dalam aspek spiritual. Masyarakat yang dinamis ini terperangkap pada masalah-masalah keduniawian.
Era globalisasi mempersempit dunia dan menjadikannya tanpa batas, dalam artian informasi apapun yang ada, baik di bidang sosial, politik, ekonomi, dan budaya, segera berpengaruh ke seluruh dunia.
Ciri utama globalisasi adalah perubahan yang sangat cepat dalam segala bentuk tatanan dan nilai-nilai kehidupan, sehingga disimpulkan bahwa barang siapa yang tidak mengikuti perubahan akan tertinggal, bahkan tergilas oleh zaman.
Masyarakat yang hidup dalam dunia global harus memiliki kekuatan untuk melanjutkan kehidupan dan kekuatan untuk berubah.
Ke manakah arah perubahan itu, dan sudahkah diutarakan dalam kitab suci Hindu?
Pandangan Hindu memberikan ruang bagi perubahan-perubahan yang esensial. Kitab Parasara Dharmasastra 1.33 menyebutkan:
YUGE YUGE CA YE DHARMAS TATRA TATRA CA YE DVIJAH, TESAM NINDA NA KARTTAVYA YUGA RUPA HI TE DVIJAH
Aturan dan etika yang berlaku pada setiap zaman selalu berbeda; kaum cendekiawan yang memimpin perubahan masyarakat di suatu zaman tertentu tidak bisa disalahkan karena sesungguhnya dari perubahan itulah suatu zaman terwujud.
Walaupun demikian, perubahan yang dimaksud dalam kitab-kitab suci Hindu, tetap mengingatkan bahwa ajaran Veda tidak membolehkan pelanggaran dharma, dan senantiasa menganjurkan kedamaian, kerukunan hidup bermasyarakat, menghindari ketegangan, dan mencegah konflik.
Meski prinsip-prinsip dharma mengandung kebenaran hakiki sehingga ia dinamakan sanatana dharma, tetapi peraturan-peraturan mengalami perubahan dari masa ke masa karena merupakan produk waktu dan juga akan selalu digantikan oleh waktu.
Oleh karena itu dharma tidak dapat diidentikkan dengan institusi-institusi tertentu. Dharma tetap bertahan karena berakar pada kealamiahan manusia dan akan tetap hidup abadi.
Metoda dharma adalah metoda perubahan eksperimental. Semua institusi adalah eksperimen, bahkan kehidupan ini adalah eksperimen.
Manusia sebagai agent of development tidak dapat mentransfer kebiasaan-kebiasaan dari suatu masa ke masa yang lainnya begitu saja, tanpa mengadakan perubahan dan penyesuaian.
Gagasan-gagasan moral mengenai hubungan-hubungan sosial tidak bersifat absolut, tetapi bersifat relatif terhadap kebutuhan dan kondisi dari jenis masyarakat yang berbeda. Walaupun dharma bersifat kekal, tetapi ia tidak mempunyai isi yang absolut sehingga mampu menembus batas waktu.
Satu-satunya yang kekal dengan moralitas manusia adalah hasrat manusia untuk menjadi lebih baik. Akan tetapi waktu dan kondisi yang menentukan ‘apa yang lebih baik’ dalam setiap situasi.
Bentuk-bentuk tindakan dianggap baik atau buruk pada tahapan peradaban manusia berbeda, bergantung apakah itu meningkatkan atau menghambat kebahagiaan manusia.
Fleksibilitas sosial telah menjadi karakter utama Hindu-Dharma. Maka oleh karena itu mempertahankan sanatana dharma tidaklah dilakukan dengan berdiam diri saja, tetapi dengan menguasai prinsip-prinsip vital dan menerapkannya dalam kehidupan modern.
Suatu bangsa yang maju akan senantiasa mampu memberikan makna bagi pegalaman-pengalamannya di masa lalu. Prinsip-prinsip dharma dalam skala nilai harus dipertahankan di dalam dan melalui tekanan-tekanan pengalaman baru.
Hanya dengan jalan itu akan terbuka kemungkinan untuk mencapai kemajuan sosial yang integral dan seimbang.
Kaum intelektual Hindu harus mampu memperkenalkan perubahan-perubahan, mengelola sedemikian rupa sehingga membuat Hindu-Dharma relevan pada situasi-situasi modern.
Perubahan-perubahan itu adalah dampak masuknya kekuatan-kekuatan baru ke dalam masyarakat antara lain: industrialisasi ke dalam sektor agraris, penghapusan hak istimewa dengan pola kemanfaatan bersama, masuknya orang-orang non Hindu ke dalam masyarakat Hindu, emansipasi wanita versus otoritas lelaki, dan percampuran ras/ suku/ agama melalui perkawinan.
Masyarakat yang maju dalam iklim perubahan akan tercapai bila kondisi ideal yang ingin dicapai lebih baik dari kondisi aktual. Artinya pemikiran-pemikiran cemerlang dari kaum intelektual mampu membuahkan gagasan baru, inovasi dan kreasi, baik dalam iptek maupun dalam tatanan sosial.
Mereka hendaknya selalu berorientasi pada pelayanan masyarakat dengan integritas intelektual.
Berbekal pada pemahaman uraian di atas, jika melihat situasi dan kondisi umat Hindu di Bali dewasa ini, maka wacana “Ajeg-Bali” sangat patut dilontarkan ke tengah-tengah masyarakat yang tak luput dari pengaruh-pengaruh globalisasi baik yang sifatnya positif, maupun yang negatif.
Pada tataran individu, Ajeg-Bali dimaknai sebagai kemampuan manusia Bali untuk memiliki cultural confidence, yaitu keyakinan untuk memegang keteguhan jati diri yang bersifat kreatif meliputi segala aspek, dan tidak hanya terpaku pada hal-hal fisikal semata.
Pada tataran lingkungan budaya, Ajeg-Bali dimaknai sebagai terciptanya ruang hidup budaya Bali yang bersifat inklusif, multi kultur dan selektif terhadap pengaruh-pengaruh luar.
Pada tataran proses kultural, Ajeg-Bali adalah interaksi manusia Bali dengan ruang hidup budaya Bali untuk melahirkan produk-produk atau penanda-penanda budaya baru melalui sebuah proses berdasarkan nilai-nilai moderat, non dikotomis, berbasis pada kearifan lokal serta memiliki kesadaran lingkungan di saat yang tepat.
Dari ketiga tataran di atas, disepakati bahwa Ajeg-Bali bukanlah suatu konsep yang stagnan, melainkan sebuah upaya pembaharuan terus menerus yang dilakukan secara sadar oleh manusia Bali.
Tujuannya jelas untuk menjaga identitas, jati diri, ruang, serta proses budaya Bali. Upaya ini akan bermuara pada peningkatan kekuatan manusia-manusia Bali agar tidak jatuh di bawah penaklukan hegemoni budaya global.
Ajeg-Bali bukanlah sebuah proses involusi, tetapi sebuah proses evolusi yakni pengembangan dan kreasi dari keunggulan-keunggulan local-genius, kearifan, pengetahuan tradisionil yang dilandasi oleh sanatana dharma sehingga terjadi pelestarian yang dinamis.
Dengan demikian Bali yang ajeg akan muncul sebagai sebuah keunggulan budaya yang sanggup bertahan dan bersaing dalam dunia global.
Daftar Pustaka:
  1. Apakah saya orang Hindu? (Am I a Hindu?) Ed.Visvanathan, Penerjemah N.P.Putera dan Sang Ayu Putu Renny, PT Pustaka Manik Geni, Denpasar, 2000
  2. Religion and Society, S. Radhakrishnan, Penerjemah Ida Bagus Gde Yudha Triguna, PT Mahabhakti, Denpasar, 2003
  3. “Ajeg-Bali” Sebuah Cita-Cita, ABG Satria Narada, Penerbit Bali Post, Denpasar, 2004
  4. Parasara Dharmasastra (Weda Smerti untuk Kaliyuga), I Wayan Maswinara, Penerbit Paramita, Surabaya, 1999
  5. Bagaimana Menjadi Hindu (How to Become Hindu), Satguru Sivaya Subramuniyaswami, Penerjemah Ngakan Made Madrasuta, PT Percetakan Penebar Swadaya, 2005
  6. Fruit of Karma, Prof. Dr. Suchitra Onkom, Asia Books Co., Ltd, Bangkok, Thailand, 1999
  7. Hinduism, the Greatest Religion in the World (Hindu Agama Terbesar di Dunia), Stephen Knapp,Yadnavalkya Dasa, David Frawley, Satguru Sivaya Subramuniyaswami, Klaus K. Klostermaier. Editor Ngakan Made Madrasuta, PT Percetakan Penebar Swadaya, 2004

Tidak ada komentar:

Posting Komentar