Jumat, 09 Agustus 2013

Siwa Loka Tujuan Hidup



Siwa Loka Tujuan Hidup Beragama Masyarakat Umat Hindu Di Bali

Ida Bhatara Dalem.

Sastra agama Hindu di Bali sangat banyak diungkapkan mengenai ajaran Siwa. Dalam bahasa yang sederhana dikatakan, Pura Dalem adalah linggih dari Ida Bhatara Dalem sebagai dewa paling utama. Salah satu sastra agama yang menyebutkan hal demikian adalah Lontar Tutur Gong Besi.

Arti Kata Lontar Tutur Gong Besi : Lontar adalah daun pohon lontar, Tutur adalah petunjuk, Gong Besi adalah nama dari sebuah kitab suci Agama Hindu .
Gong Besi termasuk kelompok naskah yang memuat ajaran yang Siwaistik. Di dalam naskah ini, disebutkan bahwa Bhatara Dalem patut dipuja dengan sepenuh hati, penuh rasa tulus iklas. Dalam setiap pemujaannya, Ida Bhatara Dalem dapat dihadirkan (utpeti puja), distanakan (stiti puja) dan dikembalikan (pralina puja). Persembahan bhakti yang utama kehadapan Ida Bhatara Dalem menyebabkan orang mendapatkan kemuliaan lahir dan batin, dan pada akhirnya akan mencapai surga loka atau siwa loka.

Arti Kata Surga Loka atau Siwa Loka : Surga Loka artinya kebahagiaan lahir batin pada tempat yang langgeng atau abadi, Siwa Loka artinya Istana atau Stana Dewa Siwa sebagai manifestasi dari Tuhan, Surga Loka atau Siwa Loka artinya mendapat kebahagiaan lahir batin pada tempat yang langgeng atau abadi disisi Tuhan.

Dalam hubungannya dengan sembah bhakti (pemujaan) kehadapan beliau, sebaiknya diketahui nama atau julukan beliau. Karena kemahakuasaan beliau sebagai pencipta, pemelihara dan pelebur, beliau disebut dengan banyak nama, sesuai dengan fungsi dan tempat beliau berstana.

Ketika beliau yaitu Ida Bhatara Dalem berstana di Pura Puseh, maka Sanghyang Triyodasa Sakti nama beliau. Ketika berstana di Pura Desa, maka Sanghyang Tri Upasedhana sebutan beliau. Di Pura Bale Agung, beliau dipuja sebagai Sanghyang Bhagawati. Di perempatan jalan raya beliau dipuja sebagai Sanghyang Catur Bhuwana. Ketika beliau berstana di pertigaan jalan raya disebut dengan Sanghyang Sapu Jagat.

Ida Bhatara Dalem ketika berstana di kuburan atau setra agung beliau dipuja dengan nama Bethara Dhurga. Ketika kemudian beliau berstana di tunon atau pemuwunan (tempat pembakaran mayat), maka beliau dipuja sebagai Sanghyang Bherawi. Ketika beliau dipuja di Pura Pengulun Setra, maka beliau dinamakan Sanghyang Mrajapati. Di laut, Ida Bhatara Dalem dipuja dengan sebutan Sangyang Mutering Bhuwana. Pergi dari laut kemudian menuju langit, beliau dapat dipuja dengan sebutan Bhuwana Taskarapati. Taskara adalah surya atau matahari, sedangkan pati adalah Wulan atau bulan. Kemudian ketika beliau berstana di Gunung Agung dinamakan beliau Sanghyang Giri Putri. Giri adalah gunung, putri adalah putra atau anak, yakni putra dari Bhatara Guru yang berstana di Sanggar Penataran, Panti Parahyangan semuanya, dan berkuasa pada seluruh parahyangan. Pergi dari Gunung Agung kemudian berstana beliau di Gunung Lebah, maka sebutan beliau adalah Dewi Danu. Ketika beliau berstana di Panca Tirtha atau pancuran air, maka beliau bernama Sanghyang Gayatri. Dari pancuran, kemudian menuju ke jurang atau aliran sungai, maka beliau kemudian dipuja dengan sebutan Betari Gangga.


Bhatara Dalem ketika berstana disawah sebagai pengayom para petani dan semua yang ada disawah, maka beliau dipuja dengan sebutan sebagai Dewi Uma. Di jineng atau lumbung padi beliau dipuja dengan sebutan Betari Sri. Kemudian didalam bejana atau tempat beras (pulu), Ida Bhatara Dalem dipuja dengan Sanghyang Pawitra Saraswati. Didalam periuk tempat nasi atau makanan, maka beliau disebut Sanghyang Tri Merta.

Kemudian di Sanggar Kemimitan (Kemulan) yaitu tempat suci keluarga, Ida Bhatara Dalem dipuja sebagai Sanghyang Aku Catur Bhoga. Aku berwujud laki, perempuan, dan banci. Menjadilah aku manusia seorang, bernama Aku Sanghyang Tuduh atau Sanghyang Tunggal, di Sanggar perhyangan stana beliau. Disebut pula beliau dengan Sanghyang Atma. Pada Kemulan Kanan adalah ayah yakni Sang Pratma (Paratma). Pada Kemulan Kiri adalah Ibu, Sang Siwatma. Pada Kemulan Tengah adalah dirinya atau raganya yakni roh suci yang menjadi ibu dan ayah, nantinya kembali pulang ke Dalem menjadi Sanghyang Tunggal.

Ida Bahtara Dalem adalah Sanghyang Paramawisesa, karena semua rasa baik, rasa sakit, rasa sehat, rasa lapar dan sebagainya adalah beliau sumbernya. Beliau adalah asal dari kehidupan, beliau memelihara alam semesta ini, dan beliau adalah penguasa kematian, dalam air, cahaya, udara dan akasa, tidak ada yang dapat melebihi beliau. Sehingga beliau disebut dengan Sanghyang Pamutering Jagat.

Ida Bhatara Dalem adalah Bhatara Guru atau Dewa Siwa itu sendiri sebagai sebutan Ida Sanghayng Widhi dengan segala manifestasi beliau. Dengan segala kemahakuasaan yang mencakup masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Sebagai pemuja atau penyembah yang taat akan menyebut beliau dengan banyak nama sesuai dengan fungsi dan juga dimana beliau dipuja. Demikian disebutkan dalam Tutur Gong Besi.

Uaiva Siddhanta

Siwaisme yang berkembang di India, merupakan asal mula dari agama Hindu. Berawal dari kelahiran dan perkembangan paham Siwaisme di daerah Jammu dan Kashmir, di sekitar pegunungan Himalaya (Parwata Kailasa). Di wilayah Jammu dan Kashmir, terdapat lembah sungai Sindhu. Di lembah inilah cikal bakal kehadiran paham Siwaisme pertama kali di India, dan berkembang pesat ke seluruh India, dan wilayah diluar India, salah satunya adalah Indonesia.

Arti kata Uaiva Siddhanta :

- Kata Uaiva disini bermakna paham Siva,
- Sedangkan kata Siddhanta bermakna ajaran agama.
- Jadi Uaiva Siddhanta adalah paham yang berisikan ajaran – ajaran dari Tuhan Siva.

Jadi dapat dikatakan bahwa (paksha atau Sampradaya) itu adalah paham yang berkembang pesat di daerah India selatan. Begitulah perkembangan Siwaisme sebagai pembangkit spiritual di negara asli asal agama Hindu. Adapun inti sari dari paham Uaiva Siddhanta adalah Uaiva sebagai realitas tertinggi, jiva atau roh pribadi adalah intisari yang sama dengan Uaiva, walaupun tidak identik. Juga ada Pati (Tuhan), pacea (pengikat), serta beberapa ajaran yang tersurat dalam tattva sebagai prinsip dalam kesemestaan yang realita. Siwaisme dalam paksha Uaiva Siddhanta sangat taat dengan inti ajaran Wedanta.

Selanjutnya bagaimana paham Uaiva di Indonesia, dan di Bali khususnya? Siwaisme yang eksis di Bali adalah bersumber dari salah satu sastra Hindu bernama Buana Kosa. Buana Kosa merupakan naskah tradisional Bali khususnya salah satu sumber pembangkit spiritual umat Hindu di Bali khususnya dan Indonesia umumnya. Karena Buana Kosa merupakan intisari ajaran Weda yang isinya kaya dengan Siwaisme, terutama Uaiva Siddhanta yang berkembang pesat di India selatan. Buana Kosa dikatakan sebagai sumber suci pembangkit spiritual umat Hindu di Bali untuk umat Hindu secara umum maupun di kalangan orang suci (pandita atau sulinggih). Menjadi salah satu sumber suci bagi pemeluk Hindu di Bali, sekaligus cikal bakal dari sumber ajaran Hindu yang eksis sampai kini di Indonesia.

Kamis, 08 Agustus 2013

Tradisi / Dresta

Dresta

Tata laksana kehidupan di desa seperti pepatah kuno warisan leluhur:
SAGILIK-SAGULUK SALUNGLUNG SABAYANTAKA, PARAS-PAROS SARPANAYA, SALING ASAH, SALING ASIH, SALING ASUH
Artinya: bersatu-padu, saling menghargai pendapat orang lain, dan saling mengingatkan, saling menyayangi, saling tolong-menolong.
Bagus memang, jika maknanya diarahkan pada kehidupan bersama yang bernafaskan kegotong-royongan, bagaikan lidi yang disatukan, diikat, sehingga mempunyai kekuatan yang tak mudah dipatahkan, dibanding lidi satu persatu yang rapuh.
Namun pola kehidupan pedesaan seperti itu banyak tergantung pada pemimpin-pemimpin di desa, mau diarahkan bagi kepentingan umum, atau untuk kepentingan pribadi, atau hanya untuk suatu arogansi saja.
Pola itu tertanam mula-mula sebagai “dresta”, yakni tradisi adat yang berlaku sejak dahulu atau disebut kuna dresta, yang berlaku bagi sekelompok orang (loka dresta), dan di suatu tempat tertentu (desa dresta).
Ketika desa-desa diwajibkan mempunyai awig-awig (peraturan tata-tertib), maka dresta-dresta itu menjadi tertulis, disahkan oleh paruman desa, kemudian disakralkan dengan upacara pasupati.
Banyak instansi pemerintah yang terlibat dalam pengesahan awig-awig ini, mulai dari Kepala Desa, Camat, sampai Bupati. Awig-awig ini mengikat penduduk desa bagaikan undang-undang, lengkap dengan sanksi-sanksi atas pelanggarannya.
Hukuman bagi para pelanggar, tidak main-main, mulai dari pengenaan denda berupa sejumlah uang, kewajiban melaksanakan upacara agama tertentu sebagai penebusan pelanggaran adat, dan yang paling mengerikan adalah sanksi yang disebut “kesepekang”, artinya kira-kira: di-”persona non-grata”.
Dalam kondisi hukuman kesepekang ini, si terhukum dikeluarkan dari paguyuban adat, dilarang menggunakan fasilitas adat, tidak boleh diajak berbicara oleh sesama warga desa, dan jika dia menempati tanah adat, harus segera meninggalkannya.
Larangan menggunakan fasilitas milik adat, adalah termasuk tidak boleh bersembahyang di Pura Desa, Pura Puseh, Pura Dalem, dan Pura-Pura lainnya di desa itu, dan juga tidak boleh menguburkan mayat di pekuburan desa.
Dengan senjata kesepekang, pernah seorang klian desa menghakimi warganya karena ia tidak nunas tirta di sanggah pamerajan leluhur si klian desa, ketika warga itu melakukan upacara agama. Keanehan ini terungkap setelah membaca prasasti di-abad ke 12, yang dipakai dasar klian desa menetapkan hukuman.
Prasasti menyatakan bahwa leluhur si klian desa dari sejak awal terbentuknya desa memang sudah ditetapkan sebagai pemimpin di desa itu, baik dalam bidang pemerintahan, adat, maupun di bidang keagamaan/ ritual.
Kepemimpinan ini berlanjut terus secara turun-temurun. Penduduk desa itu harus tunduk dan menyembah roh leluhur si klian yang distanakan di sanggah pamerajan.
Tragedi lain adalah hukuman adat yang menimpa pasangan suami-istri yang melahirkan anak kembar laki-perempuan yang di Bali disebut kembar buncing. Kata lain disebut sebagai manak-salah artinya kelahiran yang dilarang.
Bila ini terjadi di lingkungan rakyat biasa, maka pasutri bersama kedua anaknya harus diungsikan ke pinggir desa, dekat sungai, atau dekat kuburan, dibuatkan pondok darurat dan selama tiga bulan mereka harus hidup di tempat yang tidak sehat.
Kedua anak yang malang itu memang diharapkan mati, entah kedua-duanya atau salah seorang saja, karena hanya bayi yang punya ketahanan fisik kuat saja bisa bertahan dari serangan radang paru-paru atau penyakit infeksi lainnya pada kondisi lingkungan yang lembab, dingin di malam hari, panas di siang hari, tanpa perawatan kesehatan, sebab pasutri dan kedua anaknya juga dilarang keluar dari pengungsiannya itu, termasuk pergi berobat ke Puskesmas.
Lain halnya bila kembar buncing lahir di Puri, kedua anak dijaga dengan cermat dan diharapkan kemudian hari bisa dinikahkan, karena katanya sudah membawa pasangan sebagai suami-istri sejak lahir ke dunia.
Dresta-dresta yang “aneh” seperti ini memang sudah lama dihapuskan oleh Pemerintah di Bali, misalnya masalah kembar buncing sudah dihapuskan sejak tahun 1951, dan tidak lagi tercantum di awig-awig desa adat.
Tetapi tradisi kuno seperti itu di suatu desa di Buleleng masih dipertahankan sampai sekarang, dengan dalih: “pekayunan Ida Bhatara ring Pura Desa” artinya: kehendak Tuhan sebagai Brahma yang berstana di Pura Desa memang seperti itu, yakni si kembar buncing beserta kedua orang tuanya harus dihukum.
Penduduk desa yang terbelenggu oleh kebodohan dan dresta yang tak masuk akal manut-manut saja, tak berdaya dan juga takut pada kemarahan Tuhan.
Tuhan/ Hyang Widhi bisa marah? “Inggih Ratu, sapunika kocap, presida ngawiyang biyuta, merana lan kebrebehan lianan” (benar Pandita, begitu katanya bisa menyebabkan kerusuhan, wabah dan bencana lain), jawab pasutri itu dengan muka kecut.
Kesepekang atau sanksi adat yang keras lainnya menjadi kuat bila disertai oleh dresta yang satu ini, yang disebut: “suryak siu”. Ini adalah bentuk kesepakatan secara aklamasi dari penduduk desa. Suryak siu lebih menyerupai kebulatan tekad membabi-buta, tanpa pikir panjang, dan biasanya mengikuti suara atau kata si pemimpin yang ditakuti.
Dresta dan awig-awig desa adat hanya berlaku bagi penduduk asli desa bersangkutan yang beragama Hindu. Umumnya mereka disebut sebagai krama desa. Penduduk lain di desa itu yang berasal dari luar daerah dan juga yang tidak beragama Hindu, disebut sebagai krama tamu.
Krama tamu tidak perlu mentaati awig-awig namun juga tidak mendapat fasilitas apapun dari desa adat. Warga krama tamu dewasa ini termasuk pula penghuni kompleks perumahan yang dikembangkan oleh developer.
Selain itu kaum pendatang haram, yakni pekerja sektor non formal dari Jawa, Lombok, dan daerah lain yang mencari penghidupan di Bali tanpa kelengkapan identitas, dapat dengan tenang tinggal di desa.
Mereka menyewa rumah-rumah penduduk atau membangun bedeng-bedeng liar, bekerja sebagai pelayan kafe, penjual kain, penggali got, buruh bangunan, pedagang kaki lima, pelacur, dan ada pula yang kerja serabutan.
Klian desa tidak bisa mengambil tindakan pencegahan, karena mereka terpaku pada ketentuan bahwa awig-awig desa adat hanya berlaku bagi krama desa. Pejabat lain di desa yakni Kepala Desa atau Lurah, juga tidak mau mengambil langkah-langkah yang positif, karena wilayah itu “dikuasai” oleh desa adat.
Sering terjadi perselisihan menyangkut wewenang atau kekuasaan atas suatu wilayah desa. Pada setiap kasus selalu dipikirkan lebih dahulu, apakah kasus itu boleh ditangani oleh klian adat, ataukah boleh ditangani oleh kepala desa. Yang paling sering terjadi, adalah sama-sama diam, tidak bereaksi apa-apa karena takut menimbulkan konflik kepentingan.
Dengan demikian, krama desa bisa dikatakan tidak mendapat perlakuan yang adil di tanah kelahirannya sendiri. Ketakutan krama desa pada hukuman kesepekang, sama sekali tidak ada pada krama tamu.
Misalkan seorang krama tamu meninggal dunia, keluarganya dengan mudah mendapat ijin menguburkan jenazah di pekuburan Islam atau Kristen. Tetapi bila seorang krama desa kena kesepekang, maka di pekuburan Hindu manapun ia tidak bisa menguburkan mayat.
Ini salah satu sebab umat Hindu beralih ke agama lain, karena ingin lepas dari “cengkraman” beberapa pasal awig-awig desa adat yang keras dan tak masuk akal.
Struktur organisasi desa pakraman di Bali beberapa tahun yang lampau telah dibenahi dengan membentuk Majelis Desa Pakraman baik di wilayah Kecamatan, Kabupaten, maupun Propinsi. Satu hal yang perlu ditanyakan, dengan pembentukan struktur yang bagus ini, sudahkah Desa Pakraman berperan dalam melindungi Bali dan penduduk Bali dalam arti luas?

Ulasan Singkat Mengenai Dresta

Ada empat jenis Dresta, yaitu: Kuna Dresta, Desa Dresta, Loka Dresta, dan Sastra Dresta. Arti sebenarnya dari Dresta yang ditulis dalam kamus Bahasa Kawi Prof. Drs. S. Wojowasito: drsta = terlihat, kelihatan, sudah dilihat.
Kuna Dresta adalah kebiasaan-kebiasaan dalam tatanan adat dan ritual yang diyakini dan sudah diwarisi sejak dahulu.
Desa Dresta adalah kebiasaan-kebiasaan dalam tatanan adat dan ritual yang diyakini dan berlaku di suatu wilayah tertentu.
Loka Dresta adalah kebiasaan-kebiasaan dalam tatanan adat dan ritual yang diyakini oleh sekelompok orang.
Sastra Dresta adalah kebiasaan-kebiasaan dalam tatanan adat dan ritual yang diyakini berdasarkan kebenaran Weda, Wedangga, dan Upaweda.
Kuna Dresta, Desa Dresta, dan Loka Dresta adalah kelompok Dresta yang tidak berdasar Weda, Wedangga dan Upaweda, oleh karena itu ketiga Dresta itu terkena pengaruh: desa, kala, patra; artinya bisa tidak kekal atau dapat berubah, dan tidak universal.
Sastra Dresta berdasar Weda, Wedangga dan Upaweda, oleh karena itu Sastra Dresta tidak terkena pengaruh: desa, kala, patra; artinya kekal atau tidak dapat berubah, dan universal.
Kuna Dresta, Desa Dresta, dan Loka Dresta lahir dari perjalanan sejarah, sedangkan Sastra Dresta lahir dari wahyu Ida Sanghyang Widhi Wasa dan anumana pramana para Maha Rsi.
Sang Sadaka (Pandita) dan Pemangku dalam swadarma-nya sebagai pengabdi utama Ida Sanghyang Widhi Wasa senantiasa berpedoman pada Weda, Wedangga, dan Upaweda. Oleh karena itu tidak bijaksana bila berpedoman pada Kuna Dresta, Desa Dresta dan Loka Dresta.
SUMBER: PANGGILAN WEDA, DRS. WAYAN SADYA, YAYASAN DHARMA SARATHI, JAKARTA 1992

Rabu, 07 Agustus 2013

Bank Khusus Petani dan Nelayan



Gerindra Janjikan Bank Khusus Petani dan Nelayan
JakartaPartai Gerindra menjanjikan akan mendirikan bank khusus petani dan nelayan jika unggul dalam Pemilu 2014. Bank tersebut akan memberikan kredit yang diprioritaskan bagi petani dan nelayan.
Wakil Sekjen DPP Partai Gerindra, Aryo Djojohadikusumo, menjelaskan, program bank khusus tani dan nelayan dapat dilihat dalam enam program aksi Gerindra.
“Kami akan prioritaskan kredit di bank khusus tani dan nelayan. Banyak warga disini nelayan dan kerja di pelelangan ikan,” kata Aryo dalam keterangan tertulisnya, Rabu (17/7).
Mengenai berapa jumlah kredit yang bisa didapatkan nelayan dan petani, hingga saat ini belum ada dipatokannya. Masalah tersebut nantinya akan tergantung pada berapa besar yang dibutuhkan nelayan maupun petani.
“Belum dipatok. Ini tergantung seberapa rakyat percaya pada kami tahun depan. Yang pasti petani dan nelayan itu butuh berapa, harus dibantu,” kata caleg DPR RI Dapil III DKI Jakarta itu.
Namun demikian, Aryo memastikan kredit bunga bank petani dan nelayan akan sangat rendah. Ditekankan, realisasi bank khusus petani dan nelayan dengan kredit ringan akan bergulir jika Gerindra diberikan kepercayaan memimpin Indonesia.
Sebelumnya, Ketua Dewan Pembina Gerindra Prabowo Subianto Sambil menunggu acara berbuka, sempat berpidato di depan ratusan warga masyarakat nelayan Muara Angke, Jakarta Utara, Selasa (16/7).
Dalam kesempatan tersebut, warga sempat mengajukan pertanyaan seputar bantuan yang bisa diberikan.
“Tidak usah menunggu Pemilu 2014, kita akan membantu apapun yang dibutuhkan Muara Angke,” ucap Prabowo.

Senin, 05 Agustus 2013

Otonomi Khusus untuk Bali


Hashim Djojohadikusumo:
Denpasar (Bali Post) - 05 April 2009
Jika Partai Gerindra menang, tidak akan ada lagi aturan-aturan semacam UU Pornografi dan BHP yang akan lolos. Hal itu diungkapkan Ketut Bagiada, S.H., Wakil Sekjen DPP Partai Gerindra yang sekaligus caleg DPR-RI nomor 4 dari partai berlambang kepala burung garuda di sela-sela kemeriahan kampanye, Sabtu (4/4) kemarin, di Lapangan Niti Praja, Lumintang, Denpasar. Sementara itu, Dewan Pembina Partai Gerindra, Hashim Djojohadikusumo menjanjikan otonomi khusus buat Bali.

Dengan delapan program aksi yang dicanangkan, ungkap Bagiada, Partai Gerindra akan melakukan perubahan-perubahan mendasar pada tatanan dan sistem pemerintahan di Indonesia. 'Seperti yang sering diungkapkan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, sistem yang kini dijalankan di Indonesia sangat tidak memihak kepada petani, nelayan, pedagang kecil, buruh, dan sebagian besar masyarakat Indonesia lainnya,' ujar Bagiada.

Dalam kapasitasnya sebagai calon anggota DPR-RI, Bagiada yang pernah menghuni Senayan pada periode 1999-2004 itu mengatakan Bali juga membutuhkan berbagai pembenahan sistem yang lebih berpihak pada kelompok masyarakat bawah dan berorientasi pada kebudayaan khas masyarakat Bali. 'Tanpa kita sadari, Bali telah terseret jauh dari akar budayanya sendiri dan cenderung merasa bangga dengan hal-hal yang bersifat artifisial. Kita bangga dengan tempelan-tempelan yang berbau Bali, tetapi kita cederung menjauh dari roh dan esensinya. Kita senang dengan ornamen-ornamen pada gedung-gedung yang baru dibangun seakan itulah bentuk arsitektur Bali. Tapi kita menjauh dari esensi Tri Hita Karana yang menjadi dasar arsitektur Bali. Begitu juga dalam penanganan lingkungan, pengembangan karakter masyarakat, dan sebagainya,' tutur lelaki kelahiran Desa Gitgit, Buleleng itu.

Di bidang ekonomi, Bagiada menyoroti persoalan klasik di Bali, yakni pemerataan pendapatan masyarakat. 'Sungguh menyedihkan, ternyata sebagian saudara-saudara kita di Buleleng, Karangasem, Nusa Penida, dan di beberapa kawasan lain harus menanggung keadaan serba kekurangan, sementara di Kuta, Sanur, Nusa Dua, Denpasar, Ubud, dan di beberapa tempat lainnya lagi, kita menyaksikan kemakmuran begitu melimpah. Bali adalah satu masyarakat, satu budaya, satu bahasa, maka sangat tidak layak jika kita membiarkan saja saudara-saudara kita itu tenggelam dalam kemiskinan selama puluhan tahun. Semua ini adalah soal sistem dan keinginan bersama untuk mengubah sistem itu,' tandas Bagiada.

Jurkam Gerindra lainnya, Permadi, S.H., memuji Prabowo sebagai Soekarno muda. 'Apakah saudara-saudara masih mencintai Bung Karno? Jika masih mencintainya, maka dengan ini, saya sebagai penyambung lidah Bung Karno menyatakan Bung Prabowo adalah Soekarno muda,' ujar anggota DPR-RI yang menyatakan keluar dari PDI-P dan bergabung dengan Gerindra.

Menurutnya, Partai Gerindra patut disebut sebagai penjelmaan Gatotkaca. 'Dalam umur setahun, Gatotkaca dimasukkan Kawah Candradimuka untuk mendapatkan gemblengan. Gerindra pun demikian. Dalam usia setahun telah berhasil menjelma menjadi bayi ajaib,' ungkap Permadi. (r/*)

Dana Punia

Dana Punia

Saya ingin menjelaskan tentang Dana Punia, namun jika ada yang sudah memahami tentang hal ini saya minta maaf, ibarat “nasikin segarane” (memberi garam ke laut).
1. Bhakti Marga, adalah salah satu jalan menuju Hyang Widhi dengan memuja-Nya secara tulus ikhlas. Mereka yang melakukan dengan baik disebut Bhakta.
Bhakti ada dua kelompok besar yaitu: Para Bhakti dan Apara Bhakti. Para artinya utama, sehingga Para Bhakti disebut sebagai cara memuja Hyang Widhi yang utama (nomor satu), sedangkan Apara Bhakti adalah cara memuja Hyang Widhi yang tidak utama (nomor dua). Para Bhakti sulit dilaksanakan tanpa Apara Bhakti, demikian sebaliknya.
2. Yadnya adalah pengorbanan suci yang tulus ikhlas. Yadnya dibagi dalam empat kelompok besar, yaitu:
1 Widhi Yadnya Widhi Yadnya adalah yadnya yang dilaksanakan karena adanya Tri Rnam (tiga jenis hutang manusia atas kehidupannya), yaitu:
  1. Dewa Rnam — Hutang kepada Hyang Widhi karena atman bisa bereinkarnasi menjadi manusia — Dewa Yadnya dan Bhuta Yadnya adalah yadnya yang dilaksanakan dalam kaitan Dewa Rnam
  2. Rsi Rnam– Hutang kepada Maha Rsi yang menerima wahyu Weda dan para Rsi / Pendeta yang menyebarkan Weda / Agama Hindu sehingga kita menjadi manusia yang berilmu — Rsi Yadnya adalah yadnya yang dilaksanakan dalam kaitan Rsi Rnam
  3. Pitra Rnam — Hutang kepada leluhur / ayah-ibu karena kita dilahirkan dan dipelihara — Pitra Yadnya dan Manusa Yadnya adalah yadnya yang dilaksanakan dalam kaitan Pitra Rnam
Dalam bahasa sehari-hari, Widhi Yadnya disebut sebagai Panca Yadnya.
Apara Bhakti
2 Drwya Yadnya Drwya yadnya adalah ber-dana punia Para Bhakti
3 Jnana Yadnya Jnana Yadnya adalah belajar-mengajar (misalnya ber- dharmawacana dan dharmatula)
4 Tapa Yadnya Tapa yadnya adalah pengendalian diri agar senantiasa hidup di jalur dharma
3. Widhi Yadnya atau Panca Yadnya tergolong APARA BHAKTI, sedangkan Drwya Yadnya, Janana Yadnya dan Tapa Yadnya termasuk kriteria PARA BHAKTI.
Drwya Yadnya adalah ber-dana punia, Jnana Yadnya adalah belajar-mengajar (misalnya ber-dharmacacana dan dharmatula), Tapa Yadnya adalah pengendalian diri agar senantiasa hidup di jalur dharma.
4. Khusus tentang Drwya Yadnya (berdana punia) disebut sebagai ajaran Dana Paramita yaitu ajaran yang membimbing manusia menuju kesempurnaan lahir-bathin yang mengantarkannya ke gerbang Sorga tanpa penderitaan. Sumber sastra mengenai Dana Paramita adalah:
  1. Manawa Dharmasastra IV.32,226-235, VII 84-85
  2. Sarasamuscaya 169-172, 174-175
  3. Sanghyang Kamahayanikan 56-58Dalam filsafat Wairagya dikatakan bahwa Drwya Yadnya merupakan salah satu cara untuk melepaskan keterikatan manusia pada benda-benda keduniawian yaitu benda-benda/ materi yang hanya memuaskan nafsu indria.
5. Tradisi beragama (Hindu) di Bali lebih banyak menekankan pada ritual (upacara Panca Yadnya) padahal itu tergolong APARA BHAKTI. Sedikit yang memahami/ menyadari penting dan utamanya PARA BHAKTI, yaitu: Drwya Yadnya, Jnana Yadnya, dan Tapa Yadnya.
Begitulah sering ditemukan orang yang rajin berupacara Yadnya, tetapi kayika (perbuatannya), wacika (perkataannya) dan manacika (pikirannya) menyimpang dari inti ajaran Agama Hindu. Mereka mengira bahwa jika sudah berupacara Yadnya mereka sudah melaksanakan ajaran Agama, padahal belum sempurna.
Tidak sedikit Pandita (Sulinggih) di Bali memposisikan dirinya hanya sebagai “Pemuput Upacara” Ini tentu merugikan eksistensi Hindu di Bali.
Kenapa para Sulinggih tidak meniru apa yang dilakukan oleh Para Pendeta di zaman dahulu, misalnya Mpu Kuturan, yang berhasil menyatukan berbagai sekte Hindu dalam konsep Trimurti, serta mengembangkannya ke pelosok-pelosok pedesaan sehingga sekarang kita mengenal adanya Tri Kahyangan.
Sekian dahulu uraian singkat saya, kurang lebihnya mohon dimaafkan.

Minggu, 04 Agustus 2013

Belog Polos

Belog Polos

Sifat perilaku kebanyakan orang Bali yang tidak suka menonjolkan diri, menunjukkan kelebihan, apalagi bertingkah sombong, mungkin didasari kesadaran penuh pada hakekat ke-Tuhan-an yang maha kuasa di mana ada unsur keyakinan bahwa apapun yang dimiliki dan diketahui umat manusia sangat tidak berarti jika dibandingkan dengan-Nya.
Tetua di jaman lampau suka menasihati anak-anak agar selalu bersikap, berkata dan berpikir sederhana, tidak mengada-ada, tersirat dari lagu anak-anak:
“de ngaden awak bisa, ndepang anake ngadanin, gaginane bukah nyampat, anak sai tumbuh luhu, ilang luhu ebuk katah, wiadin ririh liu enu pelajahin”
Artinya: … “jangan mengira dirimu serba bisa, biarkan orang lain yang menilai, kerja bagaikan menyapu, karena selalu ada sampah, hilang sampah masih ada debu yang banyak, andaikan pintar masih banyak yang perlu dipelajari”.
Perilaku sederhana seperti itu pula mendorong mereka untuk lebih banyak mengalah daripada gigih berkompetisi. Selanjutnya menunjukkan sikap toleransi tinggi, selalu memikirkan kepentingan dan perasaan orang lain. Ingin hidup damai, tenang, dan seia sekata dalam paguyuban kemasyarakatan.
Inti sari filsafat dalam itihasa Mahabharata dan Ramayana yang sering diungkapkan dalam kidung, kekawin, dan pementasan wayang menanamkan keyakinan bahwa sesuatu yang adharma pasti akan kalah dan hancur, walaupun pada mulanya tampak akan berjaya. Sebaliknya dharma pasti akan menang walaupun awalnya tercabik-cabik.
Dewa-Dewa pun memihak pada dharma, sedangkan Raksasa berada di seberang. Manusia yang memihak Dewa akan menuju sorga, sedangkan yang suka Raksasa akan menuju neraka. Selain itu kisah-kisah semacam Jayaprana, ceritra I Bawang – I Kesuna, I Siap Badeng, Cerukcuk Punyah, dan lain-lain, semuanya menghargai dan membela kebenaran.
Orang Bali umumnya sabar, bisa mengendalikan diri. Hal-hal yang mengecewakan atau tidak memuaskan dipendam dalam hati. Sepanjang sejarah hal ini telah terbukti.
Dahulu, pada abad ke-17 banyak pekerja asal Bali dijualbelikan sebagai budak oleh raja-raja mereka. Ada yang terpaksa meninggalkan keluarga, anak dan istri selama-lamanya karena tunduk pada titah raja dijual sebagai budak ke luar Bali.
Itulah asal mula adanya kampung Bali di Jakarta, dan Desa Kebalen di Jawa, sebagai sentra pemukiman budak asal Bali dahulu kala. Kejadian di zaman sekarang, tengoklah “Bom Kuta – Bali” yang demikian hebat membawa korban jiwa dan memporak-porandakan turisme yang menjadi andalan penghasilan penduduk.
Di Koran kemudian tersiar berita bahwa para pelaku ledakan bom yang divonis mati, belum juga dieksekusi, bahkan tujuh belas Agustus yang lalu para pelaku mendapat remisi. Orang Bali tetap sabar dan menyerahkan sepenuhnya kasus itu pada pemerintah.
Di bidang pendapatan daerah, imbalan bantuan pemerintah pusat kepada Bali tidak sesuai dengan sumbangan pendapatan devisa baik berupa pendapatan bisnis maupun pajak. Berbagai ketidakadilan nampak dengan jelas di pelupuk mata.
Bali yang kaya raya dengan beragam seni budaya, yang menarik kunjungan jutaan wisman tetap saja miskin karena keuntungan dari industri pariwisata yang dinikmati pemerintah pusat tidak dibagikan secara proporsional ke daerah.
Sarana dan prasarana masih ketinggalan jaman dibanding dengan kota-kota di Jawa. Orang Bali masih tetap sulit mendapat lapangan kerja karena investasi tidak diarahkan ke Bali.
“Belog – polos” ungkapan yang sekarang terasa kurang enak, tidak mau diterima oleh kalangan muda-mudi. Mereka mungkin mengira kata “belog” = bodoh, dan “polos” = lugu. Sebenarnya tidak demikian.
Belog – polos mempunyai satu pengertian tentang pola pikir, ucapan, dan perilaku yang sederhana, jujur, tidak mementingkan diri sendiri, dan menjunjung nilai-nilai spiritual utama seperti yang diungkapkan di atas.
Walaupun demikian, kesabaran, dan kekuatan memendam rasa tidak puas dan ketidakadilan pada orang-orang Bali ternyata ada batasnya. Sejarah pula mencatat pemberontakan Untung Suropati, pemuda Bali yang menjadi budak di Pasuruan. Perang Puputan Jagaraga, Klungkung, dan Badung. Kepahlawanan Ngurah Rai, Wisnu, Gempol, Kajeng, dan kawan-kawan mereka melawan penjajah.
Penumpasan PKI/G-30-S melawan kebathilan, dan banyak lagi kasus-kasus lainnya yang tidak mencuat ke permukaan, menyangkut perlawanan pada hal-hal yang beraroma adharma.
Bagaikan aliran sungai yang terbendung, suatu ketika bendungnya jebol, banjir dahsyat meluap, dan membinasakan sekitarnya. Orang Bali bahkan tidak takut mengorbankan nyawa bila tekad mereka sudah menggumpal.
Kini, kaum cendekiawan Bali mulai berpikir dan berbicara soal Bali di masa depan. Tetapkah Hindu dalam artian agama dan budayanya masih bisa dipertahankan? Apa pula upaya kita melindungi dan mengembangkan ke-Hindu-an? Bagaimana nasib anak-cucu kita kemudian? Masihkah kesucian tanah Bali ajeg?
Diskusi pun ramai, di Kampus, di Balai Banjar, di Geria para Sulinggih, di Pura, di pertemuan paguyuban warga/ soroh, di pemerintahan, di radio/ televisi, di koran, di mana saja orang bertemu bahkan di dunia maya seperti website Hindu-Dharma Net, Babad Bali, Hindu Reform, dll.
Selain itu organisasi-organisasi ke-Hinduan muncul bak cendawan di musim hujan, dalam bentuk organisasi pemuda, mahasiswa, LSM, dll.
Bagus! Menggembirakan! Menambah semangat! Itu tanda-tanda kita peduli pada diri kita sendiri. Logis dan smart, jika bukan kita yang mengurus diri sendiri, lalu siapa? Mungkinkah suku lain yang memikirkannya, sementara orang Bali tidur ayem-ayem?
Sudah waktunya orang Bali unjuk gigi. Belog – Polos boleh-boleh saja namun ada batasnya dan jangan terlalu lama menahan ketidakpuasan, jangan terlalu lama membiarkan adharma mencabik-cabik kita, jangan pula membiarkan pihak-pihak tertentu “ngerjain” Bali.
Bangkitlah dan berjuanglah, karena jika tidak demikian kita akan tertinggal dan terlanggar oleh derasnya arus atau “rush”. Kita akan diinjak-injak, misalnya ada pejabat tinggi negara yang seenaknya ngomong meremehkan Bali.
Mungkin dalam pikirannya kita ini dianggap suku yang paling mudah diatur, paling penurut, paling penakut, paling “koh-ngomong”. Maka segera perkuat konsolidasi ke dalam, artinya bina, pupuk, dan kembangkan rasa kesatuan dan persatuan sesama umat Hindu khususnya yang ada di Bali.
Jangan mau di-adu domba, jangan silau dengan kemilau Rupiah atau Dollar dari suap, sogokan, pemberian, dll., jangan mau dirayu dengan janji-janji gombal, dan yang terpenting jangan mau ditipu. Hanya orang bodoh saja yang mudah di tipu. Kita bukan orang bodoh, kita sudah punya Professor, Doktor, segudang!
Kita sudah punya pejabat-pejabat tinggi di sipil dan militer, kita sudah punya usahawan yang berhasil, kita sudah punya kaum muda yang bersemangat. Tinggal dikoordinasikan saja. Para pejabat dan orang-orang Bali yang “sukses” dalam karir dan ekonomi yang ada di luar pulau Bali, mohonlah memperhatikan tanah air leluhurnya.
Jangan berpeluk tangan, tolong ikut memikirkan, memberi masukan, membantu perjuangan menuju kelestarian Bali: agama, budaya, penduduk, dan alam pulau Bali. Mencintai Bali sama juga mencintai leluhur kita sendiri, karena beliau orang Bali!

Sabtu, 03 Agustus 2013

Dari Saraswati ke Pagerwesi

Dari Saraswati ke Pagerwesi

Saraswati
Hari Saraswati jatuh setiap Saniscara (Saptu), Umanis, wuku Watugunung. Dari Lontar Wariga, diketahui bahwa penetapan hari (dewasa) Saraswati atau di Bali dikenal dengan dewasa Piodalan Sanghyang Aji Saraswati mengandung makna yang sakral sebagai berikut: Saniscara, hari baik untuk mulai memupuk pikiran yang baik, berlaku hati-hati/waspada, dan hari baik pula untuk mohon perlindungan Sanghyang Parama Kawi.
Saniscara (hari terakhir dari Saptawara), Umanis (awal Pancawara), pada wuku Watugunung, merupakan hari istimewa dimana seseorang akan mendapatkan kesenangan/kebahagiaan bila di hari itu ia bersembahyang secara khusus memuja kemaha-kuasaan Ida Sanghyang Widhi.  Wuku Watugunung sebagai wuku terakhir dari  30 wuku sebagai symbol pembinasaan Asuri Sampad yakni sifat-sifat keraksasaan yang bercirikan: kemalasan, kebodohan, kerakusan dan sifat-sifat adharma lainnya yang ada pada diri manusia.
Saraswati berasal dari kata saras artinya: sesuatu yang terus mengalir, dan wati artinya: mempunyai (sifat). Jadi Saraswati artinya: sesuatu yang bersifat terus mengalir. “Sesuatu” adalah kaprajnan (kebijakan) dan samyagjnana (pengetahuan sempurna). Sedangkan “mengalir” diartikan sebagai dinamika tiada henti, berkelanjutan dan berkembang. Kaprajnan dan samyagjnana adalah ilmu pengetahuan yang tidak hanya bersifat material atau lahiriah (aparawidya) tetapi juga immaterial atau rohaniah (parawidya). Parawidya, pengetahuan tentang hakekat kebenaran Atma dan Brahma (atma-brahma widya). Kaprajnanan dan Samyagjnana mempengaruhi Buddhi pada diri manusia  untuk berprilaku dharma.
Saat memuja Dewi Saraswati diperlukan simbul atau niyasa berupa gambar atau patung wanita muda yang cantik bertangan empat, dimana dua tangan memegang wina (alat musik), tangan kanan memegang ganitri, dan tangan kiri memegang lontar. Berdiri di atas burung merak dan teratai putih.
Arti dari simbul atau niyasa itu sebagai berikut: Dalam brahmawidya (teologi Hindu) Dewi Saraswati Shakti (kekuatan) Brahma. Tafsir keliru telah berkembang di masyarakat bahwa Dewi Saraswati “istri” Bhatara Brahma. Advayta Vedanta menyatakan Brahma sebagai supreme power bersifat nirguna, sedangkan untuk mewujudkan kekuatan dinamis dan kreatif Brahma berubah menjadi  bersifat saguna atau Shakti. Selanjutnya dalam Prasna Upanishad disebutkan Brahma menginginkan kebahagiaan bagi ciptaan-Nya. Oleh karena itu ada unsur kekuatan memelihara pada Shakti-Nya yang disimbulkan sebagai wujud female (perempuan), karena perempuan ditakdirkan mempunyai sifat-sifat dan naluri memelihara serta melindungi.
Gambaran sebagai wanita muda yang cantik menarik, menunjukkan kaprajnan dan samyagjnana  sangat diminati, kekal/selalu muda karena prinsip-prinsip lama selalu diperbaharui kearah penyempurnaan. Wina, alat musik yang mendendangkan irama indah dan teratur. Hukum Rta sebagai irama alam semesta yang indah dan teratur seperti peredaran bumi, bulan, dan bintang. Ganitri simbul pemujaan dan pemusatan pikiran. Lontar simbul kaprajnan dan samyagjnana. Burung merak simbul ego yang harus ditekan atau ditaklukkan, dan teratai putih simbul kaprajnan dan samyagjnana yang suci tidak ternoda oleh ketidak benaran.
Linggasthana Dewi Saraswati, Aksara. Aksara adalah gambar atau simbul bunyi yang dibuat dengan goresan (lekha). Dewi Saraswati dan Aksara, manunggal. Aksara pertama dalam Weda: OM sehingga OM juga disebut pranawa mantra (esensi semua mantra) dan sebagai nada Brahma. OM terbentuk dari tiga aksara (AUM) yakni: Ang, Ung, Mang, dimana ketiga aksara itu disebut pula aksara alam semesta atau hukum alam semesta karena Ang Utpatti (kelahiran), Ung  sthiti (kehidupan) dan Mang pralina (kematian).
Brata Saraswati dilaksanakan dengan upacara pemujaan yang dilakukan pada pagi hari sampai sebelum tengah hari. Selama itu tidak diperkenankan membaca atau menulis sesuatu yang sakral, mengingat linggastana Dewi Saraswati adalah aksara. Buku-buku, lontar dan prasasti dihaturi sesajen berupa: Suci, pejati, daksina lingga, pisng payasan, cane, sesayut saraswati, perangkatan putih-kuning, dan segehan.
Banyupinaruh
Keesokan harinya atau tepatnya pada Redite, Paing wuku Sinta hari Banyupinaruh. Wuku Sinta merupakan awal rangkaian wuku, sehingga Redite sebagai hari pertama dari wuku pertama, menjadi saat yang tepat untuk mulai meningkatkan pembelajaran yang dilandasi kesucian. Dewi Saraswati dipuja sebagai Dewi yang melimpahkan kaprajnanan dan samyagjnana.
Wujud perayaan hari Banyupinaruh berupa mandi suci di sumber mata air atau laut, sambil membawa sesajen berupa pejati dan kembang-kembang harum. Makna dari mandi secara khusus itu  menyadarkan diri kita sendiri agar kaprajnanan dan samyagjnana yang telah diperoleh digunakan dijalan yang suci dan untuk tujuan yang dharma.
Soma Ribek
Setelah Banyupinaruh, pada Soma, Pon wuku Sinta tibalah hari Soma Ribek, dimana Bhatari Sri, Shakti Wisnu memenuhi kebutuhan pangan manusia, terutama yang sudah melaksanakan ajaran dan nilai-nilai luhur Saraswati. Upacara pada hari ini, menghaturkan banten pejati pada pulu dan lumbung, atau tempat menyimpan beras/padi sebagai tanda bhakti dan sujud kepada Sanghyang Widhi karena telah melimpahkan kebutuhan pokok pangan.
Sabuh Mas
Keesokan harinya pada Anggara Wage wuku Sinta, hari Sabuh Mas, yang bermakna: Sanghyang Widhi mengaruniakan tidak hanya kebutuhan pangan, tetapi juga harta benda lain yang berguna untuk meningkatkan taraf hidup. Umat Hindu-Bali merayakannya dengan menghaturkan sesajen berupa canang ajuman pada benda-benda keperluan rumah tangga, dan perhiasan emas/perak/permata.
Pagerwesi
Tibalah hari Buda, Kliwon wuku Sinta, yang dikenal dengan nama hari Pagerwesi. Pagerwesi artinya pagar yang kokoh dari besi. Dalam perayaan ini umat Hindu-Bali memuja Hyang Pramesti Guru, yakni Sanghyang Widhi yang telah melimpahkan kehidupan dan kebahagiaan kepada umat manusia.
Untuk mencapai mokshartam jagaditaya ca iti dharmah, menurut Chandogya Upanishad, manusia wajib terus-menerus berusaha mencapai kemajuan melalui para-apara widya yang menuju pada: satyam (kebenaran), siwam (kesucian) dan sundaram (keindahan/kebahagiaan). Makna Pagerwesi adalah menjaga atau mempertahankan agar satyam, siwam, sundaram yang telah diperoleh/dikuasai tetap ajeg sepanjang kehidupan di dunia skala dan niskala sunia.
Mantram pemujaan Dewi Saraswati
(Rg Veda I.3.10, I.3.11, II.41.16)
Pavaka nah Saraswati vajebhir vajinivari
Yajnam vastu dhiyavasuh
Semoga Saraswati yang mensucikan yang amat kaya
Yang memiliki pengetahuan mendatangi persembahan hamba

Codayitri sunrtanam cesanti sumatinam
Yajnam dadhe Saraswati
Yang memberikan kebenaran serta yang menggugah pikiran baik
Semoga Saraswati menerima persembahan hamba

Amvitame naditame
Devitame Saraswati
Apra sastim amva naptkrdhi
Ibu yang paling mulia, sungai yang paling mulia
Dewi yang paling utama ya Saraswati
Hamba yang tidak mempunyai, berilah hamba kemashuran

Nasehat Saraswati

1. Saraswati adalah “tonggak peringatan, agar kita (umat Hindu) menyadari bahwa ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang sangat penting untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM).
2. SDM terdiri dari dua: fisik dan non fisik. Fisik adalah kesehatan dan kebugaran tubuh. Non-fisik adalah “kesehatan/ kesempurnaan”: Spiritual, Emosional, dan Intelektual.
3. SDM adalah Sumber Daya utama, melebihi pentingnya sumber daya yang lain seperti SDA (Sumber Daya Alam), SDMod (Sumber Daya Modal), dll. Tanpa SDM, SDA dan SDMod tidak ada artinya dan tidak dapat dimaksimalkan hasil-gunanya.
4. Kualitas SDM penting untuk mencapai Mokshartam jagaditaya ca iti dharmah (secara individu) dan pada akhirnya mencapai Satyam-Siwam-Sundaram (secara bersama/ kemasyarakatan).
5. Proses belajar dan pembelajaran berlanjut sepanjang waktu selama hayat dikandung badan. Maka jangan pernah berhenti belajar-mengajar.
6. Derajat manusia ditentukan oleh mutu SDM. Bukan karena kelahiran, kekayaan, kebangsawanan, dan tetek-bengek lainnya.
7. Veda adalah sumber segala Ilmu Pengetahuan. Sangat ironis bila umat Hindu yang “memiliki” Veda, kok SDM-nya lemah! Nah, bangkit, bangkit, bangkit, bangkit! Jangan tidur.
8. Mau badan sehat,bugar, ada YOGA; mau pintar, ada RGVEDA, SAMAVEDA, YAYURVEDA, ATHARVAVEDA; mau suci dan dekat dengan-Nya, ada meditasi. Nah mau apa lagi?
9. Jangan “Koh Ngomong”, jangan lagi nyanyi: “De ngaden awak bisa, ndepang anake ngadanin…” Yang lebih penting, kurangi tidur. Baca, belajar, berbuat, ngomong, nulis, dan… sembahyang.

Jumat, 02 Agustus 2013

Kecintaan Pada Ibu Pertiwi

Membangkitkan Kembali Kecintaan Pada Ibu Pertiwi

Penghargaan tinggi patut diberikan kepada Anand Krishna dan tokoh lainnya yang telah menggagas wacana Pergerakan Integrasi Nasional menuju hidup damai dan ceria dalam kebhinekaan.
Lebih khusus lagi karena wacana itu menuju “Indonesia Baru”, yang salah satu indikatornya adalah kecintaan pada ibu pertiwi atau dengan kata yang lebih tegas, cinta pada nusa bangsa.
Wacana ini patut diluaskan karena setelah 68 tahun Indonesia merdeka, nampaknya keadaan kita sekarang belum mencapai apa yang dicita-citakan oleh para pahlawan pejuang kemerdekaan dan pendiri Republik Indonesia.
Kita sebagai generasi penerus dari para pejuang mempunyai tanggung jawab untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan, yakni Indonesia Jaya. Kecintaan pada Ibu Pertiwi perlu dikembangkan sebagai suatu dorongan menuju nasionalisme, di mana idealnya adalah setiap anak bangsa bangga pada Indonesia.
Upaya mulia itu sekarang tidaklah mudah, karena banyak keadaan-keadaan negatif yang menurunkan harkat martabat bangsa Indonesia, tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri, antara lain:
1. KORUPSI DI INDONESIA.
Indonesia menjadi Negara paling korup ke-6 dari 133 negara korup di dunia, jauh tertinggal dari Negara-negara ASEAN lainnya seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand (sumber: BBC Indonesia).
Menurut Tranparency International (TI) yang mengeluarkan Corruption Perception Index (CPI) tingkat korupsi di Indonesia sudah mencapai endemic, systemic, and widespread.
Mereka mengadakan survey di 21 kota, serta mewawancarai 1305 pebisnis lokal dan multi nasional. Jawaban-jawaban para pelaku bisnis mendua, ada yang mengatakan bahwa korupsi adalah kultur sebagai cetusan terima kasih, dan ada yang menolak karena tergolong crime.
Rendahnya gaji pegawai negeri ternyata tidak dapat diterima sebagai satu alasan korupsi karena para pejabat negara dengan kedudukan dan gaji tinggi juga banyak yang terlibat dalam korupsi.
Di samping itu ada kecurigaan masyarakat pada Pemerintah yang tidak transparan dan akuntabel.
2. TINGKAT PENGANGGURAN YANG TINGGI.
Kekurangan lapangan kerja di Indonesia merupakan akibat dari beberapa hal negatif, yakni: korupsi, keamanan nasional, dan mutu pendidikan.
Korupsi sudah jelas menciutkan APBN sehingga mengurangi kemampuan pemerintah melakukan investasi. Kebocoran APBN karena korupsi diperkirakan oleh TI mencapai 30% setiap tahun.
Selain itu prosedur penanaman modal asing di Indonesia dikenal sangat menjelimet dan memerlukan biaya besar dalam mengurus perijinan dari meja ke meja.
Keadaan ini ditambah dengan isu keamanan nasional yang buruk, membuat penanam modal asing ragu-ragu berbisnis di Indonesia.
Mutu pendidikan juga sangat rendah sehingga tenaga kerja Indonesia selalu kalah bersaing di sektor menengah ke atas.
Tenaga kerja Indonesia yang ‘laku’ di luar negeri kebanyakan pekerja kasar dan pembantu rumah tangga.
3. INDONESIA SEBAGAI SARANG TERORIS.
Sejak lama Indonesia sudah diingatkan oleh Negara-negara barat terutama Amerika, bahwa tanpa disadari Indonesia sudah termasuk jaringan terorisme internasional.
Peringatan ini diabaikan oleh Pemerintah, sampai meledaknya Bom Bali I, barulah Pemerintah ‘mencoba’ mengambil langkah-langkah penanggulangan, walaupun sudah terlambat.
Kemampuan intelijen untuk mendeteksi secara dini kiprah teroris nampaknya tidak berhasil, karena Bom Bali I kemudian disusul oleh Bom Bali II. Bom-Bom ini memporak porandakan perekonomian Bali yang bersandar pada sektor pariwisata.
4. INDONESIA BERADA PADA “RED-ZONE”.
Indonesia saat ini berada dalam zona bahaya atau zona merah dari sebuah Negara (nation state) lemah yang bergerak menuju Negara bangsa yang gagal.
Ini diungkapkan oleh Robert I. Rotberg (Kompas 28 Maret 2002) yang disebabkan karena krisis multi dimensi berkepanjangan, disintegrasi bangsa, penegakan hukum yang ambivalen, pemberantasan korupsi yang setengah hati, upaya perbaikan ekonomi yang gagal, dan tekanan pihak asing terhadap kebijakan Indonesi di bidang piolitik, ekonomi, perdagangan, dan militer.
5. DISINTEGRASI BANGSA.
Kasus-kasus “SARA” di era reformasi nampaknya makin merebak, terlihat dari peristiwa Ambon, Poso, Palu, Kaltim, Aceh, Papua, Timtim, Lampung, Sumbawa dan lain-lain.
Kasus-kasus itu kemudian muncul ke permukan dalam bentuk disintegrasi, seperti yang terjadi di Timor Timur (Timor Lorosae).
Kebijakan “otonomi khusus” dari Pemerintah Pusat dianggap sebagai salah satu jalan keluar dari ketidakmampuan memimpin dan mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa.
6. POLA HIDUP KONSUMTIF VS PRODUKTIF.
Masyarakat Indonesia terkenal sebagai masyarakat yang pola hidupnya konsumtif. Padahal sebagai suatu Negara yang under-developed, mestinya rakyatnya berpacu dalam investasi dan produksi.
Di negara-negara yang berhasil bangkit dari keterpurukan Perang Dunia ke-II seperti Jepang, Korea, dan India, dan juga Vietnam yang baru saja lepas dari kemelut perang saudara.
Pemerintah mereka berperan membangkitkan semangat simple living high thinking, artinya memelihara hidup yang sederhana tetapi selalu berpikiran maju. Sebaliknya di Indonesia, masyarakat berpola terbalik: simple thinking high living.
Lihatlah contoh yang nyata: Indonesia telah menjadi daerah pemasaran berbagai hasil industri dari Negara-negara maju.
Barang-barang konsumtif seperti mobil, sepeda motor, alat-alat elektronik, handphone, dll melimpah ruah di pasaran Indonesia, serta mudah diperoleh dengan sistim kredit.
Pola konsumtif ini dipacu oleh semaraknya iklan-iklan di media cetak dan elektronik seperti TV, Radio.
Kebiasan berpikir konsumtif tidak mendidik dan merupakan racun kehidupan bagi generasi penerus kita. Pemerintah pun “terpaksa” harus terus-menerus menimbun hutang luar negeri.
7. INDONESIA SEBAGAI KERANJANG SAMPAH.
Demikian rusaknya moral sebagian besar bangsa Indonesia sehingga dijuluki sebagai garbage basket atau keranjang sampah.
Reputasi orang Indonesia di Malaysia dan Singapura, cenderung buruk karena sering kejahatan seperti pencurian dan perampokan dilakukan oleh orang-orang Indonesia.
Indonesia juga menjadi jaringan transportasi narkoba dunia, bahkan penduduknya sudah pula menikmati narkoba yang tercecer luas sampai ke pelosok desa.
Pelacuran dan perzinahan meraja lela, hukum yang mudah diperjual-belikan, sehingga di film-film Hollywood, Indonesia sering digunakan sebagai ungkapan suatu negara yang amburadul, bangsa yang kehilangan spirit, harga diri, dan kebanggaan.
Itulah selayang pandang kondisi Indonesia saat ini. Jika kita ingin mencintai Ibu Pertiwi, kita harus berbenah dahulu untuk mempercantiknya, untuk bangga menampilkannya di jajaran bangsa-bangsa di dunia.
Wacana-wacana kebangkitan bangsa, tanpa mengetahui akar permasalahannya adalah sia-sia. Masalah yang dihadapi sangat kompleks dan rumit.
Perlu kerja keras puluhan tahun disertai semangat yang tak kunjung padam, dedikasi, pengorbanan, dan kebersamaan untuk membangun Indonesia baru.