Rabu, 18 Desember 2013

Gelombang Otak ada empat



KANDA PAT & GELOMBANG OTAK
Gelombang Otak ada empat yaitu : Beta, Alfa, Theta, dan Delta adalah komponen pembentukan kesadaran kita. Keempat gelombang itu terpancar dalam satu jalinan komposisi rimit yang menentukan kondisi kesadaran kita dalam suatu saat. Gelombang Otak merupakan teman manusia sejak embrio sampai manusia mati sama halnya dengan Kandapat.
Otak kita setiap saat menghasilkan impuls-impuls listrik. Aliran listrik ini, yang lebih dikenal sebagai KandaPat atau Gelombang Otak. Impuls-impuls listrik ini dapat diukur dua cara yaitu amplitude dan frekuensi. Amplitudo adalah besarnya daya impuls listrik yang diukur dalam satuan micro volt. Frekuensi adalah kecepatan emisi listrik yang diukur dalam cycle per detik, atauy hertz. Frekuensi inpuls menentukan jenis gelombang otak yaitu: Beta, Alfa, Theta atau Delta. Jenis atau kombinasi gelombang otak menentukan kondisi kesadaran pada suatu saat.
Pola Gelombang Otak
Setiap orang punya gelombangnya otak yang unik dan selalu konsisten. Keunikan itu tampak pada komposisi ke empat jenis gelombang pada saat tertentu. Komposisi telombang otak itu menentukan tingkat kesadaran seseorang, misalnya saat meditasi kita dapat secara sadar mengatur jenis gelombang otak mana yang ingin kita hasilkan.
Beta
Beta adalah gelombang otak yang frekuensinya paling tinggi (beta rendah 12-15 Hz, beta 16-20 Hz, dan beta tinggi 21-40 Hz) yang dihasilkan dari proses berpikir secara sadar.
Kita menggunakan beta untuk berpikir, berinteraksi, dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Alfa
Alfa adalah jenis gelombang yang frekuensinya sedikit lebih lambat dibandingkan beta, yaitu 8-12 Hz.
Alfa berhubungan dengan kondisi pikiran yang rileks dan santai. Dalam kondisi alfa, pikiran dapat melihat gambaran mental secara sangat jelas dan dapat merasakan sensasi dengan lima indra dan apa yang terjadi atau dilihat semuanya hanya dalam pikiran. Alfa adalah pintu gerbang bawah sadar.
Pada tahun 60-an dan 70-an, alfa sangat popular dan diklaim sebagai gelombang otak paling penting, yang merupakan kunci untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi. Seiring dengan penelitian menggunakan alat lebih canggih micro technology modern oleh banyak pakar terkemuka bahwa alfa bukanlah gelombang terpenting.
Manfaat alfa yang utama adalah sebagai jembatan penghubung antara pikiran sadar dengan bawah sadar. Alfa memungkinkan kita untuk menyadari keberadaan mimpi dan keadaan meditasi terdalam yang kita capai. Tanpa alfa, kita tidak dapat mengingat saat terbangun dari mimpi dan meditasi yang sangat dalam atau selesai bermeditasi.
Theta
Theta adalah gelombang otak pada frekuensi 4-8 Hz, yang dihasilkan oleh pikiran bawah sadar, muncul saat kita bermimpi. Jadi gelombang inilah yang membaca rekaman dari KandaPat (alam bawah sadar kita). Bawah sadar juga merekam materi yang berasal dari kreativitas yang ditekan atau tidak diberi kesempatan untuk muncul ke permukaan dan materi psikologis yang ditekan. Meski kita dapat masuk ke theta dan membaca rekaman bawah sadar, bila tidak dibantu oleh gelombang alfa dan beta, semua data tidak dapat dikenali oleh pikiran sadar. Jadi semua data yang berhubungan emosi, baik itu emosi positif maupun negative, tersimpan dalam pikiran bawah sadar. Emosi-emosi negative yang tidak teratasi dengan baik, setelah masuk ke pikiran bawah sadar, akhirnya menjadi beban psikologis yang menghambat kemajuan diri seseorang.
Bila kita berhasil masuk ke kondisi theta, ktia akan megnalami kondisi meditative yang sangat dalam. Semua pengalaman meditative yang selama ini dicari oleh orang yang melakukan praktik meditasi, misalnya keheningan, ketenangan, kedalaman, dan puncak kebahagiaan, dirasakan di dalam theta. Theta adalah “puncak” di dalam “pengalaman puncak” serta merasakan sensasi “ah-ha”.
Saat kita ingin mengobati dan menyembuhkan tubuh atau pikiran, kita harus masuk ke theta agar dapat mencapai hasil maksimal.
Delta
Delta adalah gelombang otak yang paling lambat, pada kisaran frekuensi 0,1-4 Hz, dan merupakan frekuensi dan pikiran nirsadar.
Pada saat kita tidur lelap, otak hanya menghasilkan gelombang delta agar kita dapat istirahat dan memulihkan kondisi fisik. Pada orang tertentu, saat dating kondisi sadar, delta dapat muncul bersamaa dengan gelombang lainnya. Dalam keadaan itu, delta bertindak sebagai “radar” yang mendasari kerja intuisi, empati, dan tindakan yang bersifat insting. Delta juga memberikan kebijakan-kebijakan dengan level kesadaran psikis yang sangat dalam.
Gelombang delta sering tampak dalam diri orang yang profesinya bertujuan mengarahkan kita dalam hal waktu dan ruang. Delta berfungsi sebagai system peringatan dini untuk merasakan adanya ancaman atau bahaya.
Delta memungkinkan kita untuk “melihat” informasi yang tidak dapat ditangkap oleh pikiran sadar. Dari sudut pandang negative, delta juga dapat digunakan untuk kondisi berhati-hati yang berlebihan. Sikap hati-hati yang berlebihan, atau lebih tetap disebut dengan kepekaan, sangat berguna “membaca” kondisi emosi lingkungan sekitarnya dan berusaha mengendalikan kondisi ini demi keselamatan hidupnya.
Gelombang Beta, Alfa, Theta, dan Delta adalah komponen pembentuk kesadaran kita. Keempat gelombang itu menentukan kondisi kesadaran kita dalam suatu saat.
Kanda Pat / Gelombang Otak inilah yang selalu menolong manusia untuk memperoleh ketenangan, ketentraman, kedamaian.

Kanda empat dan Mantera mantera gaib



KANDA EMPAT
Kanda empat dan Mantera mantera gaib
Rekan sedharma Yth.
Om Swastyastu,
Kanda Pat adalah Empat Teman: Kanda = teman, Pat = empat, yaitu kekuatan-kekuatan Hyang Widhi yang selalu menyertai roh (Atman) manusia sejak embrio sampai meninggal dunia mencapai Nirwana. Menurut Kitab Suci Lontar Tutur Panus Karma, nama-nama kanda pat berubah ubah menurut keadaan/ usia manusia:

Usia Manusia Kanda 1 Kanda 2 Kanda 3 Kanda 4
Kandapat Rare :
Embrio : Karen, Bra ,Angdian, Lembana
Kandungan 20 hari : Anta ,Prata, Kala, Dengen
Kandungan 40 minggu : Ari-ari ,,Lamas ,,Getih ,,Yeh-nyom
Lahir, tali pusar putus : Mekair , Salabir, Mokair, Selair
Kandapat Bhuta:
Bayi bisa bersuara: Anggapati , Prajapati , Banaspati , Banaspatiraja
Kandapat Sari:
14 tahun : Sidasakti , Sidarasa , Maskuina, Ajiputrapetak
Bercucu : Podgala, Kroda , Sari , Yasren
Kandapat Atma:
Meninggal dunia : Suratman, Jogormanik , Mahakala , Dorakala
Kandapat Dewa:
Manunggal (Moksa) : Siwa , Sadasiwa , Paramasiwa , Suniasiwa
Bentuk-bentuk kandapat yang dapat dilihat dan diraba secara nyata adalah ari-ari, lamas, getih dan yeh-nyom. Setelah mereka dikuburkan (segera setelah bayi lahir) maka perubahan selanjutnya adalah abstrak (tak berwujud) namun dapat dirasakan oleh manusia yang kekuatan bathinnya terpelihara.
Bagan di atas dapat juga dibaca terbalik dengan pengertian sebagai berikut:
Hyang Widhi mewujudkan diri menjadi empat manifestasi, kemudian keempatnya itu yaitu:
Hyang Siwa selanjutnya mewujudkan dirinya menjadi ari-ari
Hyang Sadasiwa mewujudkan diri sebagai lamas
Hyang Paramasiwa mewujudkan diri menjadi getih, dan
Hyang Suniasiwa mewujudkan diri menjadi Yeh-nyom.
Keempat teman yang abstrak ini menyertai terus sampai manusia mati dan rohnya menghadap ke Hyang Widhi. Mereka juga menjaga dan melindungi roh, serta mencatat sejauh mana atman (roh) terpengaruh oleh indria keduniawian. Semua pengalaman hidup di record oleh Sang Suratman yang dahulu berbentuk ari-ari. Inilah catatan subha dan asubha karma yang menjadi penilaian dan pertimbangan kesucian roh untuk menentukan tercapainya moksa (bersatunya atman-brahman) ataukah samsara (menjelma kembali). Kandapat ada dalam diri/ tubuh manusia, namun ketika tidur, kandapat keluar dari tubuh. Maka mereka perlu dibuatkan pelinggih berupa “pelangkiran” di kamar tidur, tempat bersemayamnya kanda pat ketika kita tidur pulas.
Sebagai tambahan .
Namanya selalu berubah sesuai dengan pertumbuhan manusia, karena pengaruh Panca Indria kepada Roh/ Atma juga berubah-ubah. Jadi nama yang berubah untuk memberi batasan pada masing-masing tingkat kekuatan pengaruh panca indria sejalan dengan pertumbuhan manusia. Panca Indria dapat menyebabkan keterikatan atman oleh karena itu atman perlu dilindungi. Yang bisa membantu manusia melindungi dirinya dari godaan panca indria adalah Kandapat.
Jika jalinan/ hubungan manusia dengan Kandapat terhambat atau bahkan tidak ada hubungan sama sekali (“tusing pati rungu”) maka perlindungan Kandapat-pun berkurang atau tidak ada. Seperti lagunya Bimbo saja:………..”Engkau dekat, Aku dekat, engkau jauh, Aku jauh”……….. begitu kira-kira logikanya. Orang-orang kebathinan biasanya mulai dengan menguatkan K
andapatnya ini dengan cara selalu ingat dan membagi suka/ duka dengannya. Jika sudah dekat, Kandapat bisa jadi guru dan penuntun karena pada hakekatnya Kandapat itu juga Manifestasi Hyang Widhi.
Kandapat adalah manifestasi Brahman (Hyang Widhi) yang Esa; jadi ia akan selalu ada dan selalu sama pada penjelmaan-penjelmaan manusia berikutnya.
Demikian penjelasan saya,
Om Santi, Santi, Santi, Om….
berikut mantra sebagai penyengker karang dengan sarana garam bawang abu dapur ditabur disekeliling rumah berlawanan dengan jarum jam:
buh puh siwa gni mijil ring mukanta pat torobira kadi tasik matemahan kadi angeseng sahananing leak kabeh , yenkene soco buta ,yen kene suku rumpuh yen kene dewek kabeh sakit tahunan mah pejah , om mang

mantra penolak bahaya :
om durga patuh bhuta patuh kala patuh dengen patuh leak patuh sing masyung pada patuh . patuh patuh patuh

Sabtu, 14 Desember 2013

WARIGA dan DEWASEE,



WARIGA dan DEWASEE,

Wariga dan dewasa adalah dua istilah yang paling umum diperhatikan oleh umat hindu khususnya di bali bila ingin mencapai kesempurnaan dan keberhasilan. Kedua ilmu itu merupakan salah satu cabang ilmu agama yang dihubungkan dengan ilmu astronomi atau “Jyotisa Sastra” sebagai salah satu wedangga. Walaupun kedua ilmu tersebut sebagai salah satu cabang ilmu weda, namun pendalamannya tidak banyak diketahui kecuali untuk tujuan praktis pegangan oleh para pendeta dalam memberikan petunjuk baik buruknya hari dalam hubungannya untuk melakukan usaha agar supaya berhasil dengan mengingat hari atau waktu dalam sistim sradha hindu yang dipengaruhi oleh unsur kekuatan tertentu dan planet-planet itu.

Dalam lontar yang disebut “Keputusan Sunari” mengatakan bahwa kata wariga berasal dari dua kata, yaitu “wara” yang berarti puncak/istimewa dan “ga” yang berarti terang. Sebagai penjelasan dikemukakan “….iki uttamaning pati lawan urip, manemu marga wakasing apadadang, ike tegesing wariga”. dari penjelasan ini jelas bahwa yang dimaksud dengan wariga adalah jalan untuk mendapatkan ke’terang’an dalam usaha untuk mencapai tujuan dengan memperhatikan hidup matinya hari.

Disamping masalah itu, penentuan hari baik berdasarkan perhitungan menurut wariga disebut padewasan (dewasa). Jadi dewasa tidak lepas dari ilmu wariga dimana di dalam wariga, urip hari telah terperinci secara baku. Ini harus dipegang sebagai keyakinan kepercayaan. Dasarnya adalah percaya adan inilah agama.

Kata “dewasa” terdiri dari kata; “de” yang berarti dewa guru, “wa” yang berarti apadang/lapang dan “sa” yang berarti ayu/baik. Dengan demikian jelas bahwa dewasa adalah satu pegangan yang berhubungan dengan pemilihan hari yang tepat agar semua jalan atau perbuatan itu lapang jalannya, baik akibatnya dan tiada aral rintangan.

Masalah wariga dan dewasa mencakup pengertian pemilihan hari dan saat yang baik, ada perlu diperhatikan beberapa ketentuan yang menyangkut masalah “wewaran, wuku, tanggal, sasih dan dauh” dimana kedudukan masing-masing waktu itu secara relative mempunyai pengaruh .
didalilkan sebagai berikut:

Wewaran dikalahkan oleh wuku
Wuku dikalahkan oleh tanggal panglong
Tanggal panglong dikalahkan oleh sasih
Sasih dikalahkan oleh dauh
Dauh dikalahkan oleh de Ning WETUniya Sanghyang Triodasa Sakti (keheningan hati).


Untuk dapat memahami hubungan kesemuanya itu perlu mempelajari arti wewaran dan hubungannya dengan alam ghaib.

Wewaran
Yang dimaksud dengan WEWARAN adalah Ekawara, Dwiwara, Triwara, dan seterusnya, yang masing-masing mempunyai URIP/ NEPTU, TEMPAT, dan DEWATA yang dominan. Wewaran berasal dari kata “wara” yang dapat diartikan sebagai hari, seperti hari senin, selasa dll. Masa perputaran satu siklus tidak sama cara menghimpunnya. Semua unsur itu menetapkan sifat-sifat padewasaan (baik-buruknya dewasa). Siklus ini dikenal misalnya dalam sistim kalender hindu dengan istilah bilangan, sebagai berikut;

Eka wara; luang (tunggal)
Dwi wara; menga (terbuka), pepet (tertutup).
Tri wara; pasah, beteng, kajeng.
Catur wara; sri (makmur), laba (pemberian), jaya (unggul), menala (sekitar daerah).
Panca wara; umanis (penggerak), paing (pencipta), pon (penguasa), wage (pemelihara), kliwon (pelebur).
Sad wara; tungleh (tak kekal), aryang (kurus), urukung (punah), paniron (gemuk), was (kuat), maulu (membiak).
Sapta wara; redite (minggu), soma (senin), Anggara (selasa), budha (rabu), wrihaspati (kamis), sukra (jumat), saniscara (sabtu). Jejepan; mina (ikan), Taru (kayu), sato (binatang), patra ( tumbuhan menjalar), wong (manusia), paksi (burung).
Asta wara; sri (makmur), indra (indah), guru (tuntunan), yama (adil), ludra (pelebur), brahma (pencipta), kala (nilai), uma (pemelihara).
Sanga wara; dangu (antara terang dan gelap), jangur (antara jadi dan batal), gigis (sederhana), nohan (gembira), ogan (bingung), erangan (dendam), urungan (batal), tulus (langsung/lancar), dadi (jadi).
Dasa wara; pandita (bijaksana), pati (dinamis), suka (periang), duka (jiwa seni/mudah tersinggung), sri (kewanitaan), manuh (taat/menurut), manusa (sosial), eraja (kepemimpinan), dewa (berbudi luhur), raksasa (keras)

Disamping pembagian siklus yang merupakan pembagian masa dengan nama-namanya, lebih jauh tiap wewaran dianggap memiliki nilai yang dipergunakan untuk menentuk ukuran baik buruknya suatu hari. Nilai itu disebut “urip” atau neptu yang bersifat tetap. Karena itu nilainya harus dihafalkan.

Wuku
Disamping perhitungan hari berdawarkan wara sistim kalender yang dipergunakan dalam wariga dikenal pula perhitungan atas dasar wuku (buku) dimana satu wuku memilihi umur tujuh hari, dimulai hari minggu (raditya/redite). setiap juga mempunyai urip/ neptu, tempat dan dewa yang dominan, juga ke semuanya unsur itu menetapkan sifat-sifat padewasaan.
1 tahun kalender pawukon = 30 wuku, sehingga 1 tahun wuku = 30 x 7 hari = 210 hari.
Adapun nama-nama wukunya sebagai berikut;
Sita, landep, ukir, kilantir, taulu, gumbreg, wariga, warigadean, julungwangi, sungsang, dunggulan, kuningan, langkir, medangsia, pujut, Pahang, krulut, merakih, tambir, medangkungan, matal, uye, menial, prangbakat, bala, ugu, wayang, klawu, dukut dan watugunung.

Tanggal dan Panglong
Selain perhitungan wuku dan wewaran ada juga disebut dengan Penanggal dan panglong. Masing masing siklusnya adalah 15 hari. Perhitungan penanggal dimulai 1 hari setelah (H+1) hari Tilem (bulan Mati) dan panglong dimulai 1 hari setelah (H+1) hari purnama (bulan penuh).
Padewasaan yang berhubungan dengan tanggal pangelong dibagi dalam empat kelompok, yaitu:

Padewasasan menurut catur laba (empat akibat: baik – buruk – berhasil – gagal)
Padewasaan berdasarkan penanggal untuk pawiwahan (misalnya hindari menikah pada penanggal ping empat karena akan berakibat cepat jadi janda atau duda)
Padewasaan berdasarkan pangelong untuk pawiwahan (misalnya hindari pangelong ping limolas karena akan berakibat tak putus-putusnya menderita)
Padewasaan berdasarkan wewaran, penanggal, dan pangelong (misalnya: Amerta dewa, yaitu Sukra penanggal ping roras, baik untuk semua upacara)

Sasih
Sasih secara harafiahnya sama diartikan dengan bulan. Sama sepertinya kalender internasional, sasih juga ada sebanyak 12 sasih selama setahun, perhitungannya menggunakan “perhitungan Rasi” sesuai dengan tahun surya (12 rasi = 365/366 hari) dimulai dari 21 maret. Padewasaan menurut sasih dikelompokkan dalam beberapa jenis kegiatan antara lain: untuk membangun, pawiwahan, yadnya, dll. adapun pembagian sasih tersebut adalah;

Kedasa = Mesa = Maret – April.
Jiyestha = Wresaba = April – Mei.
Sadha = Mintuna = Mei – Juni.
Kasa = Rekata = Juni– Juli.
Karo = Singa = Juli –Agustus.
Ketiga = Kania = Agustus – September.
Kapat = Tula = September – Oktober.
Kelima = Mercika = Oktober – November.
Kenem = Danuh = November – Desember.
Kepitu = Mekara = Desember – Januari.
Kewulu = Kumba = Januari – Februari.
Kesanga = MIna = Februari – Maret.


Dauh/dedauhan
Merupakan pembagian waktu dalam satu hari. Sehingga dedauh ini berlaku 1 hari atau satu hari dan satu malam. Berdasarkan dedauhan maka pergantian hari secara hindu adalah mulai terbitnya matahari (5.30 WIT). Inti dauh ayu adalah saringan dari pertemuan panca dawuh dengan asthadawuh, antara lain;

Redite = Siang; 7.00 – 7.54 dan 10.18 – 12.42, malam; 22.18 – 24.42 dan 3.06 - 4.00
Coma = Siang; 7.54 – 10.18, malam; 24.42 – 3.06
Anggara = Siang; 10.00 – 11.30 dan 13.00 – 15.06, malam; 19.54 – 22.00 dan 23.30 - 1.00
Buda = Siang; 7.54 – 8.30 dan 11.30 – 12.42, malam; 22.18 – 23.30 dan 2.30 – 3.06
Wraspati = Siang; 5.30 – 7.54 dan 12.42 – 14.30, malam; 20.30 – 22.18 dan 3.06 – 5.30
Sukra = Siang; 8.30 – 10.18 dan 16.00 – 17.30, malam; 17.30 – 19.00 dan 24.42 – 2.30
Saniscara = Siang; 11.30 – 12.42, malam; 22.18 – 23.30

Menggunakan dawuh sebagai acuan kegiatan dikelompokkan menjadi lima jenis, yaitu:

Dawuh Sekaranti (berdasarkan jumlah urip Saptawara dan Pancawara, dikaitkan dengan penanggal/ pangelong, selama siang hari saja/ 12 jam dalam lima dawuh)
Panca Dawuh (pembagian waktu selama 24 jam menjadi lima dawuh)
Astha Dawuh (pembagian waktu selama 24 jam menjadi delapan dawuh)
Dawuh Kutila Lima (pembagian waktu selama 24 jam menjadi lima dawuh dikaitkan dengan penanggal dan pangelong)
Dawuh Inti (waktu yang tepat berdasarkan pertemuan Panca dawuh dengan Astha dawuh)

Yang dimaksud dengan WETU adalah kodrat atau kehendak Hyang Widhi sebagai Yang Maha Kuasa mengatur dan menetapkan segalanya. dan semua itu bisa berjalan dengan yadnya yang berdasarkan MANAH (pikiran) hening suci nirmala.

Dalam pengertian ini ditafsirkan bahwa ala ayuning dewasa dapat dikecualikan dalam keadaan yang sangat mendesak, tetapi menggunakan upacara dan upakara tertentu.

Misalnya jika tidak dapat dihindarkan melaksanakan upacara penguburan mayat secara massal sebagai korban peperangan, huru-hara, dll., maka padewasaan dapat dikecualikan dengan upacara maguru piduka, macaru ala dewasa, mapiuning di Pura Dalem, Ngererebuin, dll.

Yang dimaksud dengan kalimat “alah dening” adalah “kalah dengan” atau ditafsirkan lebih lengkap sebagai “pertimbangkan juga…”

Pelaksanaan padewasaan dapat dikelompokkan dalam dua bagian besar, yaitu:

padewasaan sadina artinya sehari-hari, dan
padewasaan masa artinya berkala.

Padewasaan sadina ditentukan oleh Wewaran dan Pawukon (wuku). Semut sadulur adalah padewasaan menurut Pawukon, pada saat mana terjadi pertemuan urip Pancawara dan urip Saptawara menjadi 13 (tiga belas) beruntun tiga kali, yaitu: Sukra Pon, Saniscara Wage, dan Redite Kliwon.

Hari-hari itu jatuh pada Wuku: Kulantir, Tolu, Julungwangi, Sungsang, Medangsia, Pujut, Tambir, Medangkungan, Prangbakat, Bala, Dukut, dan Watugunung.

Kala gotongan adalah pertemuan urip Saptawara dan urip Pancawara14 (empat belas), yaitu Sukra Kliwon pada Wuku: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; Saniscara Umanis pada Wuku: Tolu, Sungsang, Pujut, Medangkungan, Bala, Watugunung; dan Redite Paing pada Wuku: Sinta, Gumbreg, Dungulan, Pahang, Matal, Ugu.

Di samping itu ada juga dewasa YANG TIDAK BAIK untuk atiwa-tiwa (Pitra Yadnya/ Ngaben) menurut Pawukon, yaitu: Dungulan, Kuningan, Langkir, dan Pujut, meskipun dalam Wuku itu ada hari-hari yang BUKAN Semut Sadulur atau Kala Gotongan; jika untuk menanam mayat atau makingsan di Gni saja masih dibolehkan.

Kamis, 07 November 2013

Penyebab Kalutnya Dunia



Penyebab Kalutnya Dunia
Anyata vedapandityam.
Sastramacaram anyatha
Anyatha vadanacchantam
Lokah kisyami canayatha. (Canakya Niti, V.10).
Maksudnya: Meremehkan kebijaksanaan ajaran Veda (Veda Pandita), menghina tradisi yang sesuai dengan ajaran suci (sastra acara), menghina orang yang selalu berkata-kata lembut (vadana chantam). Tiada lain hal itulah yang menyebabkan kalutnya dunia

AJARAN suci seyogianya dijadikan dasar untuk mengembangkan upaya memperbaiki prilaku dan membenahi kebiasaan hidup yang kurang baik menjadi semakin baik semakin sesuai dengan konsep ajaran suci. Sarasamuscaya 177 menyatakan: Phalaning Sang Hyang Weda inaji kawruhaning ayuning sila muang acara: Pahala mempelajari Weda agar memiliki pengetahuan dan pemahaman akan cara memperbaiki prilaku dan kebiasaan hidup baik yang menyangkut kebiasaan hidup individual maupun kebiasaan hidup bersama dalam masyarakat. Hendaknya janganlah ajaran kitab suci hanya dibangga-banggakan semata, tetapi dalam prilaku dibalik dijadikan dasar untuk membenci pihak yang dianggap orang lain. Prilaku yang demikian itu sesungguhnya meremehkan ajaran suci sabda Tuhan. Faktanya masih banyak orang memusuhi pihak lain dengan alasan Agama. Ajaran suci itu seyogianya dijadikan kekuatan untuk memperbaiki tingkah laku dan kebiasaan-kebiasaan hidup. Ajaran suci yang dianut sebagai Agama masih saja ada yang dijadikan ajaran untuk menonjolkan ego tradisi keagamaan dengan menampilkan atribut agar dipandang sebagai penganut agama yang paling taat.
Orang lain yang tidak tampil menggunakan atribut keagamaan seperti itu diremehkan. Tampil dengan atribut keagamaan tapi ngejar mereka yang dianggap orang lain dengan pentung dan pedang main hakim sendiri. Ada yang menyalah gunakan adat melakukan kekerasan pada sesama dengan cara yang tidak berdasarkan keadilan. Adat seyogianya media untuk melakukan proses perbaikan tingkah laku dengan cara-cara yang persuasif dan edukatif. Adat bukan untuk melakukan balas dendam dan meminggirkan mereka yang tidak ada kekuasaan dan tidak punya pengaruh. Masih ada adat dijadikan media untuk menghukum pihak yang dianggap bersalah dengan cara-cara yang tidak adil. Padahal hukuman itu bertujuan untuk menegakkan keadilan.
Sesungguhnya fungsi adat adalah sebagai media untuk mentradisikan ajaran suci. Dalam Sarasamuscaya 260 dinyatakan ''Veda Abyasa'': artinya mentradisikan ajaran Weda. Ritual sering berhenti tanpa penguatan spiritual untuk mendukung kecerdasan intelektual mengendalikan kepekaan emosional yang tepat. Hal itu seyogianya dijadikan motivator mengembangkan kepedulian hidup seperti: Swastya Wahini yaitu peduli akan pengembangan hidup sehat. Peduli akan mengembangkan pendidikan (Widya Wahini) dan peduli akan nasib sesama (Praja Wahini). Ritual sesungguhnya adalah media untuk menguatkan daya spiritual untuk melakukan aksi sosial yang aktual dan kontektual memperhatikan nasib dalam lingkungan dan nasib sesama yang masih belum bernasib baik. Masih banyak sesama yang hidup dibawah kemiskinan yang semestinya menjadi perhatian sebagai wujud pengamalan ajaran suci. Keberagaman seperti itu memang sepertinya belum bisa dikatakan meremehkan ajaran suci karena didorong oleh semangat beragama yang tinggi tetapi tanpa pemahaman akan pemaknaannya. Kenyataan yang ditimbulkan sepertinya mengabaikan ajaran suci. Canakya Niti V.11 menyatakan sbb: Daaridraya naasanam daanam: Artinya kedermawanan menghilangkan kemiskinan. Ritual maupun perayaan hari-hari keagamaan sesungguhnya media untuk memotivasi umat untuk mampu untuk melakukan dana punia untuk memajukan pendidikan dan juga mengentaskan kemiskinan dan keterbelakangan.
Ada juga sikap yang meremehkan atau bersikap sinis terhadap tradisi yang berdasarkan petunjuk ajaran suci atau disebut dalam Canakya Niti V.10 itu sebagai ''sastra acara''. Seperti orang melakukan ritual sakral ''Agni Hotra'' atau Homa Yadnya''. Ritual tersebut adalah ritual sakral berdasarkan ajaran suci Weda yang disebut sebagai ''Spatika Yadnya''. Yang artinya permatanya yadnya. Upacara yadnya Agni Hotra tersebut sangat ditekankan oleh kitab suci Weda, seperti Rg Weda X.66.8. Demikian juga dalam mantra Atharwa Weda XXVVIII.6 disebutkan bahwa yadnya Agni Hotra tersebut dilakukan oleh mereka yang hatinya mulia. Agni Hotra dapat menimbulkan kedamaian hati, dapat menggugah hati para pemimpin, untuk bekerja dengan baik membina masyarakat dan tidak menyakiti hatinya serta memelihara binatang ternaknya dengan baik. Tidak seperti di Bali dewasa ini anjing dibiarkan hidup liar sampai menjadi penyebar penyakit rabies yang telah membunuh hampir seratus orang Bali mati sia-sia dan pemerintah sampai menghabiskan uang 26 miliar rupiah membeli vaksin anti rabies.
Padahal Sarasamuscaya 135 mengajarkan matangnyan prihen tikang bhutrahita, ayuwa tan masih ring sarwa prani. Oleh karenanya usahakan kesejahteraan semua makhluk, jangan tidak menaruh belas kasihan pada semua makhluk hidup. Upacara Bhuta Yadnya sudah sangat semarak dilakukan. Sesungguhnya ritual itu suatu pemulaan yang sudah baik. Tetapi menjadi mubazir karena tidak dilanjutkan dengan pemaknaannya dalam prilaku nyata. Tentang upacara Agni Hotra juga ada dalam Wrehaspati Tattwa Sloka 25 dinyatakan ada tujuh pengamalan dharma yaitu, Sila, Yadnya, Tapa, Dana Prawrayja, Bhiksu, dan Yoga. Dalam penjelasan bahasa Jawa kunonya yadnya dijelaskan sbb: yadnya ngaraning manghadakaken homa. Artinya yadnya adalah menyelenggarakan homa. Namun masih ada dari berbagai pihak yang meremehkan ritual sakral tersebut.
Berbagai pihak maupun kelompok masih mereka percaya diri kalau menyampaikan kritik, saran, usul dengan kata-kata pedas, menghujat dengan cara-cara yang anarkis. Ini artinya mereka meremehkan penyampaikan dengan kata-kata lembut memikat yang dapat mengetuk hati dan menyadarkan pihak-pihak yang dikritik. Prilaku meremehkan ajaran suci, meremehkan tradisi sastra suci dan meremehkan kata-kata lembut sopan dan memikat, ketiga hal itulah yang menyebabkan kalutnya dunia. Demikian Canakya Niti menyatakan.
Oleh I Ketut Wiana