SAPTA TIMIRA
Sapta Timira adalah tujuh macam keadaan yang menyebabkan orang lupa daratan, lupa diri atau mabuk. Ketujuh macam musuh ini harus dikendalikan dan dimusnahkan dari dalam diri manusia. Ketujuh hal ini dalam masyarakat disebut peteng pitu atau tujuh kegelapan. Bagian-bagian dari Sapta Timira adalah sebagai berikut :
1. Surupa
Bagian dari Sapta Timira yang pertama adalah Surupa. Surupa yang artinya adalah rupa atau wajah yang cantik dan tampan. Janganlah merasa sombong apabila merasa memiliki rupa yang tampan dan cantik. Karena ketampanan dan kecantikan itu adalah anugerah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Anugerah tersebut patut kita syukuri. Namun kecantikan dan ketampanan itu tidaklah kekal sifatnya.
Dengan wajah yang cantik dan tampan seseorang akan mendapatkan simpati dari teman-temanya. Apalagi wajah yang tampan dan cantik itu disertai dengan perilaku dan budhi pekerti yang baik. Akan tetapi jika ketampanan atau kecantikan itu disertai dengan tingkah laku yang tidak benar, sombong atau angkuh maka akan mengakibatkan penderitaan. Penderitaan yang diakibatkan bukan hanya pada orang lain, tetapi juga pada dirinya sensiri.
Maka dari itu manfaatkanlah ketampanan atau kecantikan itu dengan wajar dan disertai dengan prilaku yang baik, sehingga nantinya tidak mencelakakan orang lain maupun dirinya sendiri. Contoh seseorang yang mabuk Surupa adalah seorang gadis yang pada awalnya memiliki wajah yang cantik dan etika yang baik, yang sekaligus menjadi bendahara kelas di salah satu sekolah. Karena terpengaruh dengan salah satu produk kosmestik yang menjanjikan kulit putih seketika dan akhirnya mengunakan alat kosmetik tersebut yang tidak sesuai dengan jenis kulitnya. Setelah menggunakan alat kosmetik tersebut kemudian wajahnya pun menjadi rusak.
Karena gadis ini dimabukkan oleh kecantikan dan gadis ini tidak memiliki uang untuk mengembalikan wajahnya seperti semula, gadis ini pun melakukan tindakan penyelewengan dana di sekolahnya, yaitu melakukan tindakan korupsi uang kas.
2. Dhana
Dhana artinya harta benda. Siapapun orang itu pasti bila memiliki kekayaan dan siapapun juga ingin mendapatkan kekayaan. Kekayaan akan dapat membawa diri seseorang kemanapun yang ia suka. Oleh karena itu semua orang bekerja keras siang dan malam berlomba-lomba untuk memperoleh kekayaan. Untuk apa kekayaan itu, jawablah dengan hati yang suci sesuai dengan ajaran Dharma. Kekayaan itu sifatnya tidak kekal dan tidak abadi. Janganlah sombong dan kikir apabila kita menjadi orang yang kaya.
Di dalam ajaran Agama Hindu, kita diajarkan untuk beramal atau berdana punia. Menolong orang yang hidupnya melarat dan membantu tempat suci (pura) adalah perbuatan yang mulia. Orang yang selalu beramal dan berdania punia hidupnya akan bahagia dan amalnya itu bekal untuk mencapai Sorga atau Moksa. Kekayaan kadangkala membuat orang menjadi gelap pikiran atau mabuk kekayaan. Apabila orang mabuk kekayaan sudah tentu hidupnya menderita. Sebab dengan memiliki kekayaan hidup seseorang menjadi resah, gelisah dan takut jika harta kekayaannya akan dicuri oleh orang lain.
Apabila setiap hari orang tersebut merasa resah dan gelisah maka kesehatan tubuhnya pun pasti akan terganggu. Bila kesehatan tubuhnya sudah terganggu maka pada akhirnya dia akan jatuh sakit. Maka daripada itu kita tidak boleh angkuh dan sombong baru memiliki kekayaan yang berlimpah ruah. Hendaknya kekayaan itu kita pergunakan sesuai dengan petunjuk agama dan ajaran Agama Hindu. Contoh mabuk Dhana adalah orang yang menggunakan kekayaannya hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Selalu hanya memuaskan nafsu sendiri dengan meminum-minuman keras, berjudi dan berpesta-pesta yang mengarah hidup berfoya-foya tanpa mempunyai tujuan yang jelas dan benar.
Tidak pernah bersedekah, tidak mau menolong orang-orang yang ditimpa kesusahan atau melarat dan tidak pernah beryadnya atau melakukan upacara yadnya. Itulah sikap dan prilaku orang yang mabuk kekayaan. Ia hanya ingin menimbun kekayaan sebanyak-banyaknya hanya untuk dirinya sendiri. Sedangkan jika kemabukan akibat kekayaan dikaitkan dengan tindakan korupsi contohnya adalah seorang pejabat tinggi yang tidak pernah memiliki rasa puas dengan apa yang telah diperoleh (tidak pernah bersyukur). Sehingga menyebabkan pejabat tersebut gelap mata karena kamanya terlalu tinggi untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya, dan pada akhirnya menggunakan hak yang bukan miliknya, melakukan tindakan penyelewengan dana untuk memenuhi keinginannya yang dimabukkan oleh dhana (kekayaan).
Guna atau Kepradnyanan
Guna yang artinya kepandaian. Kita sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang paling tinggi dan mulia, berada dialam semesta ini. Hidup sebagai manusia, penuh dengan pantangan dan tantangan. Untuk mengatasinya tentulah sangat memerlukan kepandaian. Dengan kepandaian hidup akan terasa lebih mudah untuk melaksanakan sesuatu kegiatan.
Agama kita mengajarkan orang terus-menerus belajar dalam hidup agar menjadi pandai. Jika sudah pandai atau pintar, janganlah sombong dan gelap karena kepintaranmu. Orang yang pandai akan mampu membebaskan dirinya dari lembah kesengsaraan. Jika kepandaian itu ia gunakan dengan keangkuhan dan kesombongan, maka kepandaian itu dapat menghancurkan dirinya sendiri. Seperti apa yang telah dikatakan oleh Einstein bahwa “Ilmu tanpa Agama Hancur, dan Agama tanpa Ilmu Buta”. Jadi ilmu yang kita miliki hendaknya diimbangi dengan iman dan taqwa.
Contoh mabuk Guna adalah Made Dursana setelah lulus dari SMA kemudian melanjutkan pendidikan di salah satu Universitas yang ternama yang kemudian menjadi seorang Sarjana. Dan suatu ketika Made Dursana dipilih menjadi seorang Kepala Desa karena ia dipandang memiliki intelektual atau pengetahuan yang lebih tinggi oleh warga di Desanya. Karena Made Dursana merasa dirinya pandai, dan wargannya tidak memiliki kecerdasan, ia pun memperdaya warga di Desanya untuk mengeluarkan dana untuk membangun jembatan melampaui rata-rata atas dana yang seharusnya diperlukan. Pada suatu hari ada salah satu warga yang mengetahui perbuatannya tersebut, kemudian Made Dursana dilaporkan kepada pihak yang berwajib dan diberhentikan secara tidak hormat dari jabatannya menjadi Kepala Desa.
Inilah salah satu contoh akibat dari mabuk Guna yang mengakibatkan kesengsaraan dalam hidup. Maka dari pada itu gunakanlah kepandaian itu berdasarkan jalan dharma. Karena dengan kepandaian orang akan dapt membedakan perbuatan yang baik dan buruk, yang benar dengan yang salah.
Kepandaian pula akan bisa membantu kita untuk mencapai sumber kehidupan yang lebih baik. Dan kita sebagai umat yang percaya dengan keberadaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, harus tetap bersyukur atas semua rahmatNya. Tidak boleh sombong, angkuh atas Guna yang kita miliki. Dan sadar bahwa itu semua sifatnya tidak kekal, tidak abadi yang merupakan titipan dan anugrah yang harus kita jaga dan laksanakan dengan baik sesuai dengan perintahNya.
3. Kulina atau Kebangsawanan
Kulina artinya keturunan atau kebangsawanan. Walaupun berasal dari keturunan atau keluarga bangsawan hendaknya jangan sombong. Dari keturunan orang dapat diketahui asal-usulnya. Orang yang berasal dari keturunan yang baik, terhormat dan berjasa akan disegani dan dihormati. Tetapi bila keturunan orang jahat dan hina, maka ia akan dijauhi dan dicela dalam pergaulan. Hendaknya selalu ramah tamah terhadap sesama manusia. Keturunan juga bisa menjadi kebanggaan seseorang. Namun kebanggaan yang berlebihan dapat menimbulkan keangkuhan.
Kesombongan akan keturunan sehingga akan merasa lebih tinggi dari orang lain. Orang yang mengagung-agungkan keturunan atau kebangsawanan sangatlah tidak baik, apabila menganggap orang lain lebih rendah. Agama mengajarkan agar setiap orang saling menghormati dan saling menghargai antar sesama makhluk ciptaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Sang Hyang Widhi Wasa menilai seseorang, bukan karena keturunan bangsawan, yang dinilai adalah Dharma bakti, hasil perbuatan dan Yajna.
Demikian pula kebangsawanan yang dinilai tinggi adalah derajat karena memiliki pengetahuan yang didapat dari sekolah. Orang yang mabuk karena keturunan atau kebangsawanannya akan sulit mendapatkan teman. Ia hanya mau berteman dengan orang tertentu saja. Lama-lama ia akan susah sendiri, karena ia mengucilkan diri dari teman-temannya. Sikap yang demikian tentunya tidak baik. Dan orang yang mabuk karena keturunan atau kebangsawanannya akan sukar mendapatkan suatu kebahagiaan. Contoh dari seseorang yang Mabuk Kulina adalah di suatu kelas ada seorang anak yang bernama Rita yang merupakan keturunan bangsawan dan kebetulan juga ia merupakan anak dari seorang pejabat tinggi.
Rita sangat bangga dan bahagia dengan posisinya. Oleh karena itu Rita menjadi sombong dan angkuh, dalam pergaulannya ia sangat memilih teman. Dalam pergaulannya ia selalu mengagung-agungkan dirinya yang mengatakan dirinya keturunan bangsawan dan mempunyai orang tua sebagai pejabat tinggi. Rita juga menganggap tman-teman dalam pergaulannya paling rendah dan tidak mampu. Sikap Rita yang demikian jelas salah dan bertentangan dengan ajaran agama. Sikap demikianlah disebut dengan sikap yang paling mabuk dengan keturunan. Teman-temannya semakin lama semakin menjauihi Rita. Rita tidak mempunyai teman lagi untuk diajak bermain dan belajar. Suatu hari ada ulangan Agama Hindu, Rita sendiri nilainya yang pali kurang. Karena Rita sudah tidak pernah belajar kelompok lagi dengan teman-temannya. Dan pada akhirnya Rita pun menderita dan sengsara dengan sendirinya.
5. Kayowanan atau Yowana
Kayowanan berasal dari kata Yowana yang artinya keremajaan. Kayowanan atau yowana adalah sifat sombong karena merasa diri muda dan kuat. Sifat sombong dalam diri harus dihilangkan. Dalam kitab suci disebutkan “Haywa mawero dening kayowanan” yang artinya “janganlah mabuk karena merasa diri kuat”, sebab massa muda buka untuk menjahili anak keil. Pergunakanlah keremajaan itu dengan bekerja dan belajar yang baik sehingga dapat meningkatkan taraf hidup yang baik di masa yang akan datang.
Orang tua sering menyebut masa remaja adalah masa yang penuh semangat, penuh kegairahan, penuh kegembiraan, serta penuh belajar. Karena pada usia yang masih remaja otaknya akan lebih mampu menagkap pelajaran. Ibaratkan ilalang yang masih muda masih tajam, demikian pula otak itu selagi remaja. Masa muda penuh dengan cita-cita dan angan-angan. Sehingga masa usia remaja orang-orang biasanya tidak mempunyai ketetapan hati, pendiriannya gampang berubah. Gampang dipengaruhi oleh teman-temannya. Apabila bergaul dengan teman-temannya yang baik, maka ia akan menjadi baik, demikian sebaliknya apabila bergaul dengan teman-temannya yang kurang baik maka sifat dan pribadinya pun menjadi buruk.
Pada masa remaja orang sering bertindak ngawur. Hanya ingin menarik perhatian orang dan memperoleh suatu penghargaan. Pada masa remaja atau muda orang akan merasa dirinya kuat. Sehingga pada masa ini orang senang memamerkan kekuatan dirinya. Masa muda hendaknya diisi dengan kegiatan-kegiatan yang berguna dan tidak merugikan. Seperti halnya belajr dengan sungguh-sungguh, bekerja keras, menemukan seseatuyang berguna dan pengetahuan rohani. Massa muda hanya sebentar kita dapat menikmati dan akn disusul oleh masa tua dan tenaga akan makin melemah.
Maka dari pada itu jangan sombong dan angkuh akan keremajaan. Sebab keangkuhan akan mendorong orang untuk berbuat salah. Menyombongkan masa muda tentu tidak baik, itu disebut mabuk karena keremajaan dan akan menyebabkan kehancuran. Contoh dari mabuk Kayowanan atau mabuk Yowana adalah Cakra merupakan seorang anak yang mempunyai tubuh sangat besar dan paling besar diantara teman-temannya. Cakra, anak yang bandel dan selalu membuat gara-gara dengan teman-temannya. Karena ia merasa dirinya paling besar dan sudah remaja maka ia hanya membanggakan dengan kekuatannya saja.
Pada suatu hari ia dipanggil oleh Guru kelasnya karena mencuri uang dan mencelakai salah seorang temannya. Waktu Cakra bersanding dengan Guru kelasnya badanya hampir sama besar dengan gurunya. Itulah sebabnya ia terlalu berani dan tidak takut kepada guru-gurunya apalagi dengan teman-temannya. Ia merasa sombong dan angkuh terhadap kekuatan dan keremajaannya. Kekuatan dan masa mudanya ia pergunakan dengan tidak benardan selalu menyimpang dengan ajaran agama.
Bergaul dimasyarakat ia sering membuat kegaduhan dan kekacauan seperti mencuri dan menggunakan sesuatu yang bukan hak miliknya. Sehingga masyarakat sering melapor kerumahnya maupun ke sekolah akibat dari tingkah lakunya. Akibat perbuatannya yang demikian ia pun sering ditangkap polisi dan sering pula tidak naik kelas. Demikianlah akibatnya orang yang suka mabuk kayowanan yang sudah tentu merugikan dirinya sendiri dan juga menyusahkan orang lain.
6. Sura
Sura artinya minuman keras atau kegelapan, karena mabuk yang disebabkan minum-minuman keras. Minum sampai mabuk tidak dibenarkan oleh ajaran agama Hindu. Sebab hal ini akan mengakibatkan keluarnya kata-kata keji, kasar yaitu kata-kata yang tidak boleh diucapkan. Mabuk karena minuman keras juga akan menyebabkan jadi lupa diri. Pikirannya menjadi gelap sehingga tidak bisa membedakan yang baik dan yang buruk. Kata-katanya tidak karuan dan kasar.
Segala rahasia yang semestinya tidak dikatakan akan dikatakan. Lagi pula pikirannya tidak waras. Minuman yang dapat memabukan antara lain, tuak, arak, bir, wisky, dan lain sebagainya. Yang mengandung alkhol. Jika kesehatan seseorang yang sering meminum-minuman keras akan merusak saraf dan pencernaan. Apabila kesehatan sudah merosot maka hidup akan selalu sakit-sakitan dan kesengsaraan pun sudah ada didepan mata. Oleh karena itu hindarilah minum-minuman keras dan obat-obat terlarang.
Contoh dari mabuk Sura adalah Andi yang merupakan putra seorang pengusaha yang ternama, hartanya melimpah ruah sehingga dalam kehidupannya merasa senang dan bangga. Andi adalah putra tunggal dari seorang pengusaha yang kaya raya tersebut. karena seringnya terpenuhi keinginannya, maka ia menjadi manja. Dengan kemanjaanya tersebut maka pergaulannya pun bebas dan tidak sesuai dengan aturan agama yang berlaku. Pergaulannya selalu dengan oranmg-orang yang suka meminum-minuman keras, pengisap ganja, dan sebagainnya, ia selalu pulang larut malam.
Karena sudah ketergantungan dengan alat-alat terlarang tersebut, suatu ketika uang Andi pun habis, dan orang tuannya tidak pernah memberikan uang saku lagi, untuk memenuhi keinginanya tersebut ia mencuri sapi milik tetangganya, karena aksinya tidak berjalan lancar, akhirnya Andi pun dihakimi oleh warga setempat. Karena seringnya bergaul dengan orang suka meminum-minuman keras maka sekolahnya pun menjadi berantakan dan kacau balau. Ia sering tidak naik kelas. Begitulah akibatnya orang yang selalu mabuk Sura, yang sudah tentu mencelakakan diri sendiri dan membuat hidup menjadi sengsara.
7. Kasuran
Kasuran artinya kemenangan, kejayaan, kesaktian. Angkuh karena keunggulan dan keberanian serta kemenangan merupakan kegelapan bagi diri seseorang. Gagah dan berani dalam medan laga karena kemampuan dan kesaktian. Namun bagaimana pun saktinya seseorang jika tanpa didasari atas keberanian yang berdasarkan ajaran Dharma, maka akan mengalami kekalahan melawan kenyataan hidup. Sesungguhnya hidup adalah suatu perjuangan, karena itu kita dituntut untuk menghadapinya.
Untuk menghadapi kenyataan hidup, diperlukan suatu keberanian. Seperti keberanian tanpa disertai keragu-raguan untuk menimba ilmu pengetahuan, keberanian untuk menghadapi liku-liku kehidupan. Lahir sebagai manusia tidak akan pernah lepas dari suka dan duka, lara dan pati. Kita harus berani dan berkemampuan untuk mengendalikan kesenangan dan sebaliknya tidak larut dalam kesedihan bila sedang mengalami suatu kesusahan.
Disamping itu hidup didunia ini tidak selalu mengalami perubahan dan perkembangan, dalam hal tersebut tidak selalu mengarah kehal yang positif. Jadi, dengan keberanian menghadapi kenyataan hidup, dapat menumbuhkan rasa percaya diri dan terhindar dari sifat keragu-raguan. Dengan demikian keberanian perlu dipupuk tetapi jangan sampai keberanian yang dimiliki menjadikan kita gelap atau mabuk dan takabur, lebih-lebihnya terhadap kemenangan yang kita peroleh. Contoh dari Mabuk Kasuran adalah Durya adalah salah satu siswa SMA yang sangat berani. Keberaniannya tidak didasari atas ajaran agama. Keberaniannya karena senang dipuji dan disebutkan paling hebat. Ia mudah dipengaruhi oleh teman-temannya yang nakal.
Pada suatu hari Durya dipanggil dan diajak untuk mengeroyok temannya yang bernama Susila. Susila ini anaknya pandai dan pendiam. Ia juga mempunyai tingkah laku yang baik. Setiap perbuatannya ia pikirkan terlebih dahulu akibatnya. Sehingga ia tidak ngawur melakukannya. Sedangkan Durya anaknya pemberani. Keberaniannya hanya atas pikiran yang ngawur dan merasa diri paling hebat. Sehingga ia mudah dipengaruhi oleh teman-temannya. Durya diadu oleh teman-temannya untuk memukul Susila. Semua teman-temnya pun bersorak-sorak, sehingga Durya bertambah semangat memukul Susila. Akhirnya Susila jatuh tergeletak ditanah.
Waktu itu kebetulan Polisi patrol datang menghampiri tempat kejadian. Dilihatnya Durya sedang memukul-mukul Susila sampai tergeletak di tanah, akhirnya Durya ditangkap dan dibawa kekantor Polisi. Demikianlah akibatnya perbuatan yang tak terpuji yang tidak didasari atas ajaran agama yang disebut mabuk Kasuran, sudah tentu merugikan diri sendiri.
Minggu, 06 November 2016
Sabtu, 05 November 2016
PANCA SRADHA
Panca Sradha dalam agama Hindu
Secara etimologi panca sradha berasal dari kata panca dan sradha. Panca berarti lima dan sradha berarti keyakinan. Jadi panca sradha adalah lima keyakinan yang dimiliki oleh umat Hindu.
1. Percaya terhadap adanya Brahman
2. Percaya terhadap adanya atman
3. Percaya terhadap adanya karmaphala
4. Percaya terhadap adanya punarbhawa
5. Percaya terhadap adanya moksa
Çraddhaya satyam apnoti, çradham satye prajapatih.
artinya : dengan sradha orang akan mencapai Tuhan, Beliau menetapkan, dengan sradha menuju satya. (Yajur Veda XIX.30)
1. Tuhan Yang Maha Esa / Sang Hyang Widi Wasa
siapa sih Tuhan itu? Tuhan adalah sumber dari segala yang ada dan akhir dari segala yang tercipta.
Ekam eva advityam Brahman yang berarti Tuhan hanya satu tidak ada yang kedua.(CU IV.2.1)
eko narayana na dwityo’sti kascit yang berarti hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya.
Dengan melihat kedua sloka diatas dapat disimpilkan bahwa Tuhan itu esa/satu tidak ada duanya.
Kita mengenal adanya Tri Purusa yaitu :
Paramasiwa : Tuhan yang tidak bisa dipikirkan, tak terbayangkan, murni, nirguna Brahman, trasenden.
Sadasiwa : Tuhan yang imanen, saguna Brahman disinilah Tuhan memiliki sifat seperti Cadhu sakti,astaiswarya.
Siwatman : Tuhan yang ada didalam makluk hidup.
sifat Tuhan :
Cadhu sakti :
Wibhu sakti artinya Tuhan bersifat maha ada
Prabhu sakti artinya Tuhan bersifat maha kuasa
Jnana sakti artinya Tuhan bersifat maha tahu
Kriya sakti artinya Tuhan bersifat maha karya
Astaiswarya :
Anima berarti kecil sekecil-kecilnya, lebuh kecil dari atom
Laghima berarti ringan seringan ringannya, lebih ringan dari udara
Mahima berarti maha besar, memenuhi ruangan
Prapti berarti serba sukses, dapat mencapai segala sesuatu yang dikehendaki
Prakamya berarti segala keinginan dapat tercapai
Isittwa berarti maharaja atau raja diraja
Wasitwa berarti maha kuasa dan mengatasi segala-galanya
Yatrakamawasayitwa berarti segala kehendaknya tak ada dapat menentang
2. Atman
Atman adalah sinar suci / bagian terkecil dari Brahman ( Tuhan Yang Maha Esa ). Atman berasal dari kata AN yang berarti bernafas. Setiap yang bernafas mempunyai atman, sehingga mereka dapat hidup. Atman adalah hidupnya semua makluk ( manusia, hewan, tumbuhan dan sebagainya ). Kitab suci Bhagawad gita menyebutkan sebagai berikut :
“aham atma gudakesa, sarwabhutasaya-sthitah, aham adis ca madhyam ca, bhutanam anta eva ca”
artinya :
O, Arjuna, aku adalah atma, menetap dalam hati semua makluk, aku adalah permulaan, pertengahan, dan akhir daripada semua makluk.( Bhagawadgita X.20 )
Sifat – sifat atman meliputi :
a) acchedya berarti tak terlukai senjata,
b) adahya berarti tak terbakar oleh api,
c) akledya berarti tak terkeringkan oleh angin,
d) acesya berarti tak terbasahkan oleh air,
e) nitya berarti abadi,
f) sarwagatah berarti ada di mana-mana,
g) sathanu berarti tidak berpindah – pindah,
h) acala berarti tidak bergerak,
i) awyakta berarti tidak dilahirkan,
j) achintya berarti tak terpikirkan,
k) awikara berarti tidak berubah,
l) sanatana berarti selalu sama.
3. Karmaphala
Secara etimologi karmaphala berasal dari kata karma yang berarti perbuatan dan phala yang berarti hasil. Jadi karmaphala berarti hasil dari perbuatan yang kita lakukan. Hindu mengenal adanya hukum karmaphala yaitu hukum sebab akibat, setiapperbuatan yang kita lakukan pasti akan mendapakan hasilnya.
Berdasarkan waktu diterimanya phala dari suatu karma dibedakan menjadi tiga.
a.Sancita Karma Phala: Perbuatan dimas lampau/kehidupan lalu pada kehidupan sekerang kita terima hasilmnya.
b.Prarabda: Pebuatan sekarang sekarang juga kita terima hasilnya
c.Kryamana: Perbuatan pada kehidupan sekarang belum habis diterima hasilnya maka akan kita terima dapa kehidupan yang akan datang.
4. Punarbhawa
Punarbhawa berasal dari kata punar yang berarti kembali dan bhawa yang berarti menjelma / lahir. Jadi punarbhawa adalah kelahiran kembali. Punarbhawa juga sering disebut dengan Reinkarnasi.
“bahuni me vyatitani janmani tava carjuna, tany aham veda sarvani na tvam vettha parantapa”.
arti : Banyak kelahiran-Ku dimasa lalu, demikian pula kelahiranmu,Arjuna;semuanya ini Aku mengetahuinya, tetapi engkau sendiri tidak, wahai Arjuna.( Bhagawadgita IV.5 )
5. Moksa
Moksa berasaldari akar kata “muc” yang berarti bebas. Bebas dari segala ikatan karma, ikatan duniawi( suka dan duka ) ikatan hidup, ikatan cinta kasih dll.
Tingkatan moksa :
1.SAMIPYA : Moksa dapat dicapai oleh para maha Rsi/yogi dengan kematangan tapa membuka intuisinya sehingga dapat menerima wahyu dan memahami hakekakat hidup sejati.
2.SARUPYA/ SADARMYA : Moksa yang dicapai oleh kesadaran sejati ketika atman dapat mengatasi segalanya . Hal ini dapat dicapai oleh Awatara. Beliau bisa mengatasi segalanya dan dapat menentukan sendiri kapan akan meninggalkian dunia ini.
3.SALOKYA : Adalah tingkatan Moksa yang dicapai oleh atman yang telah mampu mencapai tingkat Tuhan. Misalnya leluhur yang telah diaben.
4.SAYUJYA : Adalah tingkat kebebasan yang paling tinggi dimana atman telah bersatu dengan Brahman. Brahman Atman Aikyam. Brahman dan Atman tunggal.
Secara etimologi panca sradha berasal dari kata panca dan sradha. Panca berarti lima dan sradha berarti keyakinan. Jadi panca sradha adalah lima keyakinan yang dimiliki oleh umat Hindu.
1. Percaya terhadap adanya Brahman
2. Percaya terhadap adanya atman
3. Percaya terhadap adanya karmaphala
4. Percaya terhadap adanya punarbhawa
5. Percaya terhadap adanya moksa
Çraddhaya satyam apnoti, çradham satye prajapatih.
artinya : dengan sradha orang akan mencapai Tuhan, Beliau menetapkan, dengan sradha menuju satya. (Yajur Veda XIX.30)
1. Tuhan Yang Maha Esa / Sang Hyang Widi Wasa
siapa sih Tuhan itu? Tuhan adalah sumber dari segala yang ada dan akhir dari segala yang tercipta.
Ekam eva advityam Brahman yang berarti Tuhan hanya satu tidak ada yang kedua.(CU IV.2.1)
eko narayana na dwityo’sti kascit yang berarti hanya satu Tuhan sama sekali tidak ada duanya.
Dengan melihat kedua sloka diatas dapat disimpilkan bahwa Tuhan itu esa/satu tidak ada duanya.
Kita mengenal adanya Tri Purusa yaitu :
Paramasiwa : Tuhan yang tidak bisa dipikirkan, tak terbayangkan, murni, nirguna Brahman, trasenden.
Sadasiwa : Tuhan yang imanen, saguna Brahman disinilah Tuhan memiliki sifat seperti Cadhu sakti,astaiswarya.
Siwatman : Tuhan yang ada didalam makluk hidup.
sifat Tuhan :
Cadhu sakti :
Wibhu sakti artinya Tuhan bersifat maha ada
Prabhu sakti artinya Tuhan bersifat maha kuasa
Jnana sakti artinya Tuhan bersifat maha tahu
Kriya sakti artinya Tuhan bersifat maha karya
Astaiswarya :
Anima berarti kecil sekecil-kecilnya, lebuh kecil dari atom
Laghima berarti ringan seringan ringannya, lebih ringan dari udara
Mahima berarti maha besar, memenuhi ruangan
Prapti berarti serba sukses, dapat mencapai segala sesuatu yang dikehendaki
Prakamya berarti segala keinginan dapat tercapai
Isittwa berarti maharaja atau raja diraja
Wasitwa berarti maha kuasa dan mengatasi segala-galanya
Yatrakamawasayitwa berarti segala kehendaknya tak ada dapat menentang
2. Atman
Atman adalah sinar suci / bagian terkecil dari Brahman ( Tuhan Yang Maha Esa ). Atman berasal dari kata AN yang berarti bernafas. Setiap yang bernafas mempunyai atman, sehingga mereka dapat hidup. Atman adalah hidupnya semua makluk ( manusia, hewan, tumbuhan dan sebagainya ). Kitab suci Bhagawad gita menyebutkan sebagai berikut :
“aham atma gudakesa, sarwabhutasaya-sthitah, aham adis ca madhyam ca, bhutanam anta eva ca”
artinya :
O, Arjuna, aku adalah atma, menetap dalam hati semua makluk, aku adalah permulaan, pertengahan, dan akhir daripada semua makluk.( Bhagawadgita X.20 )
Sifat – sifat atman meliputi :
a) acchedya berarti tak terlukai senjata,
b) adahya berarti tak terbakar oleh api,
c) akledya berarti tak terkeringkan oleh angin,
d) acesya berarti tak terbasahkan oleh air,
e) nitya berarti abadi,
f) sarwagatah berarti ada di mana-mana,
g) sathanu berarti tidak berpindah – pindah,
h) acala berarti tidak bergerak,
i) awyakta berarti tidak dilahirkan,
j) achintya berarti tak terpikirkan,
k) awikara berarti tidak berubah,
l) sanatana berarti selalu sama.
3. Karmaphala
Secara etimologi karmaphala berasal dari kata karma yang berarti perbuatan dan phala yang berarti hasil. Jadi karmaphala berarti hasil dari perbuatan yang kita lakukan. Hindu mengenal adanya hukum karmaphala yaitu hukum sebab akibat, setiapperbuatan yang kita lakukan pasti akan mendapakan hasilnya.
Berdasarkan waktu diterimanya phala dari suatu karma dibedakan menjadi tiga.
a.Sancita Karma Phala: Perbuatan dimas lampau/kehidupan lalu pada kehidupan sekerang kita terima hasilmnya.
b.Prarabda: Pebuatan sekarang sekarang juga kita terima hasilnya
c.Kryamana: Perbuatan pada kehidupan sekarang belum habis diterima hasilnya maka akan kita terima dapa kehidupan yang akan datang.
4. Punarbhawa
Punarbhawa berasal dari kata punar yang berarti kembali dan bhawa yang berarti menjelma / lahir. Jadi punarbhawa adalah kelahiran kembali. Punarbhawa juga sering disebut dengan Reinkarnasi.
“bahuni me vyatitani janmani tava carjuna, tany aham veda sarvani na tvam vettha parantapa”.
arti : Banyak kelahiran-Ku dimasa lalu, demikian pula kelahiranmu,Arjuna;semuanya ini Aku mengetahuinya, tetapi engkau sendiri tidak, wahai Arjuna.( Bhagawadgita IV.5 )
5. Moksa
Moksa berasaldari akar kata “muc” yang berarti bebas. Bebas dari segala ikatan karma, ikatan duniawi( suka dan duka ) ikatan hidup, ikatan cinta kasih dll.
Tingkatan moksa :
1.SAMIPYA : Moksa dapat dicapai oleh para maha Rsi/yogi dengan kematangan tapa membuka intuisinya sehingga dapat menerima wahyu dan memahami hakekakat hidup sejati.
2.SARUPYA/ SADARMYA : Moksa yang dicapai oleh kesadaran sejati ketika atman dapat mengatasi segalanya . Hal ini dapat dicapai oleh Awatara. Beliau bisa mengatasi segalanya dan dapat menentukan sendiri kapan akan meninggalkian dunia ini.
3.SALOKYA : Adalah tingkatan Moksa yang dicapai oleh atman yang telah mampu mencapai tingkat Tuhan. Misalnya leluhur yang telah diaben.
4.SAYUJYA : Adalah tingkat kebebasan yang paling tinggi dimana atman telah bersatu dengan Brahman. Brahman Atman Aikyam. Brahman dan Atman tunggal.
METATAH ( POTONG GIGI )
TRADISI POTONG GIGI REMAJA BALI
Kehidupan seorang manusia keturunan Bali selalu diiringi upacara adat dan keagamaan dari lahir sampai meninggal. Aneka macam ritual digelar dalam menyeimbangakn hubungan seseorang dengan lingkungan dan Sang Pencipta. Nah, membahas tradisi metatah (sangging), yaitu ritual memotong gigi bagi remaja laki-laki dan perempuan yang menginjak dewasa di Bali.
Praktek sebenarnya bukanlah memotong benda sebagaimana orang memotong pohon bambu. Lebih tepat disebut mengikir atau merapikan barisan gigi yang tidak rata. Gigi yang diratakan adalah 6 gigi atas, termasuk gigi tarik. Proses ini dilakukan oleh seorang yang disebut sangging dan memiliki kekuatan supranatural. Upacara metatah berjalan selama 10 sampai 15 menit dengan penjagaan keluarga yang ketat.
Dalam kepercayaan masyarakat Bali, upacara adat metatah bertujuan membunuh enam musuh dalam diri manusia yang dinggap kurang baik bahkan sering dianggap sebagai musuh dalam diri sendiri. Enam musuh itu yang disebut dengan Sad Ripu. Meliputi:
1. Kama (hawa nafsu yang tidak terkendalikan)
2. Loba (ketamakan, ingin selalu mendapatkan yang lebih)
3. Krodha (marah yang melampaui batas dan tidak terkendalikan)
4. Mada (mabuk yang membawa kegelapan pikiran)
5. Moha (kebingungan dan kurang mampu berkonsentrasi sehingga seseorang tidak dapat menyelesaikan tugas dengan sempurna)
6. Matsarya (iri hati atau dengki yang menyebabkan permusuhan)
Upacara metatah membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal ini disebabkan banyak perlengkapan sesajen yang diperlukan. Juga kebiasaan mengundang sanak saudara dan keluarga besar untuk hadir layaknya sebuah hajatan pernikahan. Oleh karena itu masyarakat Bali mensiasatinya dengan melakukan metatah secara beramai-ramai atau digabungkan dengan rangkaian upacara adat lainnya.
Kehidupan seorang manusia keturunan Bali selalu diiringi upacara adat dan keagamaan dari lahir sampai meninggal. Aneka macam ritual digelar dalam menyeimbangakn hubungan seseorang dengan lingkungan dan Sang Pencipta. Nah, membahas tradisi metatah (sangging), yaitu ritual memotong gigi bagi remaja laki-laki dan perempuan yang menginjak dewasa di Bali.
Praktek sebenarnya bukanlah memotong benda sebagaimana orang memotong pohon bambu. Lebih tepat disebut mengikir atau merapikan barisan gigi yang tidak rata. Gigi yang diratakan adalah 6 gigi atas, termasuk gigi tarik. Proses ini dilakukan oleh seorang yang disebut sangging dan memiliki kekuatan supranatural. Upacara metatah berjalan selama 10 sampai 15 menit dengan penjagaan keluarga yang ketat.
Dalam kepercayaan masyarakat Bali, upacara adat metatah bertujuan membunuh enam musuh dalam diri manusia yang dinggap kurang baik bahkan sering dianggap sebagai musuh dalam diri sendiri. Enam musuh itu yang disebut dengan Sad Ripu. Meliputi:
1. Kama (hawa nafsu yang tidak terkendalikan)
2. Loba (ketamakan, ingin selalu mendapatkan yang lebih)
3. Krodha (marah yang melampaui batas dan tidak terkendalikan)
4. Mada (mabuk yang membawa kegelapan pikiran)
5. Moha (kebingungan dan kurang mampu berkonsentrasi sehingga seseorang tidak dapat menyelesaikan tugas dengan sempurna)
6. Matsarya (iri hati atau dengki yang menyebabkan permusuhan)
Upacara metatah membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal ini disebabkan banyak perlengkapan sesajen yang diperlukan. Juga kebiasaan mengundang sanak saudara dan keluarga besar untuk hadir layaknya sebuah hajatan pernikahan. Oleh karena itu masyarakat Bali mensiasatinya dengan melakukan metatah secara beramai-ramai atau digabungkan dengan rangkaian upacara adat lainnya.
TRI KAYA PARISUDHA
Pengertian Tri Kaya Parisudha
Tri Kaya Parisudha adalah bagian dari etika ( susila agama Hindu. Timbulnya kata Tri Kaya Parisudha berasal dari sebuah semboyan dharma yang berbunyi : “ paropakaran punya ya, papaya, para piadanam “ mempunyai pengertian yaitu dari Tri artinya tiga, Kaya artinya gerak atau perbuatan dan parisudha artinya suci. Tri Kaya Parisudha artinya tiga gerak atau perbuatan yang harus disucikan.
Kalam kehidupan ini kita mengenal 4 zaman, dan sekarang berada pada zaman yang ke – 4 dimana kejahatan lebih banyak dari kebaikan ( 75 % kejahatan dan 25 % kebaikan).
Di zaman seperti ini sangat sulit untuk menemukan orang yang berbudi pelerti luhur, oleh sebab itu kita harus selalu menanamkan ajaran – ajaran kebaikan pada anak kita, adik kita, ataupun semua orang sedini mungkin. Kita mengenal bahwa Tri Kaya Parisudha adalh tiga perbuatan yang baik, maka dari ajaran Tri Kaya Parisudha ini dapat menjadi pedoman untuk kita mempelajari arti kebaikan pada akhirnya berujung pada tingkat kehidupan yang tinggi yaitu “ Moksa “
Dengan adanya pikiran yang baik akantimbul perkataan yang baik sehingga mewujudkan perbuatan yang baik. Tri Kaya Parisuda sebagai bagian dari ajaran etika dalam agama Hindu akan memberikan tuntunan dan jalan menuju pada kedamaian. Serta keharmonisan kehidupan di dunia dan akhirat. Kaya, Wak dan Mana dalam kehidupan sehari – hari sering disebut dengan Tri Kaya, yang merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Kaya, Wak dan Mana harus diarahkan pada hal – hal menuju kebaikan karena hanya manusia yang dapat merubah prilaku yagn tidak baik kearah yang baik. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa menjelma menjadi manusia dengan kelebihan Sabda, bayu, idep merupakan suatu pahala keberuntungan dan sekaligus merupakan suatu keutamaan bagi manusia untuk berbuat baik ( subha karma )
Jika kita melakukan perbuatan jahat maka hasil yang diterima juga buruk, sebaliknya jika kita melakukan perbuatan baik maka hasilnya juga baik seperti semboyan yang mengatakn :
Ala ulah ala tinemu : perbuatan buruk hasilnya juga buruk
Ayu pikardi ayu pinanggih : perbuatan baik hailnya juga baik.
1.2 Makna Bagian – bagian Tri Kaya Parisudha
Tri Kaya Parisudha terdiri dari tiga bagian yaitu
Kayika Parisudha, yaitu perbuatan atau laksana yang baik
Wacika Parisudha, yaitu perkataan yng baik
Mnacika Parisudha, yaitu pikiran yang baik, dimaksudkan dari pikiran yang baik akan timbul kesucian diri.
A. KAYIKA PARISUDHA
Kayika parisudha adalah perbuatan atau laksana yang baik merupakan pengamalan dari pikiran dan perkataan yang baik. Perbuatan yang baik dapat dilakukan dari adanya pengendalian pada tingkah laku, utamanya terhadap HIMSA KARMA yaitu perbuatan menyakiti, menyiksa, atau membunuh mahluk yang tidak berdosa/bersalah. Himsa Karma hanya diperkenankan untuk keperluan yadnya. Pedoman tata susila menuntun kita kearah menyatukan dan tidak memecah belah. Adapun yang dituntut adalah perasaan manusia kearah keselarasan antara sesama manusia dan mahluk hidup lainnya. Sifat – sifat manusia menyelaraskan untuk berbuat baik adalah menekankan menjalankan dharma, untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat.
Setiap orang dengan anggota badannya akan berprilaku dan berbuat. Dalam melakukan perbuatan , jika dilaksanakan sesuai dengan ajaran kebenaran maka sudah tentu perbuatan yang dilakukan adalah baik dan benar. Oleh karena itu, perbuatan yang baik dan benar disebut Tri Kaya Parisudha. Setiap orang selagi ia masih hidup, selamanya ia akan berbuat dan melakukan suatu perbuatan. Dengan berbuat berarti telah melakukan karma, dari perbuatan karma inilah akan menentukan kehidupan seseorang. Berkarma dalam masa kehidupan sekarang ini berarti mempersiapkan untukl kehidupan yang akan datang. Oleh sebab itu, orang – orang yang sadar akan hal ini, akan berusaha dalam kehidupan ini berbuat yang baik daripada masa – masa terdahulu. Sebab setiap orang mengharapkan adanya kehidupan yang baik dan lebih menyenangkan di masa – masa yang akan datang.
Sebagai contoh pelaksanaan Tri Kaya Parisudha dalam kehidupan sehari – hari yaitu :
– Tidak menuyiksa atau membunuh mahluk lain misalnya : menyakiti hewan hingga mati dipakai dalam permainan.
– Tidak melakukan kecurangan terhadap harta benda, termasuk benda – benda yang tidak habis untuk di curi. Seperti : udara, air dan lain sebagainya secara paksa untuk memenuhi keinginannya.
– Tidak melakukan pemerkosaan / berzinah tekanan atau paksaan terhadap orang yang lebih lemah dan menuruti hawa nafsu, misalnya berjudi, minum – minuman keras, narkotika, dan lain sebagainya.
B. WACIKA PARISUDHA
Perkataan yang baik, manis di dengarkan oleh setiap orang . perkataan itu patut timbul dari hati yang tulus, lemah lembut penyamapaiannya dan menyenangkan hati pendengarnya. Untuk dapat berkata yang baik patut dipikirkan terlebih dahulu. Terlanjurnya berkata – kata akan sulit ditarik kembali. Kata – kata merupakan saran komunikasi yang paling cepat diterima di dalam pergaulan, perhubungan, pendidikan, penyuluhan, penerangan dan lain sebagainya. Pustaka Manusmrta IV. 256 menyatakan perkataan itu menguasai segala sesuatu yang disebutkan sebagai berikut :
“ Warcyartha niyatah sarve wang mule wagwinih
Srtah, tam ta yah stenayedwacam sah sarwate
Yakrnnatah”.
Maksudnya :
Segala sesuatu dikuasai oleh perkataan, perkataanlah
Akar dan asal sesuatu orang tidak jujur dalam
Kata – kata, sesungguhnya tidak jujur dalam segalanya.
Mengeluarkan kata – kata patut disadari sebab ada empat hal yang akan diperoleh seperti dinyatakan dalam pustaka Nitisastra dalam bentuk kekawin pada Sargah V sebagai berikut :
Wasita nimittanta menemu laksmi
Wasita nimittanta pati kepangguh
Wasita nimittanta menemu duhka
Wasita nimittanta menemu mitra
Artinya :
Oleh perkataan engkau akan medapat kebahaiaan
Oleh perkataan engkau akan medapat kematian
Oleh perkataan engkau akan medapat kesusahan
Oleh perkataan engkau akan medapat sahabat
Perkataan yang baik diusahakan untuk akawe suka wong len yaitu : Mengusahakan kesenangan untuk orang lain, karena orang lainlah yang akan mendengar dan merasakannya
Perkatan sangat perlu diperhatikan dan diteliti sebelum dikeluarkan karena perkataan merupakan alat yang penting bagi kita, guna menyampaikan segala isi hati dan maksud seseorang. Dari kata – kata kita dapat pula memperoleh suatu pengetahuan, mendapatkan suatu hiduran, serta nasehat – nasehat yang sangat berguna baik bagi kita maupun orang lain. Dengan kata – kata, orang dapat membuat susah orang lain.
Sebagai contoh pelaksanaan Wacika Parisudha dalam kehidupan sehari – hari, ada empat hala yang disebutkan yaitu :
Tidak berkata – kata buruk yang dapat menyakiti hati / perasaan misalnya : mencaci maki, menghina, mencela, mengejek, dan lain – lain
Tidak berkata kasar kepada mahluk lain, misalnya mengancam, menghina, menghardik
Tidak memfitnah misalnya tidak mengadakan atau membuat laporan palsu untuk mengadu teman supaya bercekcok.
Tidak ingkar pada janji atau ucapan, misalnya menepati waktu sesuai dengan janji yang telah diucapkan, tidak berkata bohong.
C. MANACIKA PARISUDHA
Manacika berarti perilaku yang berhubungan dengan pikiran. Manacika Parisudha adalah berpikir yang benar dan suci. Diantara Tri Kaya Parisudha ini, pikiranlah yang menentukan dan memegang peranan. Apa saja yang terdapat dalam pikiran akan tercetus dalam kata – kata, dan terwujud pula dalam perbuatan. Pikiran adalah sumber segala apa yang dilakukan oleh seseorang. Baik buruk perbuatan seseorang merupakan pencerminan dari pikiran. Bila baik dan suci pikiran seseorang, maka sudah tentu perbuatan dan segala penampilan akan bersih dan baik. Apabila diperhatikan benar – benar tentang segala perbuatan manusia di dunia ini, semuanya berpangkal pada pikiran. Dalam Pustaka kekawin Ramayana Sarah 1,4 disebutkan :
“ Ragadi musuh mapara, ri hati ya tong wanya
Tan madoh ring awak “…….
Artinya :
Hawa nafsu dan lain – lainnya adalah musuh yang dekat.
Di dalam hati tempatnya tidak jauh dari diri sendiri.
Kehidupan manusia dihadapkan dengan berbagai maslah dalam kesempatan hidupnya. Maslah – masalah itu akan bisa dihadapi, bila hati atau pikiran dapat dikendalikan terhadap hawa nafsu – hawa nafsu yang mempengaruhinya.
Pikiranlah yang merupakan pangkalnya perbuatan. Dari pikiran yang terkendali baik, akan menimbulkan perbuatan yang baik dan dari pemikiran yang buruk akan menimbulkan perbuatan yang tidak baik.
Ajaran Manacika Parisudha menuntun manusia untuk berpikir yang baik, berusaha menolong dirinya dengan mengendalikan pikirannya sebelum akan berkata – kata dan berbuat. Mereka yang kuat mengendalikan pikirannya sehingga tidak mengumbar hawa nafsunya akan lebih mudah mencapai cita – citanya. Mereka tidak banyak digoda atau diperbudak oleh hawa nafsunya. Demikian sebaliknya mereka yang kurang mampu mengendalikan hawa nafsunya sulit akan mencapai cita – citanya sebab itu diperbudak, pikirannya terbelenggu hingga lupa apa yang dilakukan. Dalam hubungan ini ada benarnya nasihat orang – orang tua kita yang ering berpesan
“ Pikirkan baik – baik terlebih dahulu sebelum akan berbuat
Jangan sampai keburu nafsu, sebab apa yang telah lewat
Sulit akan dikejar “.
Contoh lain dapat kita ambil dari cerita Arjuna Wiwaha, dimana Arjuna berhasil melaksanakan tapanya, karena pikirannya terkendali kuat, melawan berbagai macam godaan nafsu. Rasa marah atau Krodha yang sering dapat dirasakan oleh setiap orang. Berpangkal pada pikiran dan hal itu patut dikendalikan agar kita tidak sampai kehilangan rasa keseimbangan dalam diri. Apabila kita tidak kuat mengendalikan pikiran inilah kemudian yang dapat menimbulkan sakit, bingung, marah, benci, stress, gila, tidak ingin makan dan minum, tidur akibat pikirannya terganggu.
Sebagai contoh pelaksanaan Manacika Parisudha dalam kehidupan sehari – hari, ada tiga hal disebutkan yaitu :
Tidak mengingini sesuatu yang tidak kekal.
Misalnya : – tidak ingin kepada hal – hal yang terlarang
– tidak meras iri maupun dengki pada kepunyaan ( milik orang lain.
2. Tidak berpikir buruk terhadap mahluk lain
Misalnya : – Tidak mempunyai niat marah terhadap sesama manusia.
– Tidak mempunyai niat marah terhadap mahluk – mahluk lain
3. Tidak mengingkari Karma Phala
Misalnya : – Percaya dan yakin akan adanya hukum karma ( hasil perbuatan ) itu.
1.3 Manfaat dan makna pelaksanaan tri kaya parisudha dalam kehidupan sehari – hari.
Apabila Tri Kaya Parisudha tersebut dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari – hari, maka manfaat dan maknanya akan dapat dirasakan baik secara pribadi maupun golongan atau kelompok secara keseluruhan.
Manfaat – manfaat yang diperoleh adalah dari :
Kayika Parisudha.
– Setiap orang tidak berani menyiksa, manyakiti, dan membunuh mahluk lain.
– Setiap orang tidak berani mempergunakan kekerasan ( secara paksa ) untuk merebut benda yang diinginkannya dari orang lain.
– Setiap orang tidak berani memaksa orang lain untuk berjudi, minum – minuman keras, mengisap ganja, narkotik dan lain – lain
Wacika Parisudha
– Setiap orang selalu berusaha berkata –kata yang baik ( tidak menyinggung perasaan )
– Setiap orang takut berkata – kata kasar, tidak menghina, mengancam, dan menghardik
– Setiap orang tidak berani memfitnah, mengadakan laporan palsu untuk mengadukan teman
– Setiap orang selalu satia wacana, yaitu menepati janji dan tidak berani berbohong.
Manacika Parisudha
– Seseorang akan selalu berpikir untuk memperoleh sesuatu secara halal.
– Selalu berpikir baik terhadap mahluk lain yang didasari oleh semua mahluk adalah ciptaan Tuhan.
– Mempercayai dan meyakini adanya hukum karma yaitu semua perbuatan pasti memperoleh hasil.
Makna yang diperoleh dari pelaksanaan Tri Kaya Parisudha dalam kehidupan sehari – hari adalah :
setiap orang akan selalu berpikir telebih dahulu sebelum berkata ataupun berbuat.
Setiap orang akan menjadi sopan santun dalam kehidupannya
Kehidupan manusia di dunia ini akan tertib sehingga keadaan menjadi aman, tentram dan damai.
Setiap orang tidak merasa was – was, takut ataupun curiga, karena masing – masing dapat mengendalikan dirinya.
Di awal kita sudah membahas bahwa dengan adanya pikiran yang baik akan timbul perkataan yang baik sehingga mewujudkan karma yang baik pula. Dan dari perbuatan yang buruk akan dihasilkan karma yang buruk pula. Jadi segala sesuatu yang kita perbuat akan ada karmanya. Untuk itu kita akan mengenal yang namanya KARMA PHALA..
Tri Kaya Parisudha adalah bagian dari etika ( susila agama Hindu. Timbulnya kata Tri Kaya Parisudha berasal dari sebuah semboyan dharma yang berbunyi : “ paropakaran punya ya, papaya, para piadanam “ mempunyai pengertian yaitu dari Tri artinya tiga, Kaya artinya gerak atau perbuatan dan parisudha artinya suci. Tri Kaya Parisudha artinya tiga gerak atau perbuatan yang harus disucikan.
Kalam kehidupan ini kita mengenal 4 zaman, dan sekarang berada pada zaman yang ke – 4 dimana kejahatan lebih banyak dari kebaikan ( 75 % kejahatan dan 25 % kebaikan).
Di zaman seperti ini sangat sulit untuk menemukan orang yang berbudi pelerti luhur, oleh sebab itu kita harus selalu menanamkan ajaran – ajaran kebaikan pada anak kita, adik kita, ataupun semua orang sedini mungkin. Kita mengenal bahwa Tri Kaya Parisudha adalh tiga perbuatan yang baik, maka dari ajaran Tri Kaya Parisudha ini dapat menjadi pedoman untuk kita mempelajari arti kebaikan pada akhirnya berujung pada tingkat kehidupan yang tinggi yaitu “ Moksa “
Dengan adanya pikiran yang baik akantimbul perkataan yang baik sehingga mewujudkan perbuatan yang baik. Tri Kaya Parisuda sebagai bagian dari ajaran etika dalam agama Hindu akan memberikan tuntunan dan jalan menuju pada kedamaian. Serta keharmonisan kehidupan di dunia dan akhirat. Kaya, Wak dan Mana dalam kehidupan sehari – hari sering disebut dengan Tri Kaya, yang merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Kaya, Wak dan Mana harus diarahkan pada hal – hal menuju kebaikan karena hanya manusia yang dapat merubah prilaku yagn tidak baik kearah yang baik. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa menjelma menjadi manusia dengan kelebihan Sabda, bayu, idep merupakan suatu pahala keberuntungan dan sekaligus merupakan suatu keutamaan bagi manusia untuk berbuat baik ( subha karma )
Jika kita melakukan perbuatan jahat maka hasil yang diterima juga buruk, sebaliknya jika kita melakukan perbuatan baik maka hasilnya juga baik seperti semboyan yang mengatakn :
Ala ulah ala tinemu : perbuatan buruk hasilnya juga buruk
Ayu pikardi ayu pinanggih : perbuatan baik hailnya juga baik.
1.2 Makna Bagian – bagian Tri Kaya Parisudha
Tri Kaya Parisudha terdiri dari tiga bagian yaitu
Kayika Parisudha, yaitu perbuatan atau laksana yang baik
Wacika Parisudha, yaitu perkataan yng baik
Mnacika Parisudha, yaitu pikiran yang baik, dimaksudkan dari pikiran yang baik akan timbul kesucian diri.
A. KAYIKA PARISUDHA
Kayika parisudha adalah perbuatan atau laksana yang baik merupakan pengamalan dari pikiran dan perkataan yang baik. Perbuatan yang baik dapat dilakukan dari adanya pengendalian pada tingkah laku, utamanya terhadap HIMSA KARMA yaitu perbuatan menyakiti, menyiksa, atau membunuh mahluk yang tidak berdosa/bersalah. Himsa Karma hanya diperkenankan untuk keperluan yadnya. Pedoman tata susila menuntun kita kearah menyatukan dan tidak memecah belah. Adapun yang dituntut adalah perasaan manusia kearah keselarasan antara sesama manusia dan mahluk hidup lainnya. Sifat – sifat manusia menyelaraskan untuk berbuat baik adalah menekankan menjalankan dharma, untuk mencapai kebahagiaan dunia akhirat.
Setiap orang dengan anggota badannya akan berprilaku dan berbuat. Dalam melakukan perbuatan , jika dilaksanakan sesuai dengan ajaran kebenaran maka sudah tentu perbuatan yang dilakukan adalah baik dan benar. Oleh karena itu, perbuatan yang baik dan benar disebut Tri Kaya Parisudha. Setiap orang selagi ia masih hidup, selamanya ia akan berbuat dan melakukan suatu perbuatan. Dengan berbuat berarti telah melakukan karma, dari perbuatan karma inilah akan menentukan kehidupan seseorang. Berkarma dalam masa kehidupan sekarang ini berarti mempersiapkan untukl kehidupan yang akan datang. Oleh sebab itu, orang – orang yang sadar akan hal ini, akan berusaha dalam kehidupan ini berbuat yang baik daripada masa – masa terdahulu. Sebab setiap orang mengharapkan adanya kehidupan yang baik dan lebih menyenangkan di masa – masa yang akan datang.
Sebagai contoh pelaksanaan Tri Kaya Parisudha dalam kehidupan sehari – hari yaitu :
– Tidak menuyiksa atau membunuh mahluk lain misalnya : menyakiti hewan hingga mati dipakai dalam permainan.
– Tidak melakukan kecurangan terhadap harta benda, termasuk benda – benda yang tidak habis untuk di curi. Seperti : udara, air dan lain sebagainya secara paksa untuk memenuhi keinginannya.
– Tidak melakukan pemerkosaan / berzinah tekanan atau paksaan terhadap orang yang lebih lemah dan menuruti hawa nafsu, misalnya berjudi, minum – minuman keras, narkotika, dan lain sebagainya.
B. WACIKA PARISUDHA
Perkataan yang baik, manis di dengarkan oleh setiap orang . perkataan itu patut timbul dari hati yang tulus, lemah lembut penyamapaiannya dan menyenangkan hati pendengarnya. Untuk dapat berkata yang baik patut dipikirkan terlebih dahulu. Terlanjurnya berkata – kata akan sulit ditarik kembali. Kata – kata merupakan saran komunikasi yang paling cepat diterima di dalam pergaulan, perhubungan, pendidikan, penyuluhan, penerangan dan lain sebagainya. Pustaka Manusmrta IV. 256 menyatakan perkataan itu menguasai segala sesuatu yang disebutkan sebagai berikut :
“ Warcyartha niyatah sarve wang mule wagwinih
Srtah, tam ta yah stenayedwacam sah sarwate
Yakrnnatah”.
Maksudnya :
Segala sesuatu dikuasai oleh perkataan, perkataanlah
Akar dan asal sesuatu orang tidak jujur dalam
Kata – kata, sesungguhnya tidak jujur dalam segalanya.
Mengeluarkan kata – kata patut disadari sebab ada empat hal yang akan diperoleh seperti dinyatakan dalam pustaka Nitisastra dalam bentuk kekawin pada Sargah V sebagai berikut :
Wasita nimittanta menemu laksmi
Wasita nimittanta pati kepangguh
Wasita nimittanta menemu duhka
Wasita nimittanta menemu mitra
Artinya :
Oleh perkataan engkau akan medapat kebahaiaan
Oleh perkataan engkau akan medapat kematian
Oleh perkataan engkau akan medapat kesusahan
Oleh perkataan engkau akan medapat sahabat
Perkataan yang baik diusahakan untuk akawe suka wong len yaitu : Mengusahakan kesenangan untuk orang lain, karena orang lainlah yang akan mendengar dan merasakannya
Perkatan sangat perlu diperhatikan dan diteliti sebelum dikeluarkan karena perkataan merupakan alat yang penting bagi kita, guna menyampaikan segala isi hati dan maksud seseorang. Dari kata – kata kita dapat pula memperoleh suatu pengetahuan, mendapatkan suatu hiduran, serta nasehat – nasehat yang sangat berguna baik bagi kita maupun orang lain. Dengan kata – kata, orang dapat membuat susah orang lain.
Sebagai contoh pelaksanaan Wacika Parisudha dalam kehidupan sehari – hari, ada empat hala yang disebutkan yaitu :
Tidak berkata – kata buruk yang dapat menyakiti hati / perasaan misalnya : mencaci maki, menghina, mencela, mengejek, dan lain – lain
Tidak berkata kasar kepada mahluk lain, misalnya mengancam, menghina, menghardik
Tidak memfitnah misalnya tidak mengadakan atau membuat laporan palsu untuk mengadu teman supaya bercekcok.
Tidak ingkar pada janji atau ucapan, misalnya menepati waktu sesuai dengan janji yang telah diucapkan, tidak berkata bohong.
C. MANACIKA PARISUDHA
Manacika berarti perilaku yang berhubungan dengan pikiran. Manacika Parisudha adalah berpikir yang benar dan suci. Diantara Tri Kaya Parisudha ini, pikiranlah yang menentukan dan memegang peranan. Apa saja yang terdapat dalam pikiran akan tercetus dalam kata – kata, dan terwujud pula dalam perbuatan. Pikiran adalah sumber segala apa yang dilakukan oleh seseorang. Baik buruk perbuatan seseorang merupakan pencerminan dari pikiran. Bila baik dan suci pikiran seseorang, maka sudah tentu perbuatan dan segala penampilan akan bersih dan baik. Apabila diperhatikan benar – benar tentang segala perbuatan manusia di dunia ini, semuanya berpangkal pada pikiran. Dalam Pustaka kekawin Ramayana Sarah 1,4 disebutkan :
“ Ragadi musuh mapara, ri hati ya tong wanya
Tan madoh ring awak “…….
Artinya :
Hawa nafsu dan lain – lainnya adalah musuh yang dekat.
Di dalam hati tempatnya tidak jauh dari diri sendiri.
Kehidupan manusia dihadapkan dengan berbagai maslah dalam kesempatan hidupnya. Maslah – masalah itu akan bisa dihadapi, bila hati atau pikiran dapat dikendalikan terhadap hawa nafsu – hawa nafsu yang mempengaruhinya.
Pikiranlah yang merupakan pangkalnya perbuatan. Dari pikiran yang terkendali baik, akan menimbulkan perbuatan yang baik dan dari pemikiran yang buruk akan menimbulkan perbuatan yang tidak baik.
Ajaran Manacika Parisudha menuntun manusia untuk berpikir yang baik, berusaha menolong dirinya dengan mengendalikan pikirannya sebelum akan berkata – kata dan berbuat. Mereka yang kuat mengendalikan pikirannya sehingga tidak mengumbar hawa nafsunya akan lebih mudah mencapai cita – citanya. Mereka tidak banyak digoda atau diperbudak oleh hawa nafsunya. Demikian sebaliknya mereka yang kurang mampu mengendalikan hawa nafsunya sulit akan mencapai cita – citanya sebab itu diperbudak, pikirannya terbelenggu hingga lupa apa yang dilakukan. Dalam hubungan ini ada benarnya nasihat orang – orang tua kita yang ering berpesan
“ Pikirkan baik – baik terlebih dahulu sebelum akan berbuat
Jangan sampai keburu nafsu, sebab apa yang telah lewat
Sulit akan dikejar “.
Contoh lain dapat kita ambil dari cerita Arjuna Wiwaha, dimana Arjuna berhasil melaksanakan tapanya, karena pikirannya terkendali kuat, melawan berbagai macam godaan nafsu. Rasa marah atau Krodha yang sering dapat dirasakan oleh setiap orang. Berpangkal pada pikiran dan hal itu patut dikendalikan agar kita tidak sampai kehilangan rasa keseimbangan dalam diri. Apabila kita tidak kuat mengendalikan pikiran inilah kemudian yang dapat menimbulkan sakit, bingung, marah, benci, stress, gila, tidak ingin makan dan minum, tidur akibat pikirannya terganggu.
Sebagai contoh pelaksanaan Manacika Parisudha dalam kehidupan sehari – hari, ada tiga hal disebutkan yaitu :
Tidak mengingini sesuatu yang tidak kekal.
Misalnya : – tidak ingin kepada hal – hal yang terlarang
– tidak meras iri maupun dengki pada kepunyaan ( milik orang lain.
2. Tidak berpikir buruk terhadap mahluk lain
Misalnya : – Tidak mempunyai niat marah terhadap sesama manusia.
– Tidak mempunyai niat marah terhadap mahluk – mahluk lain
3. Tidak mengingkari Karma Phala
Misalnya : – Percaya dan yakin akan adanya hukum karma ( hasil perbuatan ) itu.
1.3 Manfaat dan makna pelaksanaan tri kaya parisudha dalam kehidupan sehari – hari.
Apabila Tri Kaya Parisudha tersebut dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari – hari, maka manfaat dan maknanya akan dapat dirasakan baik secara pribadi maupun golongan atau kelompok secara keseluruhan.
Manfaat – manfaat yang diperoleh adalah dari :
Kayika Parisudha.
– Setiap orang tidak berani menyiksa, manyakiti, dan membunuh mahluk lain.
– Setiap orang tidak berani mempergunakan kekerasan ( secara paksa ) untuk merebut benda yang diinginkannya dari orang lain.
– Setiap orang tidak berani memaksa orang lain untuk berjudi, minum – minuman keras, mengisap ganja, narkotik dan lain – lain
Wacika Parisudha
– Setiap orang selalu berusaha berkata –kata yang baik ( tidak menyinggung perasaan )
– Setiap orang takut berkata – kata kasar, tidak menghina, mengancam, dan menghardik
– Setiap orang tidak berani memfitnah, mengadakan laporan palsu untuk mengadukan teman
– Setiap orang selalu satia wacana, yaitu menepati janji dan tidak berani berbohong.
Manacika Parisudha
– Seseorang akan selalu berpikir untuk memperoleh sesuatu secara halal.
– Selalu berpikir baik terhadap mahluk lain yang didasari oleh semua mahluk adalah ciptaan Tuhan.
– Mempercayai dan meyakini adanya hukum karma yaitu semua perbuatan pasti memperoleh hasil.
Makna yang diperoleh dari pelaksanaan Tri Kaya Parisudha dalam kehidupan sehari – hari adalah :
setiap orang akan selalu berpikir telebih dahulu sebelum berkata ataupun berbuat.
Setiap orang akan menjadi sopan santun dalam kehidupannya
Kehidupan manusia di dunia ini akan tertib sehingga keadaan menjadi aman, tentram dan damai.
Setiap orang tidak merasa was – was, takut ataupun curiga, karena masing – masing dapat mengendalikan dirinya.
Di awal kita sudah membahas bahwa dengan adanya pikiran yang baik akan timbul perkataan yang baik sehingga mewujudkan karma yang baik pula. Dan dari perbuatan yang buruk akan dihasilkan karma yang buruk pula. Jadi segala sesuatu yang kita perbuat akan ada karmanya. Untuk itu kita akan mengenal yang namanya KARMA PHALA..
HUKUM KARMA PHALA (SEBAB-AKIBAT)
Karman (Hukum Karma Phala)
Kata Karma berasal dari bahasa Sanskerta yaitu dari akar kata Kr, yang artinya berbuat atu bekerja. Perbuatan tersebut ada yang baik dan ada yang buruk. Perbuatan baik disebut Subha Karma dan yang buruk Asubha Karma. Dan semuanya itu disebut Karma. Sumber karma ada 3 yaitu Manah atau pikiran, Wacika atau perkataan, Kayika atau perbuataan. Dalam kitab Slokantara dijelaskan “Karma Phala Ngaran Ika Phalaning Gawe Hala Hayu” artinya karma phala itu adalah akibat (phala) dari baik dan buruk suatu perbuatan. Adapun sifat-sifat dari hukum karma phala yaitu:
a. Bersifat pasti dan tak terbatalkan
b. Bersifat adil sesuai dengan karma
c. Bersifat universal
Adapun manfaatnya bagi eksistensi dan hakikat sebagai manusia adalah sebagai berikut:
1 . memotifasi seseorang untuk selalu berbuat baik,
2 .memotifasi seseorang untuk selalu bersikap positif dan dinamis serta tidak mudah Putus asa,
3. memotivasi seseorang untuk selalu bekerja tanpa pamrih.
Karma ialah segala perbuatan dan kegiatan yang kita lakukan tanpa kecuali, baik yang secara sadar maupun yang kita laksanakan secara tidak sadar. Bentuk-bentuk karma sesuai dengan sumbernya ada tiga macam yaitu:
1. Karma dalam bentuk pikiran
2. Karma dalam bentuk ucapan
3. Karma dalam bentuk perbuatan atau tingkah laku
Jika begitu, dapat diungkapkan bahwa yang dimaksud dengan Karma ialah segala kegiatan dalam bentuk pikiran, ucapan dan perbuatan baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Seperti halnya petani yang menanam jagung atau singkong, pasti dia akan memetik jagung atau singkong, karena kelak jagung itu pasti akan berbuah, dan kelak singkong itu pasti akan berumbi dan si petanipun akan mendapatkan hasil dari apa yang ia tanam.
Begitu juga halnya dengan karma perbuatan yang dilakukan oleh manusia pasti akan menimbulkan hasil buah atau akibat. Hasil dari perbuatan itulah yang disebut Karma Phala. Kata phala berarti buah atau hasil, dan yang akan menerima Karma Phala atau buah karma itu adalah orang yang berbuat atau yang memiliki karma itu, sebab ia sendiri yang melakukan karma itu. Jika ia berbuat karma yang baik, maka ia akan memperoleh hasil yang baik pula, dan sebaliknya jika ia melakukan karma yang buruk maka hasilnya akan buruk pula. Keadaan atau kejadian seperti itulah yang disebut Hukum Karma.
Hukum Karma adalah Hukum alam yang menjelaskan bahwa segala perbuatan akan menimbulkan hasil, perbuatan baik akan menimbulkan kebaikan dan perbuatan jahat akan menimbulkan kejahatan (penderitaan). Hal itu sesuai dengan hukum sebab akibat yang menyatakan bahwa setiap sebab akan menimbulkan akibat. Maksudnya segala sebab yang berupa perbuatan akan membawa akibat sebagai hasil perbuatan itu, karena kata perbuatan sama dengan “karma” maka dapat kita katakan sebagai berikut: segala karma atau (perbuatan) akan mengakibatkan Karma Phala (hasil/buah perbuatan).
Pengaruh hukum ini pulalah yang menentukan corak serta nilai dan eksistensi dari pada watak manusia. Hal ini menimbulkan adanya bermacam-macam ragam watak manusia di dunia ini. Terlebih-lebih hukuman kepada roh yang selalu melakukan dosa semasa penjelmaannya, maka derajatnya akan semakin bertambah merosot. Hal ini disebutkan dalam Weda sebagai berikut:
Dewanam narakam janturjantunam narakam pacuh,
Pucunam narakam nrgo mrganam narakam khagah,
Paksinam narakam vyalo vyanam narakam damstri,
Damstrinam narakam visi visinam naramarane
(Clokantara.40.13-14)
Dewa neraka (menjelma) menjadi manusia. Manusia neraka (menjelma) menjadi ternak. Ternak menjadi binatang buas, binatang buas neraka menjadi burung, burung neraka menjadi ular, dan ular neraka menjadi taring. (serta taring) yang jahat menjadi bisa (yakni) bisa yang dapat membahayakan manusia.
Setiap perbuatan yang kita lakukan di dunia ini baik atau buruk akan memberikan hasil. Tidak ada perbuatan sekecil apapun yang luput dari hasil atau pahala, langsung maupun tidak langsung pahala itu pasti akan datang. Kita percaya bahwa perbuatan yang baik atau Subha Karma membawa hasil yang menyenangkan atau baik. Sebaliknya perbuatan yang buruk atau Asubha Karma akan membawa hasil yang duka atau tidak baik.
Perbuatan – perbuatan buruk atau Asubha Karma menyebabkan Atma jatuh ke Neraka, dimana ia mengalami segala macam siksaan. Bila hasil perbuatan jahat itu sudah habis terderita, maka ia akan menjelma kembali ke dunia sebagai binatang atau manusia sengsara (Neraka Syuta). Namun, bila perbuatan – perbuatan yang dilakukan baik maka berbagai kebahagiaan hidup akan dinikmati di sorga. Dan bila hasil dari perbuatan – perbuatan baik itu sudah habis dinikmati, kelak menjelma kembali ke dunia sebagai orang yang bahagia dengan mudah ia mendapatkan pengetahuan yang utama (Surga Syuta).
Dalam lontar Atmaprangsangsa Agama dinyatakan bermacam-macam tempat yang disediakan oleh Sang Hyang Yamadipati untuk menghukum -attnd yang mendapat neraka,yaitu sebagai berikut :
1. Kawah Tamra Gohmukha (Kawah Weci)
Atma yang pada kehidupannya selalu berbuat jahat (jenek ring pangan kinum), sampaimerugikan orang lain maka atma itu akan dibuang ke dalam kawah Tamra Gohmukha.
2. Batu Macepak
Atma yang penuh dengan dosa-dosa akibat perbuatan mulutnya yang tidak baik makadia dihukum di batu ini.
3.Tihing Petung dengan di bawahnya jurang
Tempat hukuman bagi atma yang penuh dosa karena melaksanakan black magic (ilmuhitam)
4.Titi Ugal-Agil
Tempat hukuman bagi atma yang pada waktu hidupnya suka memfitnah (ngerajapisurta) dan mengada-ada (berbohong).
5.Kayu Curiga
Tempat menghukum atma yang penuh dosa karena bermain cinta dengan bukan istrinyasendiri.
6.Tegal penangsaran
Disediakan bagi atma yang penuh dosa karena perbuatannya selalu membuat orang
lainsengsara/ panas hati
Jika dilihat dari sudut waktu, Karma phala dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
a. Sancita Karma Phala
Sancita Karma Phala adalah hasil dari perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita sekarang. Bila karma kita pada kehidupan yang terdahulu baik, maka kehidupan kita sekarang akan baik pula ( senang, sejahtera, bahagia ). Sebaliknya bila perbuatan kita terdahulu buruk maka kehidupan kita yang sekarang inipun akan buruk ( selalu menderita, susah, dan sengsara ). Atau sering disebut Karma Phala Dahulu-Sekarang.
b. Prarabda Karma Phala
Prarabda Karma Phala adalah hasil dari perbuatan kita pada kehidupan sekarang ini tanpa ada sisanya, sewaktu masih hidup telah dapat memetik hasilnya, atas karma yang dibuat sekarang. Sekarang menanam kebijaksanaan dan kebajikan pada orang lain dan seketika itu atau beberapa waktu kemudian dalam hidupnya akan menerima pahala, berupa kebahagiaan. Sebaliknya sekarang berbuat dosa, maka dalam hidup ini dirasakan dan diterima hasilnya berupa penderitaan akibat dari dosa itu. Prarabda karma phala dapat diartikan sebagai karma phala cepat. Atau serng disubut Karma Phala Sekarang-sekarang.
c. Kriyamana Karma Phala
Kriyamana Karma Phala adalah pahala dari perbuatan yang tidak dapat dinikmati langsung pada kehidupan saat berbuat. Tetapi, akibat dari perbuatan pada kehidupan sekarang akan dan di terima pada kehidupan yang akan datang, setelah orangnya mengalami proses kematian serta pahalanya pada kelahiran berikutnya. Apabila karma pada kehidupan yang sekarang baik maka pahala pada kehidupan berikutnya adalah hidup bahagia, dan apabila karma pada kehidupan sekarang buruk maka pahala yang kelak dikehidupan mendatang diterima berupa kesengsaraan. Atau sering disebut dengan Karma Phala Sekarang – akan datang.
Tegasnya cepat atau lambat, dalam kehidupan sekarang atau nanti, segala pahala dari perbuatan itu pasti diterima karena sudah merupakan hukum. Kita tidak dapat menghindari hasil perbuatan kita itu baik atau buruk. Maka kita selaku manusia yang dilengkapi dengan bekal kemampuan berpikir, patutlah sadar bahwa penderitaan dapat diatasi dengan memilih perbuatan baik. Manusia dapat berbuat atau menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan berbuat baik, demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.
Kata Karma berasal dari bahasa Sanskerta yaitu dari akar kata Kr, yang artinya berbuat atu bekerja. Perbuatan tersebut ada yang baik dan ada yang buruk. Perbuatan baik disebut Subha Karma dan yang buruk Asubha Karma. Dan semuanya itu disebut Karma. Sumber karma ada 3 yaitu Manah atau pikiran, Wacika atau perkataan, Kayika atau perbuataan. Dalam kitab Slokantara dijelaskan “Karma Phala Ngaran Ika Phalaning Gawe Hala Hayu” artinya karma phala itu adalah akibat (phala) dari baik dan buruk suatu perbuatan. Adapun sifat-sifat dari hukum karma phala yaitu:
a. Bersifat pasti dan tak terbatalkan
b. Bersifat adil sesuai dengan karma
c. Bersifat universal
Adapun manfaatnya bagi eksistensi dan hakikat sebagai manusia adalah sebagai berikut:
1 . memotifasi seseorang untuk selalu berbuat baik,
2 .memotifasi seseorang untuk selalu bersikap positif dan dinamis serta tidak mudah Putus asa,
3. memotivasi seseorang untuk selalu bekerja tanpa pamrih.
Karma ialah segala perbuatan dan kegiatan yang kita lakukan tanpa kecuali, baik yang secara sadar maupun yang kita laksanakan secara tidak sadar. Bentuk-bentuk karma sesuai dengan sumbernya ada tiga macam yaitu:
1. Karma dalam bentuk pikiran
2. Karma dalam bentuk ucapan
3. Karma dalam bentuk perbuatan atau tingkah laku
Jika begitu, dapat diungkapkan bahwa yang dimaksud dengan Karma ialah segala kegiatan dalam bentuk pikiran, ucapan dan perbuatan baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Seperti halnya petani yang menanam jagung atau singkong, pasti dia akan memetik jagung atau singkong, karena kelak jagung itu pasti akan berbuah, dan kelak singkong itu pasti akan berumbi dan si petanipun akan mendapatkan hasil dari apa yang ia tanam.
Begitu juga halnya dengan karma perbuatan yang dilakukan oleh manusia pasti akan menimbulkan hasil buah atau akibat. Hasil dari perbuatan itulah yang disebut Karma Phala. Kata phala berarti buah atau hasil, dan yang akan menerima Karma Phala atau buah karma itu adalah orang yang berbuat atau yang memiliki karma itu, sebab ia sendiri yang melakukan karma itu. Jika ia berbuat karma yang baik, maka ia akan memperoleh hasil yang baik pula, dan sebaliknya jika ia melakukan karma yang buruk maka hasilnya akan buruk pula. Keadaan atau kejadian seperti itulah yang disebut Hukum Karma.
Hukum Karma adalah Hukum alam yang menjelaskan bahwa segala perbuatan akan menimbulkan hasil, perbuatan baik akan menimbulkan kebaikan dan perbuatan jahat akan menimbulkan kejahatan (penderitaan). Hal itu sesuai dengan hukum sebab akibat yang menyatakan bahwa setiap sebab akan menimbulkan akibat. Maksudnya segala sebab yang berupa perbuatan akan membawa akibat sebagai hasil perbuatan itu, karena kata perbuatan sama dengan “karma” maka dapat kita katakan sebagai berikut: segala karma atau (perbuatan) akan mengakibatkan Karma Phala (hasil/buah perbuatan).
Pengaruh hukum ini pulalah yang menentukan corak serta nilai dan eksistensi dari pada watak manusia. Hal ini menimbulkan adanya bermacam-macam ragam watak manusia di dunia ini. Terlebih-lebih hukuman kepada roh yang selalu melakukan dosa semasa penjelmaannya, maka derajatnya akan semakin bertambah merosot. Hal ini disebutkan dalam Weda sebagai berikut:
Dewanam narakam janturjantunam narakam pacuh,
Pucunam narakam nrgo mrganam narakam khagah,
Paksinam narakam vyalo vyanam narakam damstri,
Damstrinam narakam visi visinam naramarane
(Clokantara.40.13-14)
Dewa neraka (menjelma) menjadi manusia. Manusia neraka (menjelma) menjadi ternak. Ternak menjadi binatang buas, binatang buas neraka menjadi burung, burung neraka menjadi ular, dan ular neraka menjadi taring. (serta taring) yang jahat menjadi bisa (yakni) bisa yang dapat membahayakan manusia.
Setiap perbuatan yang kita lakukan di dunia ini baik atau buruk akan memberikan hasil. Tidak ada perbuatan sekecil apapun yang luput dari hasil atau pahala, langsung maupun tidak langsung pahala itu pasti akan datang. Kita percaya bahwa perbuatan yang baik atau Subha Karma membawa hasil yang menyenangkan atau baik. Sebaliknya perbuatan yang buruk atau Asubha Karma akan membawa hasil yang duka atau tidak baik.
Perbuatan – perbuatan buruk atau Asubha Karma menyebabkan Atma jatuh ke Neraka, dimana ia mengalami segala macam siksaan. Bila hasil perbuatan jahat itu sudah habis terderita, maka ia akan menjelma kembali ke dunia sebagai binatang atau manusia sengsara (Neraka Syuta). Namun, bila perbuatan – perbuatan yang dilakukan baik maka berbagai kebahagiaan hidup akan dinikmati di sorga. Dan bila hasil dari perbuatan – perbuatan baik itu sudah habis dinikmati, kelak menjelma kembali ke dunia sebagai orang yang bahagia dengan mudah ia mendapatkan pengetahuan yang utama (Surga Syuta).
Dalam lontar Atmaprangsangsa Agama dinyatakan bermacam-macam tempat yang disediakan oleh Sang Hyang Yamadipati untuk menghukum -attnd yang mendapat neraka,yaitu sebagai berikut :
1. Kawah Tamra Gohmukha (Kawah Weci)
Atma yang pada kehidupannya selalu berbuat jahat (jenek ring pangan kinum), sampaimerugikan orang lain maka atma itu akan dibuang ke dalam kawah Tamra Gohmukha.
2. Batu Macepak
Atma yang penuh dengan dosa-dosa akibat perbuatan mulutnya yang tidak baik makadia dihukum di batu ini.
3.Tihing Petung dengan di bawahnya jurang
Tempat hukuman bagi atma yang penuh dosa karena melaksanakan black magic (ilmuhitam)
4.Titi Ugal-Agil
Tempat hukuman bagi atma yang pada waktu hidupnya suka memfitnah (ngerajapisurta) dan mengada-ada (berbohong).
5.Kayu Curiga
Tempat menghukum atma yang penuh dosa karena bermain cinta dengan bukan istrinyasendiri.
6.Tegal penangsaran
Disediakan bagi atma yang penuh dosa karena perbuatannya selalu membuat orang
lainsengsara/ panas hati
Jika dilihat dari sudut waktu, Karma phala dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
a. Sancita Karma Phala
Sancita Karma Phala adalah hasil dari perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita sekarang. Bila karma kita pada kehidupan yang terdahulu baik, maka kehidupan kita sekarang akan baik pula ( senang, sejahtera, bahagia ). Sebaliknya bila perbuatan kita terdahulu buruk maka kehidupan kita yang sekarang inipun akan buruk ( selalu menderita, susah, dan sengsara ). Atau sering disebut Karma Phala Dahulu-Sekarang.
b. Prarabda Karma Phala
Prarabda Karma Phala adalah hasil dari perbuatan kita pada kehidupan sekarang ini tanpa ada sisanya, sewaktu masih hidup telah dapat memetik hasilnya, atas karma yang dibuat sekarang. Sekarang menanam kebijaksanaan dan kebajikan pada orang lain dan seketika itu atau beberapa waktu kemudian dalam hidupnya akan menerima pahala, berupa kebahagiaan. Sebaliknya sekarang berbuat dosa, maka dalam hidup ini dirasakan dan diterima hasilnya berupa penderitaan akibat dari dosa itu. Prarabda karma phala dapat diartikan sebagai karma phala cepat. Atau serng disubut Karma Phala Sekarang-sekarang.
c. Kriyamana Karma Phala
Kriyamana Karma Phala adalah pahala dari perbuatan yang tidak dapat dinikmati langsung pada kehidupan saat berbuat. Tetapi, akibat dari perbuatan pada kehidupan sekarang akan dan di terima pada kehidupan yang akan datang, setelah orangnya mengalami proses kematian serta pahalanya pada kelahiran berikutnya. Apabila karma pada kehidupan yang sekarang baik maka pahala pada kehidupan berikutnya adalah hidup bahagia, dan apabila karma pada kehidupan sekarang buruk maka pahala yang kelak dikehidupan mendatang diterima berupa kesengsaraan. Atau sering disebut dengan Karma Phala Sekarang – akan datang.
Tegasnya cepat atau lambat, dalam kehidupan sekarang atau nanti, segala pahala dari perbuatan itu pasti diterima karena sudah merupakan hukum. Kita tidak dapat menghindari hasil perbuatan kita itu baik atau buruk. Maka kita selaku manusia yang dilengkapi dengan bekal kemampuan berpikir, patutlah sadar bahwa penderitaan dapat diatasi dengan memilih perbuatan baik. Manusia dapat berbuat atau menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan berbuat baik, demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.
Kamis, 06 Oktober 2016
SORGA DAN NERAKA BUKANLAH TUJUAN AKHIR
Tujuan Hidup Manusia Menurut Agama Hindu, “Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharmah" Bukan Promosi Surga Atau Neraka
Agama Hindu memberikan tempat yang utama terhadap ajaran tentang dasar dan tujuan hidup manusia. Dalam ajaran Agama Hindu ada suatu sloka yang berbunyi: “Moksartham Jagadhita ya ca iti dharmah“, yang berarti bahwa tujuan beragama adalah untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan ketentraman batin (kedamaian abadi). Ajaran tersebut dijabarkan dalam konsep Catur Purusa artha atau catur warga adalah empat dasar dan tujuan hidup manusia.
Dharma
Tujuan manusia menurut agama Hindu disebut Catur Purusartha (empat tujuan akhir). Tujuan hidup yang pertama adalah dharma. Sebagaimana telah dijelaskan didepan, dharma berarti agama atau kewajiban. Pertama-tama manusia haruslah menjadi manusia beragama. Beragama berarti hidup bermoral. Hidup bermoral merupakan landasan bagi tujuan tujuan hidup berikutnya.
Artha
Tujuan hidup kedua adalah Artha. Artha artinya materi atau secara sempit disebut uang, secara luas artha diartikan sebagai keberhasilan atau kesuksesan. Untuk hidupnya manusia memerlukan materi. Tanpa materi bagaimana kita menyelenggarakan kehidupan rumah tangga, pendidikan dan kewajiban- kewajiban agama?
Tapi materi atau kesuksesan itu harus dicapai berdasarkan landasan agama dan dipergunakan sesuai dengan moral agama.
Kama
Tujuan hidup yang ketiga adalah Kama. Kama dalam arti sempit dimaksudkan kesenangan karena aktivitas seksual. Aktivitas seksual pertama-tama berfungsi sebagai prokreasi (regenerasi dan penerusan keturunan). Kedua aktivitas seksual berfungsi rekreasi (re=kembali, kreasi=menciptakan), peneguhan (kembali) hubungan cinta kasih antara suami dan isteri. Sekali lagi, kama harus dilandasi oleh dharma. Hubungan seksual itu harus dilakukan dalam kerangka perkawinan yang sah. Dalam arti luas kama juga mencakup kesenangan-kesenangan yang lain, misalnya yang ditimbulkan oleh keindahan dan seni.
Keseimbangan Jiwa dan Raga
Sebagaimana dikatakan dalam bahasan sebelumnya (Atman : Jiwa yang Kekal), manusia terdiri dari dua aspek yang saling melingkupi, yaitu badan dan jiwa. Masing-masing aspek ini, memiliki kebutuhan-kebutuhan tertentu. Artha dan kama (lebih) merupakan tujuan dari raga dan badan kita. Sedangkan dharma dan moksha merupakan tujuan dari jiwa kita.
Jadi kebutuhan raga dan jiwa kita harus dipenuhi secara seimbang. Agama Hindu sama sekali tidak mengajarkan pemeluknya untuk mengabaikan dunia. Tapi agama Hindu juga tidak mengajarkan kita hanya memikirkan dunia. Tujuan kita yang tertinggi yaitu moksha dicapai melalui perjalanan kita dalam kehidupan didunia ini. Jadi dapat dikatakan ketiga tujuan di atas, yaitu dharma, artha dan kama, merupakan tangga bagi tujuan hidup yang terakhir yaitu moksha. Bagaimana kita memperoleh ketiga tujuan ini, bagaimana kita mempergunakan artha dan kama akan menentukan apakah kita akan mencapai tujuan tertinggi itu atau tidak.
Surga adalah Persinggahan Sementara.
Dalam agama Hindu surga merupakan persinggahan sementara. Menurut Swami Dayananda Saraswati, surga adalah pengalaman liburan. Seperti seorang pergi ke Hawai atau ke Bali untuk bersenang-senang sebentar membelanjakan uangnya dan kemudian kembali ke rumahnya.
Bagavad Gita mengatakan :
“Setelah menikmati surga yang luas, mereka kembali kedunia ini sesuai ajaran kitab suci. Demi kenikmatan mereka datang dan pergi”.
Surga adalah kesenangan sementara (pleasure). Sedangkan kebahagiaan yang sejati (Joy atau happiness) adalah Moksha.
Agama Hindu memberikan tempat yang utama terhadap ajaran tentang dasar dan tujuan hidup manusia. Dalam ajaran Agama Hindu ada suatu sloka yang berbunyi: “Moksartham Jagadhita ya ca iti dharmah“, yang berarti bahwa tujuan beragama adalah untuk mencapai kesejahteraan jasmani dan ketentraman batin (kedamaian abadi). Ajaran tersebut dijabarkan dalam konsep Catur Purusa artha atau catur warga adalah empat dasar dan tujuan hidup manusia.
Dharma
Tujuan manusia menurut agama Hindu disebut Catur Purusartha (empat tujuan akhir). Tujuan hidup yang pertama adalah dharma. Sebagaimana telah dijelaskan didepan, dharma berarti agama atau kewajiban. Pertama-tama manusia haruslah menjadi manusia beragama. Beragama berarti hidup bermoral. Hidup bermoral merupakan landasan bagi tujuan tujuan hidup berikutnya.
Artha
Tujuan hidup kedua adalah Artha. Artha artinya materi atau secara sempit disebut uang, secara luas artha diartikan sebagai keberhasilan atau kesuksesan. Untuk hidupnya manusia memerlukan materi. Tanpa materi bagaimana kita menyelenggarakan kehidupan rumah tangga, pendidikan dan kewajiban- kewajiban agama?
Tapi materi atau kesuksesan itu harus dicapai berdasarkan landasan agama dan dipergunakan sesuai dengan moral agama.
Kama
Tujuan hidup yang ketiga adalah Kama. Kama dalam arti sempit dimaksudkan kesenangan karena aktivitas seksual. Aktivitas seksual pertama-tama berfungsi sebagai prokreasi (regenerasi dan penerusan keturunan). Kedua aktivitas seksual berfungsi rekreasi (re=kembali, kreasi=menciptakan), peneguhan (kembali) hubungan cinta kasih antara suami dan isteri. Sekali lagi, kama harus dilandasi oleh dharma. Hubungan seksual itu harus dilakukan dalam kerangka perkawinan yang sah. Dalam arti luas kama juga mencakup kesenangan-kesenangan yang lain, misalnya yang ditimbulkan oleh keindahan dan seni.
Keseimbangan Jiwa dan Raga
Sebagaimana dikatakan dalam bahasan sebelumnya (Atman : Jiwa yang Kekal), manusia terdiri dari dua aspek yang saling melingkupi, yaitu badan dan jiwa. Masing-masing aspek ini, memiliki kebutuhan-kebutuhan tertentu. Artha dan kama (lebih) merupakan tujuan dari raga dan badan kita. Sedangkan dharma dan moksha merupakan tujuan dari jiwa kita.
Jadi kebutuhan raga dan jiwa kita harus dipenuhi secara seimbang. Agama Hindu sama sekali tidak mengajarkan pemeluknya untuk mengabaikan dunia. Tapi agama Hindu juga tidak mengajarkan kita hanya memikirkan dunia. Tujuan kita yang tertinggi yaitu moksha dicapai melalui perjalanan kita dalam kehidupan didunia ini. Jadi dapat dikatakan ketiga tujuan di atas, yaitu dharma, artha dan kama, merupakan tangga bagi tujuan hidup yang terakhir yaitu moksha. Bagaimana kita memperoleh ketiga tujuan ini, bagaimana kita mempergunakan artha dan kama akan menentukan apakah kita akan mencapai tujuan tertinggi itu atau tidak.
Surga adalah Persinggahan Sementara.
Dalam agama Hindu surga merupakan persinggahan sementara. Menurut Swami Dayananda Saraswati, surga adalah pengalaman liburan. Seperti seorang pergi ke Hawai atau ke Bali untuk bersenang-senang sebentar membelanjakan uangnya dan kemudian kembali ke rumahnya.
Bagavad Gita mengatakan :
“Setelah menikmati surga yang luas, mereka kembali kedunia ini sesuai ajaran kitab suci. Demi kenikmatan mereka datang dan pergi”.
Surga adalah kesenangan sementara (pleasure). Sedangkan kebahagiaan yang sejati (Joy atau happiness) adalah Moksha.
CARA MEMPEROLEH WARIS
Cara Memperoleh Waris atau Keturunan Laki-Laki Dengan Cepat
Tujuan setiap orang atau manusia adalah kebahagiaan. Keluarga yang bahagia adalah dambaan setiap orang. Seorang anak yang lahir adalah harta yang tidak ternilai harganya bagi setiap keluarga. Di dalam terbentuknya keluarga yang bahagia dan kekal adalah terciptanya seorang anak baik laki-laki maupun perempuan. Untuk mendambakan seorang anak yang suputra diperlukan persiapan yang sangat baik
Bayi dalam kandungan bisa terwujud berkat pertemuan antara kama petak dan kama bang yang juga disebut cukla swanita yang keluar dari purusa (laki-laki) dan pradana (wanita). Kama petak adalah unsure laki-laki yang juga disebut cukla yang disimbolkan dengan Sang Hyang Semara. Sedangkan kama bang adalah unsure perempuan yang juga disebut swanita, yang disimbolkan dengan Dewi Ratih. Kama petak dan kama bang yang disebut cukla swanita itu, lalu disimbolkan dengan Sang Hyang Semara Ratih. Menurut salinan lontar Smara Kriddha Laksana bahwa suami istri yang melakukan hubungan romantis, terlebih dahulu hendaknya mengucapkan mantra
"Om krong karetaya sampurana Dewa Manggala ya namah"
Dalam hubungan romantis suami dan istri agar memperoleh keturunan dan anak bijaksana, maka sebaiknya mengucapkan mantra terlebih dahulu seperti :
"Om rang Rudra ya namah, idep sire sadkrosa"
Kalau menginginkan anak yang selalu berhasil dalam hidupnya nanti, mantra yang diucapkan :
"Om jrung mrtyuncaya ya namah"
Selain itu suami istri harus melakukan pantangan yaitu dilarang membunuh makhluk hidup dan hati selalu cinta damai. Kalau ingin memiliki putra pintar, mantra yang diucapkan :
"Om crikomadewa ya namah", bratanya ialah suami istri melakukan seuatu hubungan romantis itu hendaknya saling asih.
Dari Pernyataan tersebut juga disebutkan cara memperoleh anak laki-laki, ada beberapa macam ketentuan adalah sebagai berikut :
suami menulis beberapa huruf pada ibu jari tangan kanan dan ibu jari kaki kanan yang bunyinya: "Apurusa bhawati". Kemudian melakukan hubungan romantis pada siang hari dan konsentrasikan pikiran ke Sang Hyang Kamajaya
Memakai sarana antara lain: embotan pandan “asti” (bagian pangkal dan muda serta warnanya putih yang didapat dengan jalan menarik daunnya pada bagian atas dari pohon pandan asti tersebut) dipakai rujak yang dilengkapi pula dengan arak, terasi merah. Rujak itu ditempatkan pada mangkuk sutra dan disertai mantra: “Om cupu-cupu mirah dewaning buwel, tengan maisi putra, petu maha pekik. Om sidhi mantramku.” Setelah itu rujak tadi dimakan bersama-sama dan selanjutnya berpuasa selama sehari.
Pada ibu jari tangan kanan si istri, hendaknya diberi suatu tulisan, seperti inilah rajahnya :
Selain tersebut diatas, waktu sangat menentukan untuk dilihat dalam hubungan romantis. Adapun hari-hari yang tidak diperbolehkan melakukan hubungan romantis adalah
Hari- hari suci
Hari purnama maupun tilem
Tanggal ke-14 (prawani), yang dimaksud adalah sehari sebelum purnama/tilem
Pada hari datang bulan wanita untuk masa empat hari
Weton suami atau istri
Menurut ahli agama, Gde Pudja, M.A, dalam artikelnya, hubungan romantis dengan tujuan memperoleh anak suputra, sangat baik dilakukan pada hari ke-14 dan 16 terhitung dari hari pertama menstruasi karena akan dilahirkan anak laki yang teguh imannya, mulia, hormat pada orang tua, bijaksana, pandai, jujur, suci dan menjadi pelindung manusia pada umumnya. Kalau dibandingkan secara ilmiah hari ke-14 dan ke-16 sangat cocok karena pada waktu itu adalah masa subur. Menurut informasi lainnya disebutkan bahwa adapun cara lain untuk memperoleh anak laki-laki adalah dengan berdoa/sembahyang meminta anugrah kehadapan Ida Bethara Hyang Guru yang berstana di kemulan Rong Tiga di Merajan masing-masing.
Demikian artikel berikut ini, Apa yang di berikan oleh Ida Shang Hyang Widi Wasa harus kita patut syukuri, dengan kita berdoa dan bersembahyang pasti kita akan di berikan karunia seorang anak.
Tujuan setiap orang atau manusia adalah kebahagiaan. Keluarga yang bahagia adalah dambaan setiap orang. Seorang anak yang lahir adalah harta yang tidak ternilai harganya bagi setiap keluarga. Di dalam terbentuknya keluarga yang bahagia dan kekal adalah terciptanya seorang anak baik laki-laki maupun perempuan. Untuk mendambakan seorang anak yang suputra diperlukan persiapan yang sangat baik
Bayi dalam kandungan bisa terwujud berkat pertemuan antara kama petak dan kama bang yang juga disebut cukla swanita yang keluar dari purusa (laki-laki) dan pradana (wanita). Kama petak adalah unsure laki-laki yang juga disebut cukla yang disimbolkan dengan Sang Hyang Semara. Sedangkan kama bang adalah unsure perempuan yang juga disebut swanita, yang disimbolkan dengan Dewi Ratih. Kama petak dan kama bang yang disebut cukla swanita itu, lalu disimbolkan dengan Sang Hyang Semara Ratih. Menurut salinan lontar Smara Kriddha Laksana bahwa suami istri yang melakukan hubungan romantis, terlebih dahulu hendaknya mengucapkan mantra
"Om krong karetaya sampurana Dewa Manggala ya namah"
Dalam hubungan romantis suami dan istri agar memperoleh keturunan dan anak bijaksana, maka sebaiknya mengucapkan mantra terlebih dahulu seperti :
"Om rang Rudra ya namah, idep sire sadkrosa"
Kalau menginginkan anak yang selalu berhasil dalam hidupnya nanti, mantra yang diucapkan :
"Om jrung mrtyuncaya ya namah"
Selain itu suami istri harus melakukan pantangan yaitu dilarang membunuh makhluk hidup dan hati selalu cinta damai. Kalau ingin memiliki putra pintar, mantra yang diucapkan :
"Om crikomadewa ya namah", bratanya ialah suami istri melakukan seuatu hubungan romantis itu hendaknya saling asih.
Dari Pernyataan tersebut juga disebutkan cara memperoleh anak laki-laki, ada beberapa macam ketentuan adalah sebagai berikut :
suami menulis beberapa huruf pada ibu jari tangan kanan dan ibu jari kaki kanan yang bunyinya: "Apurusa bhawati". Kemudian melakukan hubungan romantis pada siang hari dan konsentrasikan pikiran ke Sang Hyang Kamajaya
Memakai sarana antara lain: embotan pandan “asti” (bagian pangkal dan muda serta warnanya putih yang didapat dengan jalan menarik daunnya pada bagian atas dari pohon pandan asti tersebut) dipakai rujak yang dilengkapi pula dengan arak, terasi merah. Rujak itu ditempatkan pada mangkuk sutra dan disertai mantra: “Om cupu-cupu mirah dewaning buwel, tengan maisi putra, petu maha pekik. Om sidhi mantramku.” Setelah itu rujak tadi dimakan bersama-sama dan selanjutnya berpuasa selama sehari.
Pada ibu jari tangan kanan si istri, hendaknya diberi suatu tulisan, seperti inilah rajahnya :
Selain tersebut diatas, waktu sangat menentukan untuk dilihat dalam hubungan romantis. Adapun hari-hari yang tidak diperbolehkan melakukan hubungan romantis adalah
Hari- hari suci
Hari purnama maupun tilem
Tanggal ke-14 (prawani), yang dimaksud adalah sehari sebelum purnama/tilem
Pada hari datang bulan wanita untuk masa empat hari
Weton suami atau istri
Menurut ahli agama, Gde Pudja, M.A, dalam artikelnya, hubungan romantis dengan tujuan memperoleh anak suputra, sangat baik dilakukan pada hari ke-14 dan 16 terhitung dari hari pertama menstruasi karena akan dilahirkan anak laki yang teguh imannya, mulia, hormat pada orang tua, bijaksana, pandai, jujur, suci dan menjadi pelindung manusia pada umumnya. Kalau dibandingkan secara ilmiah hari ke-14 dan ke-16 sangat cocok karena pada waktu itu adalah masa subur. Menurut informasi lainnya disebutkan bahwa adapun cara lain untuk memperoleh anak laki-laki adalah dengan berdoa/sembahyang meminta anugrah kehadapan Ida Bethara Hyang Guru yang berstana di kemulan Rong Tiga di Merajan masing-masing.
Demikian artikel berikut ini, Apa yang di berikan oleh Ida Shang Hyang Widi Wasa harus kita patut syukuri, dengan kita berdoa dan bersembahyang pasti kita akan di berikan karunia seorang anak.
MAKNA PANCAAKSARA NA MA SHI WA YA
Makna dari mantra Namah Shivaya dijelaskan oleh Satguru Sivaya Subramuniyaswami:
Namah Śivāya adalah mantra suci Siva, tercatat di dalam Veda dan diuraikan dalam agama Shiva.
Na adalah anugerah Tuhan, Ma dunia, Si singkatan dari Siva, Va mengungkapkan rahmat-Nya, Ya adalah jiwa. juga terdiri dari Lima unsur, yang diwujudkan dalam formula doa ini. Na adalah bumi,Ma adalah air, Si adalah api, VA adalah udara, dan "Ya" adalah eter, atau Ākāśa. Banyak makna-maknanya.
Namah Śivaya memiliki kekuasaan seperti itu, setiap intonasi dan suku kata ini menuai pahala sendiri dalam menyelamatkan jiwa dari perbudakan dari pikiran dan untuk menghadapi dirinya sendiri dan melihat kebodohan. Beberapa orang bijak mengatakan mantra adalah tindakan, bahwa mantra adalah kasih dan bahwa pengulangan mantra menimbulkan kebijaksanaan diri.
Natchintanai suci menyatakan, "Namah Śivāya adalah kebenaran agama dan Veda. Namah Śivāya mewakili semua mantra dan Tantra. Namah Śivaya adalah jiwa kita, tubuh kita dan harta benda. Namah Śivāya telah menjadi keyakinan memberi perlindungan.
Buku The Power of Sansekerta Kuno Mantra dan Upacara, Volume I mendefinisikan Om Namah Shivaya sebagai:
"Mantra ini tidak memiliki terjemahan perkiraan. Suara yang terkait langsung dengan prinsip-prinsip yang mengatur masing-masing dari enam pertama chakra pada tulang belakang ... bumi, air, api, udara, eter. Perhatikan bahwa hal ini tidak merujuk pada chakra sendiri yang memiliki seperangkat berbeda benih suara, melainkan prinsip-prinsip yang mengatur chakra mereka di tempatnya. yang sangat kasar, non-terjemahan harfiah bisa berupa sesuatu seperti, 'Om dan salam kepada apa yang aku mampu menjadi. " Mantra ini akan mulai satu keluar di jalan pengembangan halus pencapaian spiritual. Ini adalah permulaan di jalan Siddha Yoga, atau Yoga Kesempurnaan Kendaraan Ilahi. "
"Na" mengacu pada Badan Bruto (annamayakosa), "Ma" mengacu pada Badan Prana (pranamayakosa), "Shi" atau "Chi" mengacu pada Badan Mental (manonmayakosa), "Va" mengacu pada Badan Intelektual (vignanamayakosa) dan " ya "mengacu pada bahagia Body (anandamayakosa) dan" M "atau" diam "di luar suku kata ini mengacu pada Jiwa dalam hidup.
Namah Śivāya adalah mantra suci Siva, tercatat di dalam Veda dan diuraikan dalam agama Shiva.
Na adalah anugerah Tuhan, Ma dunia, Si singkatan dari Siva, Va mengungkapkan rahmat-Nya, Ya adalah jiwa. juga terdiri dari Lima unsur, yang diwujudkan dalam formula doa ini. Na adalah bumi,Ma adalah air, Si adalah api, VA adalah udara, dan "Ya" adalah eter, atau Ākāśa. Banyak makna-maknanya.
Namah Śivaya memiliki kekuasaan seperti itu, setiap intonasi dan suku kata ini menuai pahala sendiri dalam menyelamatkan jiwa dari perbudakan dari pikiran dan untuk menghadapi dirinya sendiri dan melihat kebodohan. Beberapa orang bijak mengatakan mantra adalah tindakan, bahwa mantra adalah kasih dan bahwa pengulangan mantra menimbulkan kebijaksanaan diri.
Natchintanai suci menyatakan, "Namah Śivāya adalah kebenaran agama dan Veda. Namah Śivāya mewakili semua mantra dan Tantra. Namah Śivaya adalah jiwa kita, tubuh kita dan harta benda. Namah Śivāya telah menjadi keyakinan memberi perlindungan.
Buku The Power of Sansekerta Kuno Mantra dan Upacara, Volume I mendefinisikan Om Namah Shivaya sebagai:
"Mantra ini tidak memiliki terjemahan perkiraan. Suara yang terkait langsung dengan prinsip-prinsip yang mengatur masing-masing dari enam pertama chakra pada tulang belakang ... bumi, air, api, udara, eter. Perhatikan bahwa hal ini tidak merujuk pada chakra sendiri yang memiliki seperangkat berbeda benih suara, melainkan prinsip-prinsip yang mengatur chakra mereka di tempatnya. yang sangat kasar, non-terjemahan harfiah bisa berupa sesuatu seperti, 'Om dan salam kepada apa yang aku mampu menjadi. " Mantra ini akan mulai satu keluar di jalan pengembangan halus pencapaian spiritual. Ini adalah permulaan di jalan Siddha Yoga, atau Yoga Kesempurnaan Kendaraan Ilahi. "
"Na" mengacu pada Badan Bruto (annamayakosa), "Ma" mengacu pada Badan Prana (pranamayakosa), "Shi" atau "Chi" mengacu pada Badan Mental (manonmayakosa), "Va" mengacu pada Badan Intelektual (vignanamayakosa) dan " ya "mengacu pada bahagia Body (anandamayakosa) dan" M "atau" diam "di luar suku kata ini mengacu pada Jiwa dalam hidup.
MAKNA GANESHA MENURUT TRADISI HINDU DI BALI
Fenomena memasang Patung Dewa Ganesa mangda tatas semeton Bali
Hampir setiap rumah orang Hindu di Bali kini berisikan patung Ganesa. Yang dimaksud di sini adalah Ganesa versi India (untuk membedakan dengan Ganesa versi Bali yang disebut dengan Sanghyang Ganapati yang posisinya berdiri), sedangkan Ganesa versi India dalam posisi duduk.
Pemasangan dan pemajangan dari patung ganesa ini seolah olah menjadi trend dalam masyarakat Hindu Bali dalam lima tahun belakangan ini. Fenomena ini bisa jadi diakibatkan oleh beberapa factor seperti 1) Semakin berkembang pengetahuan filsafat agamanya sehingga dengan sendirinya tumbuh pemahaman akan keberadaan dari Dewa Ganesa . 2) Derasnya informasi dan dan tayangan mengenai kemuliaan dan kebesaran dari Dewa Ganesa melalui media sosial, media elektronik 3) Mudahnya untuk mendapatkan patung Dewa Ganesa baik yang terbuat dari batu, beton, plastik, atau bahan lainnya dengan harga yang relatif terjangkau. Derasnya aliran-aliran atau sekte kembali mewarnai kehidupan agama Hindu di Bali.
Penempatan patung Dewa Ganesa di kalangan umat Hindu di Bali seolah olah menjadi sebuah trend. Ada yang menempatkan patung Dewa Ganesa di pintu masuk rumah yang dalam bahasa Bali disebut dengan aling-aling dengan maksud sebagai penghalang kekuatan negatif memasuki areal rumah yang dapat mempengaruhi penghuni rumah. Ada yang menempatkan patung Dewa Ganesa di tengah-tengah natah / halaman rumah, yang konon difungsikan sebagai pelindung pekarangan dan penghuni rumah dari hal hal yang negatif. Ada yang menempatkan patung Dewa Ganesa di pintu masuk pura atau merajan. Ada yang menempatkan Patung Dewaa Ganesa dalam sebuah altar (tempat pemujaan khusus). Ada pula yang menempatkan patung Dewa Ganesa di tengah ruangan rumah, di atas meja, di kamar suci, di plangkiran, dan sebagainya.
Sepertinya penempatan patung Dewa Ganesa tersebut disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari umat. Dan hal ini menunjukkan bahwa Dewa Ganesa dipuja dalam berbagai fungsi serta ditempatkan untuk berbagai maksud dan tujuan. Hal ini pula secara tak langsung menunjukkan berbagai kemulyaan dan kemahakuasaan Dewa Ganesa. Dan keyakinan umat semakin kental dan semakin mantap ketika menonton beberapa versi tayangan film Dewa Ganesa di televisi. Dewa Ganesa menjadi trend, Dewa Ganesa kini menjadi Dewa yang sangat populer di kalangan umat Hindu Bali.
Trend memasang menempatkan patung Dewa Ganesa dan memuja Dewa Ganesa di Bali semakin menambah semarak praktek beragama Hindu di Bali. Praktek Hindu di Bali menjadi semakin kompleks. Fenomena ini pula memunculkan pertanyaan dikalangan masyarakat awam dan para pemerhati Hindu, pemerhati sejarah, dan para budayawan. Dimanakah semestinya patung Dewa Ganesa ditempatkan? Apa sebenarnya fungsi dari penempatan patung Dewa Ganesa di berbagai tempat tersebut? Apakah ini memang bebas ditempatkan, atau memang ada pakemnya seperti halnya dengan patung-patung dewa yang lainnya? Apa yang mesti dilakukan terhadap patung Dewa Ganesa yang telah ditempatkan?. Sesaji apa yang mesti dipersembahkan?
Mendengar pertanyaan tersebut, tergelitik hati untuk mencoba merenungkan mengenai fenomena ini. Dewa Ganesa mau diapakan? Padahal di dalam mazab Hindu Bali yang berlandaskan Siwa Budha yang terwujud dalam tiga kekuatan yang disebut dengan Tri Sakti / Tri Murti, serta dalam prakteknnya kental dengan nuansa Bhairawa yang telah memiliki pakem-pakem yang sudah baku dan berlangsung turun temurun di Bali. Misalnya saja untuk di aling-aling (penjaga pintu pekarangan) dalam Hindu Bali telah dikenal dengan Sanghyang Kala Raksa sebagai penjaga pintu pekarangan. Demikian juga dengan Sang Yaksa Yaksi sebagai penjaga pintu kanan kiri yang disebut dengan Sanghyang Apit Lawang. Di tengah natah sudah ditempatkan sanggah natah atau sanggah pengijeng yang merupakan linggih Sanghyang Catur Sanak Sakti yang tak lain adalah persatuan dari empat kekuatan saudara empat manusia (kanda pat) yang telah berwujud dewa, yang akan menjaga dan melindungi pekarangan rumah dan penghuninya. Sebab di dalam keyakinan Hindu Bali yang berbasiskan Tri Murti / Tri Sakti. Sakti adalah kekuatan yang disebut dengan Kala. Sehingga dengan demikian untuk fungsi-fungsi praktis seperti penjaga pekarangan rumah dan sebagainya diwujudkan dalam bentuk kekuatan sakti Tuhan yang disebut dengan Sanghyang Kala. Sanghyang Kala oleh para seniman Bali melahirkan patung berwujud aeng / berwibawa (bukan mengerikan !) seperti mata besar membelalak, membawa senjata, bertaring, berbadan kekar dan besar. Ini adalah perwujudan dari kala atau saktiatau kekuatan dewata.
Dimana sejatinya Dewa Ganesa ditempatkan, agar tidak terkesan latah apalagi ikut-ikut tak menentu, tanpa mengerti kesejatiannya. Agar tak terkesan melecehkan kesucian, kemulyaan dari Dewa Ganesa. Sebab Dewa Ganesa adalah dewa yang dimuliakan sebagai pelindung alam semesta dengan segala isinya. Dalam mitologinya, Dewa Ganesa sebagai putra Dewa Siwa ditugaskan menjaga kayangan Dewi Uma. Hal inilah yang membuat umat Hindu menjadi “salah kaprah” menempatkan Dewa Ganesa di depan pintu gerbang. Semestinya patung Dewa Ganesa ditempatkan di depan pintu masuk pura yakni Pura Dalem, sebagai penjaga pintu masuk kayangan Dewa Siwa dan Dewi Uma. Namun di Pura Dalem (dalam mazab Hindu Bali) kedududkan Dewa Ganesa sebagai penjaga penjaga pintu kayangan telah diwujudkan sebagai Sanghyang Kala sebagai pemurtian dari Dewi Sakti / Dewi Uma dalam wujud Rangda. Karena Hindu Bali bernafaskan Siwa Bhairawa, yakni pemujaan kehadapan Tuhan (dewa Siwa) dalam wujud sakti beliau yakni Dewi Uma atau di Durga. Sehingga dengan demikian pura pura di bali terutama pura dalem kayangan dan prajapati serta tempat tempat lainnya senantiasa bernuansa angker. Hindu Bali mewujudkan pemujaan kehadapan Hyang Kuasa dalam wujud kekuatan Dewi Sakti. Sehingga wujud barong, rangda, rarung, sanghyang kala, dan wujud aeng lainnya tidak asing dalam Hindu Bali.
Kuatnya aliran Siwa Bhiarwa di Bali, maka Dewa Ganesa kurang menonjol. Bukan berarti tak ada, Dewa Ganesa dalam Hindu Bhairawa diwujudkan dalam bentuk Sanghyang Ganapati, kekuatan yang menetralisir, mengusir serta menghancurkan semua kekuatan negatif. Pada sasih kenem dimana sering terjadinya bencana, umat Hindu Bali menghaturkan sesaji dilengkapi dengan kober Sanghyang Ganapati, sebagai simbol pemujaan permohonan perlindungan kehadapan Sanghyang Ganapati agar terhindar dari segala bencana dan penyakit di dunia. Dewa Ganesa juga dipuja oleh para sulinggih untuk menetralisir kekuatan negatif dalam upacara Caru Resi Gana.
Umat Hindu Bali juga memuliakan Dewa Ganesa dalam sebutan sebagai Sanghyang Gana sebagai simbol kekuatan kepintaran, kecerdasan serta ketekunan, sehingga kisah Mahabarata yang sangat panjang detail dapat ditulis dengan lengkap dan sempurna.
Lalu kembali ke masalah penempatan patung Dewa Ganesa yang menjadi trend. Dimuliakan dengan kalung bunga mitir, disuguhkan sesaji buah-buahan, kue, gula-gula, dan dan diberi nyala lilin 24 jam non stop. Padahal kalau misalnnya patung tersebut akan dijadikan sarana pemujaan, maka menurut pakem Hindu, paling tidak patung Dewa Ganesa yang mulya tersebut dilakukan penyucian atau sakralisasi terlebih dahulu. Kalau dalam pakem Hindu Bali ada pengulapan, prasita, durmanggala, dan pemlaspas, sehingga menjadi suatu media suci yang layak sebagai media pemujaan. Mohon maaf, seolah-olah penempatan ini menjadi sebuah ajang untuk “pameran” spiritual. Dimana orang yang menempatkan patung Dewa Ganesa seolah-solah sedang menapaki tigkatan spiritual tertentu. Atau mungkin bisa dianggap lebih maju dalam hal spiritual. Namun sepanjang pengamatan, banyak yang menempatkan patung Dewa Ganesa hanya karena ikut-ikutan, tak banyak mengerti secara filosofi. Semua masih rancu atau mungkin “kacau”. Hanya sebagai sebuah “trend”. Apalagi tayangan film Dewa Ganesa di televisi sangat kuat mempengaruhi semaraknya umat memasang patung Dewa Ganesa. Termasuk pula teman-teman dari sampradaya yang “kurang” memahami Hindu Bali, gencar menyebarkan praktek aliran India ke komunitas umat Hindu Bali. Lalu “mengacaukan” pakem Hindu Bali yang telah mapan lebih dari seribu tahun. Maka ranculah jadinya.
Kalau memang serius ingin memuja Dewa Ganesa, silahkan untuk membuat sebuah pelinggih di merajan atau di pura, lalu linggihkan patung Dewa Ganesa secara layak. Dilakukan penyucian sebagaimana layaknya pakem dalam Hindu Bali seperti pemlaspas, ngelinggihin, dan ngaturang ayaban. Kemudian dilakukan pemujaan sesuai dengan pakem Hindu Bali.
Atau jika Patung Dewa Ganesa dipasang sebagai kelengkapan dari pura, maka patung Dewa Ganesa mesti diletakkan di ajeng atau di depan gedong linggih Hyang Dewi Uma atau di depan Gedong Dalem. Agar sesuai dengan filosofi yang melatarbelakangi keberadaan dari Patung Dewa Ganesa.
Maksud dari tulisan ini adalah untuk mengarahkan dari para kaum rohaniawan, tokoh umat Hindu untuk memberikan arahan bagaimana semestinya menempatkan patung Dewa Ganesa, dimana, bagaimana? seterusnya. Karena Dewa Ganesa adalah Dewa yang Mulia, Dewa Yang Agung, yang mestinya diitempatkan dalam posisi yang benar dan layak. Dengan harapan kekuatan beliau memancarkan memberikan perlindungan serta memberikan kecerdasan dan kebijaksaan dalam kehidupan manusia.
Seperti ungkapan para tetua Hindu Bali, “apang nawang unduk, apang nyak meunduk”. (arti bebasnya: Agar memahami perihalnya, agar paham dasar permasalahan). Hal ini untuk menepis cibiran umat lainnya termasuk pula dari kalangan sampradaya yang sering mencibir bahwa praktek Hindu Bali sebagai praktek yang maksud dan tujuan tak jelas. Kurang lebih demikian. Mohon ampun jika kurang berkenan.
Om Shri Maha Ganesa Ya Namah,Terpujilah yang maha mulia Dewa Ganesa.
Hampir setiap rumah orang Hindu di Bali kini berisikan patung Ganesa. Yang dimaksud di sini adalah Ganesa versi India (untuk membedakan dengan Ganesa versi Bali yang disebut dengan Sanghyang Ganapati yang posisinya berdiri), sedangkan Ganesa versi India dalam posisi duduk.
Pemasangan dan pemajangan dari patung ganesa ini seolah olah menjadi trend dalam masyarakat Hindu Bali dalam lima tahun belakangan ini. Fenomena ini bisa jadi diakibatkan oleh beberapa factor seperti 1) Semakin berkembang pengetahuan filsafat agamanya sehingga dengan sendirinya tumbuh pemahaman akan keberadaan dari Dewa Ganesa . 2) Derasnya informasi dan dan tayangan mengenai kemuliaan dan kebesaran dari Dewa Ganesa melalui media sosial, media elektronik 3) Mudahnya untuk mendapatkan patung Dewa Ganesa baik yang terbuat dari batu, beton, plastik, atau bahan lainnya dengan harga yang relatif terjangkau. Derasnya aliran-aliran atau sekte kembali mewarnai kehidupan agama Hindu di Bali.
Penempatan patung Dewa Ganesa di kalangan umat Hindu di Bali seolah olah menjadi sebuah trend. Ada yang menempatkan patung Dewa Ganesa di pintu masuk rumah yang dalam bahasa Bali disebut dengan aling-aling dengan maksud sebagai penghalang kekuatan negatif memasuki areal rumah yang dapat mempengaruhi penghuni rumah. Ada yang menempatkan patung Dewa Ganesa di tengah-tengah natah / halaman rumah, yang konon difungsikan sebagai pelindung pekarangan dan penghuni rumah dari hal hal yang negatif. Ada yang menempatkan patung Dewa Ganesa di pintu masuk pura atau merajan. Ada yang menempatkan Patung Dewaa Ganesa dalam sebuah altar (tempat pemujaan khusus). Ada pula yang menempatkan patung Dewa Ganesa di tengah ruangan rumah, di atas meja, di kamar suci, di plangkiran, dan sebagainya.
Sepertinya penempatan patung Dewa Ganesa tersebut disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari umat. Dan hal ini menunjukkan bahwa Dewa Ganesa dipuja dalam berbagai fungsi serta ditempatkan untuk berbagai maksud dan tujuan. Hal ini pula secara tak langsung menunjukkan berbagai kemulyaan dan kemahakuasaan Dewa Ganesa. Dan keyakinan umat semakin kental dan semakin mantap ketika menonton beberapa versi tayangan film Dewa Ganesa di televisi. Dewa Ganesa menjadi trend, Dewa Ganesa kini menjadi Dewa yang sangat populer di kalangan umat Hindu Bali.
Trend memasang menempatkan patung Dewa Ganesa dan memuja Dewa Ganesa di Bali semakin menambah semarak praktek beragama Hindu di Bali. Praktek Hindu di Bali menjadi semakin kompleks. Fenomena ini pula memunculkan pertanyaan dikalangan masyarakat awam dan para pemerhati Hindu, pemerhati sejarah, dan para budayawan. Dimanakah semestinya patung Dewa Ganesa ditempatkan? Apa sebenarnya fungsi dari penempatan patung Dewa Ganesa di berbagai tempat tersebut? Apakah ini memang bebas ditempatkan, atau memang ada pakemnya seperti halnya dengan patung-patung dewa yang lainnya? Apa yang mesti dilakukan terhadap patung Dewa Ganesa yang telah ditempatkan?. Sesaji apa yang mesti dipersembahkan?
Mendengar pertanyaan tersebut, tergelitik hati untuk mencoba merenungkan mengenai fenomena ini. Dewa Ganesa mau diapakan? Padahal di dalam mazab Hindu Bali yang berlandaskan Siwa Budha yang terwujud dalam tiga kekuatan yang disebut dengan Tri Sakti / Tri Murti, serta dalam prakteknnya kental dengan nuansa Bhairawa yang telah memiliki pakem-pakem yang sudah baku dan berlangsung turun temurun di Bali. Misalnya saja untuk di aling-aling (penjaga pintu pekarangan) dalam Hindu Bali telah dikenal dengan Sanghyang Kala Raksa sebagai penjaga pintu pekarangan. Demikian juga dengan Sang Yaksa Yaksi sebagai penjaga pintu kanan kiri yang disebut dengan Sanghyang Apit Lawang. Di tengah natah sudah ditempatkan sanggah natah atau sanggah pengijeng yang merupakan linggih Sanghyang Catur Sanak Sakti yang tak lain adalah persatuan dari empat kekuatan saudara empat manusia (kanda pat) yang telah berwujud dewa, yang akan menjaga dan melindungi pekarangan rumah dan penghuninya. Sebab di dalam keyakinan Hindu Bali yang berbasiskan Tri Murti / Tri Sakti. Sakti adalah kekuatan yang disebut dengan Kala. Sehingga dengan demikian untuk fungsi-fungsi praktis seperti penjaga pekarangan rumah dan sebagainya diwujudkan dalam bentuk kekuatan sakti Tuhan yang disebut dengan Sanghyang Kala. Sanghyang Kala oleh para seniman Bali melahirkan patung berwujud aeng / berwibawa (bukan mengerikan !) seperti mata besar membelalak, membawa senjata, bertaring, berbadan kekar dan besar. Ini adalah perwujudan dari kala atau saktiatau kekuatan dewata.
Dimana sejatinya Dewa Ganesa ditempatkan, agar tidak terkesan latah apalagi ikut-ikut tak menentu, tanpa mengerti kesejatiannya. Agar tak terkesan melecehkan kesucian, kemulyaan dari Dewa Ganesa. Sebab Dewa Ganesa adalah dewa yang dimuliakan sebagai pelindung alam semesta dengan segala isinya. Dalam mitologinya, Dewa Ganesa sebagai putra Dewa Siwa ditugaskan menjaga kayangan Dewi Uma. Hal inilah yang membuat umat Hindu menjadi “salah kaprah” menempatkan Dewa Ganesa di depan pintu gerbang. Semestinya patung Dewa Ganesa ditempatkan di depan pintu masuk pura yakni Pura Dalem, sebagai penjaga pintu masuk kayangan Dewa Siwa dan Dewi Uma. Namun di Pura Dalem (dalam mazab Hindu Bali) kedududkan Dewa Ganesa sebagai penjaga penjaga pintu kayangan telah diwujudkan sebagai Sanghyang Kala sebagai pemurtian dari Dewi Sakti / Dewi Uma dalam wujud Rangda. Karena Hindu Bali bernafaskan Siwa Bhairawa, yakni pemujaan kehadapan Tuhan (dewa Siwa) dalam wujud sakti beliau yakni Dewi Uma atau di Durga. Sehingga dengan demikian pura pura di bali terutama pura dalem kayangan dan prajapati serta tempat tempat lainnya senantiasa bernuansa angker. Hindu Bali mewujudkan pemujaan kehadapan Hyang Kuasa dalam wujud kekuatan Dewi Sakti. Sehingga wujud barong, rangda, rarung, sanghyang kala, dan wujud aeng lainnya tidak asing dalam Hindu Bali.
Kuatnya aliran Siwa Bhiarwa di Bali, maka Dewa Ganesa kurang menonjol. Bukan berarti tak ada, Dewa Ganesa dalam Hindu Bhairawa diwujudkan dalam bentuk Sanghyang Ganapati, kekuatan yang menetralisir, mengusir serta menghancurkan semua kekuatan negatif. Pada sasih kenem dimana sering terjadinya bencana, umat Hindu Bali menghaturkan sesaji dilengkapi dengan kober Sanghyang Ganapati, sebagai simbol pemujaan permohonan perlindungan kehadapan Sanghyang Ganapati agar terhindar dari segala bencana dan penyakit di dunia. Dewa Ganesa juga dipuja oleh para sulinggih untuk menetralisir kekuatan negatif dalam upacara Caru Resi Gana.
Umat Hindu Bali juga memuliakan Dewa Ganesa dalam sebutan sebagai Sanghyang Gana sebagai simbol kekuatan kepintaran, kecerdasan serta ketekunan, sehingga kisah Mahabarata yang sangat panjang detail dapat ditulis dengan lengkap dan sempurna.
Lalu kembali ke masalah penempatan patung Dewa Ganesa yang menjadi trend. Dimuliakan dengan kalung bunga mitir, disuguhkan sesaji buah-buahan, kue, gula-gula, dan dan diberi nyala lilin 24 jam non stop. Padahal kalau misalnnya patung tersebut akan dijadikan sarana pemujaan, maka menurut pakem Hindu, paling tidak patung Dewa Ganesa yang mulya tersebut dilakukan penyucian atau sakralisasi terlebih dahulu. Kalau dalam pakem Hindu Bali ada pengulapan, prasita, durmanggala, dan pemlaspas, sehingga menjadi suatu media suci yang layak sebagai media pemujaan. Mohon maaf, seolah-olah penempatan ini menjadi sebuah ajang untuk “pameran” spiritual. Dimana orang yang menempatkan patung Dewa Ganesa seolah-solah sedang menapaki tigkatan spiritual tertentu. Atau mungkin bisa dianggap lebih maju dalam hal spiritual. Namun sepanjang pengamatan, banyak yang menempatkan patung Dewa Ganesa hanya karena ikut-ikutan, tak banyak mengerti secara filosofi. Semua masih rancu atau mungkin “kacau”. Hanya sebagai sebuah “trend”. Apalagi tayangan film Dewa Ganesa di televisi sangat kuat mempengaruhi semaraknya umat memasang patung Dewa Ganesa. Termasuk pula teman-teman dari sampradaya yang “kurang” memahami Hindu Bali, gencar menyebarkan praktek aliran India ke komunitas umat Hindu Bali. Lalu “mengacaukan” pakem Hindu Bali yang telah mapan lebih dari seribu tahun. Maka ranculah jadinya.
Kalau memang serius ingin memuja Dewa Ganesa, silahkan untuk membuat sebuah pelinggih di merajan atau di pura, lalu linggihkan patung Dewa Ganesa secara layak. Dilakukan penyucian sebagaimana layaknya pakem dalam Hindu Bali seperti pemlaspas, ngelinggihin, dan ngaturang ayaban. Kemudian dilakukan pemujaan sesuai dengan pakem Hindu Bali.
Atau jika Patung Dewa Ganesa dipasang sebagai kelengkapan dari pura, maka patung Dewa Ganesa mesti diletakkan di ajeng atau di depan gedong linggih Hyang Dewi Uma atau di depan Gedong Dalem. Agar sesuai dengan filosofi yang melatarbelakangi keberadaan dari Patung Dewa Ganesa.
Maksud dari tulisan ini adalah untuk mengarahkan dari para kaum rohaniawan, tokoh umat Hindu untuk memberikan arahan bagaimana semestinya menempatkan patung Dewa Ganesa, dimana, bagaimana? seterusnya. Karena Dewa Ganesa adalah Dewa yang Mulia, Dewa Yang Agung, yang mestinya diitempatkan dalam posisi yang benar dan layak. Dengan harapan kekuatan beliau memancarkan memberikan perlindungan serta memberikan kecerdasan dan kebijaksaan dalam kehidupan manusia.
Seperti ungkapan para tetua Hindu Bali, “apang nawang unduk, apang nyak meunduk”. (arti bebasnya: Agar memahami perihalnya, agar paham dasar permasalahan). Hal ini untuk menepis cibiran umat lainnya termasuk pula dari kalangan sampradaya yang sering mencibir bahwa praktek Hindu Bali sebagai praktek yang maksud dan tujuan tak jelas. Kurang lebih demikian. Mohon ampun jika kurang berkenan.
Om Shri Maha Ganesa Ya Namah,Terpujilah yang maha mulia Dewa Ganesa.
SEBELUM MEMUJA DEWA SIWA
Bagi yg belum tahu
Sebelum memuja siwa sangat dianjurkaan terlebih dahulu memuja dewa ganesha dan dewi durga.
Khusus untuk dewa ganesha dulu,untuk mantra durgha menyusul di sahre.
Hapalkan terlebih dahulu sesuai kebutuhan yg tubuh anda perlukan.
1.Om Gam Ganapatayae Namaha
Mantra ini dipergunakan untuk memulai sesuatu yang baru, seperti memulai perjalanan, mengadakan usaha baru, buka kantor baru, penandatanganan kontrak-dagang baru, sehingga pelaksanaan usaha tidak menemui hambatan-hambatan.
2. Om Namo Bhagabatae Gajaanaaya Namaha
Mantra ini untuk meminta kehadiran Ganesha, dan akan dapat dirasakan kehadirannya.
3. Om Shri Ganeshaaya Namaha
Mantra ini untuk meningkatkan daya-ingat (terutama pelajar dan mahasiswa) untuk mencapai tingkat lebih tinggi dalam belajar.
4. Om Wakratundaaya Hum
Mantra ini sangat kuat untuk menghambat dan menghilangkan pikiran-pikiran buruk, baik untuk pribadi maupun untuk manusia di tingkat nasional maupun internasional bahkan tingkat universal. Sering dipergunakan untuk mengusir setan. Dapat juga untuk penyembuhan penyakit yang berkaitan tulang belakang (dari bawah ke atas) dan penyakit dipaha.
5. Om Kshipra Prasadaya Namaha
Mantra ini bersifat “instant” (cepat sekali). Mantra ini diucapkan, ketika ada bahaya atau kesulitan yang sudah tidak bisa diatasi sendiri.
6. Om Shreem Kleem Glaum Gam Ganapatayae Vara Varada Sarva Janamah Vashanamanaaya Svaha
Mantra ini mengandung bermacam-macam benih mantra. Tujuannya adalah untuk mohon berkat dan untuk penyerahan diri.
7. Om Sumukhaaya Namaha
Mantra ini sesungguhnya memiliki banyak arti, tujuannya menjadikan manusia menjadi cantik, baik (tubuh dan spritual) dan untuk hal-hal lain yang baik. Dengan sering mengucapkan mantra ini, akan menimbulkan rasa kasih-sayang.
8. Om AekadanTaaya Namaha
Mantra ini akan sangat membantu kepada mereka yang ingin “memusatkan” pikiran dan perasaan dalam bermeditasi. Jika dilakukan terus menerus, maka keinginan dapat dicapai.
9.Om Kapilaaya Namaha
Mantra ini untuk menyembuhkan manusia yang sedang sakit, karena mantra ini menciptakan warna dan tubuh anda, dan warna-warna itu dapat “disalurkan” kepada yang sakit untuk disembuhkan. Mantra ini juga dapat dipergunakan untuk memohon agar keinginan seseorang dapat tercapai.
10. Om Gajakaranakaaya Namaha
Anda dapat mengucapkan mantra ini dimana saja. Penggunaan mantra ini adalah untuk dapat mendengarkan suara-suara dari alam gaib, baik dari berbagai jenis makhluk halus maupun dari mereka yang sudah meninggal. Mantra ini dapat membantu
“membuka” cakra (7 cakra) dan 72000 nadi (saluran-saluran kecil). Mantra ini cocok untuk mereka yang ingin maju di bidang pengembangan kebatinannya.
11. Om Lambodharaaya Namaha
Mantra ini digunakan untuk “menyatukan” diri anda dengan jagat-raya (alam semesta). Anda menjadi manunggal dengan alam-semesta dan menghasilkan rasa-damai tingkat tinggi, anda merasakan menjadi alam-semesta. Mantra ini sangat cocok dipergunakan mereka yang melakukan “olah batin”.
12. Om Wikataaya Namaha
Mantra ini membantu manusia mengetahui dan merasakan bahwa dunia material adalah maya dan ada “sesuatu” dalam diri sendiri yang lebih nyata dan abadi.
Kesadaran yang diperoleh dari mantra ini, adalah dapat menjauhkan diri dari “keterikatan duniawi” dan menemukan ketenangan batiniah. Dunia hanya sebuah drama dan setiap orang menjadi pemeran tertentu dalam setiap kehidupannya di dunia
yang fana ini.
13. Om Wighna Nashanaaya namaha
Mantra ini untuk mengatasi kesulitan pribadi dan hambatan-hambatan dalam diri sendiri. Kesulitan dan hambatan tsb. Dapat “dibebaskan” dengan mantra ini.
14. Om Winayakaaya Namaha
Mantra ini dipergunakan untuk melancarkan segala macam pekerjaan/usaha. Anda akan dapat menguasai dan memecahkan masalah dengan baik serta membuat “masa keemasan”.
15 Om Dhumraketuvae Namaha
Mantra ini untuk membantu menciptakan perdamaian dunia, terutama jika pengaruh komet Halley sedang melanda dunia yang berarti banyak pertumpahan darah (keributan-keributan) di seluruh dunia. Mantra ini baik sekali untuk para pemimpin.
16. Om Ganadhyakshaaya Namaha
Mantra ini sangat bermanfaat untuk penyembuhan penyakit secara massal (beramai-ramai). Mantra ini menyembuhkan penyakit, jika diucapkan bersama-sama banyak orang.
17. Om Bhalachandraaya Namaha
Mantra ini menyembuhkan penyakit pada diri sendiri. Mantra ini mengaktifkan cakra yang berada di tengah-tengah kening. Cakra ini bersimbol bulan-separoh dan letaknya di tengah-tengah kening. Simbol tersebut Melukiskan pengembangan, ketenangan,
dan kedamaian.
18. Om Gajaananaaya Namaha
Mantra ini untuk memperoleh kesadaran- tertinggi, kesadaran tak terbatas. Mantra ini sangat cocok untuk mereka yang memperdalam olah-batin.
Yg ingin share silahkan
Semoga bermanfaat
Sebelum memuja siwa sangat dianjurkaan terlebih dahulu memuja dewa ganesha dan dewi durga.
Khusus untuk dewa ganesha dulu,untuk mantra durgha menyusul di sahre.
Hapalkan terlebih dahulu sesuai kebutuhan yg tubuh anda perlukan.
1.Om Gam Ganapatayae Namaha
Mantra ini dipergunakan untuk memulai sesuatu yang baru, seperti memulai perjalanan, mengadakan usaha baru, buka kantor baru, penandatanganan kontrak-dagang baru, sehingga pelaksanaan usaha tidak menemui hambatan-hambatan.
2. Om Namo Bhagabatae Gajaanaaya Namaha
Mantra ini untuk meminta kehadiran Ganesha, dan akan dapat dirasakan kehadirannya.
3. Om Shri Ganeshaaya Namaha
Mantra ini untuk meningkatkan daya-ingat (terutama pelajar dan mahasiswa) untuk mencapai tingkat lebih tinggi dalam belajar.
4. Om Wakratundaaya Hum
Mantra ini sangat kuat untuk menghambat dan menghilangkan pikiran-pikiran buruk, baik untuk pribadi maupun untuk manusia di tingkat nasional maupun internasional bahkan tingkat universal. Sering dipergunakan untuk mengusir setan. Dapat juga untuk penyembuhan penyakit yang berkaitan tulang belakang (dari bawah ke atas) dan penyakit dipaha.
5. Om Kshipra Prasadaya Namaha
Mantra ini bersifat “instant” (cepat sekali). Mantra ini diucapkan, ketika ada bahaya atau kesulitan yang sudah tidak bisa diatasi sendiri.
6. Om Shreem Kleem Glaum Gam Ganapatayae Vara Varada Sarva Janamah Vashanamanaaya Svaha
Mantra ini mengandung bermacam-macam benih mantra. Tujuannya adalah untuk mohon berkat dan untuk penyerahan diri.
7. Om Sumukhaaya Namaha
Mantra ini sesungguhnya memiliki banyak arti, tujuannya menjadikan manusia menjadi cantik, baik (tubuh dan spritual) dan untuk hal-hal lain yang baik. Dengan sering mengucapkan mantra ini, akan menimbulkan rasa kasih-sayang.
8. Om AekadanTaaya Namaha
Mantra ini akan sangat membantu kepada mereka yang ingin “memusatkan” pikiran dan perasaan dalam bermeditasi. Jika dilakukan terus menerus, maka keinginan dapat dicapai.
9.Om Kapilaaya Namaha
Mantra ini untuk menyembuhkan manusia yang sedang sakit, karena mantra ini menciptakan warna dan tubuh anda, dan warna-warna itu dapat “disalurkan” kepada yang sakit untuk disembuhkan. Mantra ini juga dapat dipergunakan untuk memohon agar keinginan seseorang dapat tercapai.
10. Om Gajakaranakaaya Namaha
Anda dapat mengucapkan mantra ini dimana saja. Penggunaan mantra ini adalah untuk dapat mendengarkan suara-suara dari alam gaib, baik dari berbagai jenis makhluk halus maupun dari mereka yang sudah meninggal. Mantra ini dapat membantu
“membuka” cakra (7 cakra) dan 72000 nadi (saluran-saluran kecil). Mantra ini cocok untuk mereka yang ingin maju di bidang pengembangan kebatinannya.
11. Om Lambodharaaya Namaha
Mantra ini digunakan untuk “menyatukan” diri anda dengan jagat-raya (alam semesta). Anda menjadi manunggal dengan alam-semesta dan menghasilkan rasa-damai tingkat tinggi, anda merasakan menjadi alam-semesta. Mantra ini sangat cocok dipergunakan mereka yang melakukan “olah batin”.
12. Om Wikataaya Namaha
Mantra ini membantu manusia mengetahui dan merasakan bahwa dunia material adalah maya dan ada “sesuatu” dalam diri sendiri yang lebih nyata dan abadi.
Kesadaran yang diperoleh dari mantra ini, adalah dapat menjauhkan diri dari “keterikatan duniawi” dan menemukan ketenangan batiniah. Dunia hanya sebuah drama dan setiap orang menjadi pemeran tertentu dalam setiap kehidupannya di dunia
yang fana ini.
13. Om Wighna Nashanaaya namaha
Mantra ini untuk mengatasi kesulitan pribadi dan hambatan-hambatan dalam diri sendiri. Kesulitan dan hambatan tsb. Dapat “dibebaskan” dengan mantra ini.
14. Om Winayakaaya Namaha
Mantra ini dipergunakan untuk melancarkan segala macam pekerjaan/usaha. Anda akan dapat menguasai dan memecahkan masalah dengan baik serta membuat “masa keemasan”.
15 Om Dhumraketuvae Namaha
Mantra ini untuk membantu menciptakan perdamaian dunia, terutama jika pengaruh komet Halley sedang melanda dunia yang berarti banyak pertumpahan darah (keributan-keributan) di seluruh dunia. Mantra ini baik sekali untuk para pemimpin.
16. Om Ganadhyakshaaya Namaha
Mantra ini sangat bermanfaat untuk penyembuhan penyakit secara massal (beramai-ramai). Mantra ini menyembuhkan penyakit, jika diucapkan bersama-sama banyak orang.
17. Om Bhalachandraaya Namaha
Mantra ini menyembuhkan penyakit pada diri sendiri. Mantra ini mengaktifkan cakra yang berada di tengah-tengah kening. Cakra ini bersimbol bulan-separoh dan letaknya di tengah-tengah kening. Simbol tersebut Melukiskan pengembangan, ketenangan,
dan kedamaian.
18. Om Gajaananaaya Namaha
Mantra ini untuk memperoleh kesadaran- tertinggi, kesadaran tak terbatas. Mantra ini sangat cocok untuk mereka yang memperdalam olah-batin.
Yg ingin share silahkan
Semoga bermanfaat
Langganan:
Postingan (Atom)






