Sabtu, 11 Februari 2017
KISAH BHAGAWAN WALMIKI
Jalan Kidung suci - Rsi Narada dapat menyadarkan Ratnakara, yang semula adalah perampok ulung, pembunuh kejam, lalu menyerahkan diri untuk menjadi murid Sang Rsi Narada, kemudian menjadi Bhagawan. Sosok Ratnakara kemudian dikenal dengan nama Walmiki, penulis Ramayana yang termasyur. Agama Hindu telah mengenalkan adanya Catur Yuga (empat zaman) yaitu : Kerthayuga, Tretayuga, Dwaparayuga dan Kaliyuga. Dalam melakukan Yajna (pemujaan/upacara kurban suci) umat Hindu pada setiap yuga (zaman) caranya berbeda-beda mengingat situasi dan kondisi pada setiap zaman adalah juga berbeda-beda, manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya juga berbeda sesuai dengan zamannya, zaman dulu dan sekarang jelas berbeda, dulu manusia hidup dan berburu binatang, lalu bercocok tanam, kemudian menuju industrialisasi dan perdagangan.
Sebutan nama Tuhan yang paling utama dipuja dan dikidungkan (dinyanyikan) pada setiap zaman adalah juga tidak sama yaitu : pada zaman Kerthayuga sebutan nama Tuhan yang paling bertuah adalah Narayana, pada zaman Tretayuga nama Rama yang paling bertuah, demikian juga pada zaman Dwaparayuga dengan sebutan Krishna dan pada zaman Kaliyuga sekarang ini, semua sebutan nama-nama Tuhan atau Sahasranama sangat bertuah untuk dikidungkan. Dalam Widhi Tatwa (Filsafat tentang Tuhan) ada disebutkan “Ekam Eva Adwityam Brahman” yang artinya “Hanya satu (ekam eva) tidak ada duanya (adwityam) Hyang Widhi (Brahman atau Tuhan) itu. Dalam lontar Sutasoma juga dikatakan “Ekam Sat Viprah Bahuda Wadanti” yang artinya “Hanya satu (ekam) Hyang Widhi (sat atau hakekat) orang bijaksana (viprah) menyebutkan (wadanti) dengan banyak nama (bahuda)”.
Tokoh yang dianggap berhasil mencapai kesempurnaan dengan kidung atau menyanyikan kidung suci keagamaan ialah Rsi Narada dan Ratnakara,. Kidung suci (nyanyian rohani) yang berisi puja-puji terhadap kemahakuasaan dan keagungan sifat-sifat Tuhan dan dengan mengulang-ulang nama dan sifat agung beliau dapat menyucikan Atman (percikan suci Tuhan yang ada dalam diri manusia) untuk kemudian manunggal (bersatu) dengan Paramătman (Sang Pencipta) pada segala zaman atau sejak dunia beserta isinya ini ada (diciptakan).
Diceritakan pada zaman Tretayuga, tersebutlah seorang pemburu, penjahat ulung dan perampok yang sangat kejam bernama Ratnakara, walaupun sebenarnya ia adalah putra seorang Rsi yang bernama Rsi Pracethasa, lalu kenapa ia menjadi seorang perampok, bahkan tak segan-segan membunuh korbannya? Nampaknya faktor lingkungan pada waktu beliau masih kecil sangat mempengaruhinya, ia mempunyai pergaulan dan dibesarkan di lingkungan hitam yaitu pada keluarga pemburu binatang.
Pada waktu Ratnakara masih kecil ia termasuk anak yang lincah dan cerdas tak heran kalau ia suka bermain-main ke luar pertapaan ayahnya di tepi sungai Gangga India, suatu ketika ia bermain cukup jauh, saking asyiknya ia bermain tambah jauh dari ashram, sampailah akhirnya, ia tidak tahu lagi jalan untuk pulang ke ashram (tempat tinggalnya). Ketika matahari sudah hampir terbenam ia sadar dan ingat sama orang tuanya, ia lalu menjadi bingung dan panik, ia lalu menangis menjerit sejadi-jadinya sambil memanggil sang ayah dan ibunya, lalu suara tangisnya itu didengar oleh seorang pemburu di tengah hutan. Pemburu itulah kemudian membesarkan serta mengangkatnya sebagai anak. Ratnakara kecil pun tumbuh dewasa dan menjadi seorang pemburu binatang dalam hutan, mengikuti jejak ayah angkatnya itu.
Setelah dewasa dan berumah tangga ia punya istri dan punya anak cukup banyak, maka dengan hasil buruan saja sering tidak dapat mencukupi hidupnya sekeluarga, maka Ratnakara pun terpaksa menjadi perampok, ia merampok siapa saja yang ditemuinya, demikianlah perjalanan hidupnya dan hari ke hari di dalam hutan.
Suatu ketika Rsi Narada berjalan-jalan keluar ashram dan sudah menjadi kebiasaan Sang Rsi bilamana berjalan-jalan ia selalu melantunkan kidung (nyanyian) puja-puji Rama, nama Rama dan sifat-sifat keagungannya diucapkan berulang-ulang tiada henti, berkat bhakti (cinta kasih yang tulus) beliau. maka kekuatan Rama sebagai avathara (penjelmaan) Visnu selalu melindungi perjalanan Sang Rsi Narada. Beberapa saat (beberapa menit) ia agak mengantuk dan kurang konsentrasi dalam menyanyikan (menyebut) nama Rama …..Rama... Rama ji ge Rama saking kantuknya sampai terbalik menjadi Mara .... Mara sehingga artinyapun menjadi jauh berbeda. Mara dalam bahasa sansekerta artinya adalah bahaya. Betul saja tak lama kemudian muncullah bahaya, Ratnakara datang menghadangnya, namun Rsi Narada tidak begitu terkejut melihat sosok Ratnakara yang siap merampoknya, saat itu kebetulan Rsi Narada hanyalah membawa Wina (sejenis alat musik) maka diambillah Wina itu oleh Ratnakara.
Setelah Rsi Narada menyadari akan kekeliruannya dalam mengucapkan nama Rama ia pun memperbaiki kidungnya dengan penuh konsentrasi disertai rasa bhakti yang tulus dan mengulang-ulang kembali menyebut nama Rama dalam hati saja (manasa) tanpa terdengar oleh Ratnakara.
Kekuatan kidung suci itu benar-benar menggetarkan Atman yang bersemayam pada diri Ratnakara. Akhirnya Ratnakara tersadar akan dosa-dosanya yang pernah ia perbuat, ia lalu merunduk sebagai tanda hormat. Sejak itu pula Ratnakara menyesali segala perbuatannya seperti merampok, membunuh yang pernah dilakukannya. Ia pun menjatuhkan dirinya ke kaki Rsi Narada sebagai ungkapan permintaan maaf yang tulus dari seorang murid (bhakta) kepada guru (acharya), ia lalu menyerahkan diri untuk menjadi muridnya, Sang Rsi Narada pun menerimanya dengan penuh cinta kasih, selanjutnya ia diberikan pelajaran yoga dan pemula hingga yang paling tinggi tingkatannya. Setelah yoganya mantap ia lalu melakukan tapa brata selama bertahun-tahun, saking tekunnya ia melakukan tapa, ia tidak bergeming sedikitpun ketika ribuan semut mengerumuni tubuhnya, bahkan sampai semut-semut itu membuat sarang, hingga menutupi sekujur tubuhnya sampai tidak kelihatan lagi badannya.
Melihat keteguhan Ratnakara itu, Rsi Narada sangat gembira. Setelah Ratnakara sudah dianggap sukses dan berhasil menguasai dirinya. Sarang semut itu lalu dibongkar oleh Rsi Narada, kemudian didapatilah Ratnakara masih tetap tenang dalam semadhinya, tubuhnya sedikitpun tidak terpengaruh oleh gigitan semut. Setelah ia sadar didatangi oleh Rsi Narada, lalu Ratnakara menghaturkan sembah sujud, memberi hormat sebagaimana ketentuan (sesana) seorang murid (bhakta) terhadap gurunya (acharya). Tak lama kemudian Ratnakara didiksa atau diwisuda (dwijati) dengan upacara sederhana sekali (nistaning nista) untuk menjadi seorang Rsi, oleh Rsi Narada kemudian Ratnakara diberi nama baru (gelar) Rsi Walmiki sebagai nama dwijati. Kata “Walmiki” sebenarnya berasal dari kata “Walmika” yang dalam bahasa sansekerta berarti rumah semut, ia diberi nama dwijati Walmiki karena dianggap terlahir dari rumah semut pada waktu ia menjalankan tapa brata.
Rsi Walmiki inilah oleh Dewa Brahma dianugrahi kekuatan spiritual yang hébat untuk dapat melihat dan mengetahui dengan jelas seluruh peristiwa dan kehidupan Sri Rama sebagai penjelmaan dari Dewa Wisnu, dan sejak Sri Rama lahir sebagai putra Prabu Dasaratha, Raja Ayodhya hingga kembali ke swarga loka sebagai Visnu.
Kemudian dengan kemampuan yang diberikan oleh Dewa Brahma ia kemudian menyusun syair yang berjumlah 24.000 sloka, syair-syair tersebut diajarkan kepada Kusa dan Lawa, yang memenangkan sayembara/lomba baca syair (utsawa dharrna gita), kisah perjalanan hidup Sang Rama itulah kemudian dikenal sebagai Itihasa Ramayana yang sangat terkenal dari zaman ke zaman hingga sekarang.
Demikianlah keutamaan kidung suci bila diucapkan dengan sungguh-sungguh disertai penyerahan diri yang tulus ikhlas (bhakti) akan membuat orang menjadi sadar, perasaan orang menjadi halus dan suci serta dapat menghantarkan Atman (kekuatan Tuhan yang ada dalam diri setiap mahluk hidup) menjadi semakin dekat dengan Brahman, Sang Pencipta (Tuhan), dengan kidung suci akan dapat membentuk struktur rohani yaitu Atman akan menguasai budhi, kemudian budhi akan menguasai pikiran (manah) dan manah akan menguasai indriya, sehingga dapat melahirkan tingkah laku yang selalu terkontrol dengan baik, disamping akan mendorong orang lain untuk ikut berbuat baik.
Kamis, 26 Januari 2017
DASA AKSARA RAHASIA KEKUATAN SEMESTA
Dasa Aksara rahasia kekuatan semesta alam
Om Awighnamastu Namo Siddham - Semoga tiada halangan.
Ini merupakan wejangan yang teramat mulia, diceritakan dalam setiap tubuh manusia terdapat hurup – hurup yang sangat disucikan, diceritakan pula bahwa Dewa - dewa dari hurup suci tersebut bersatu menjadi sang hyang ‘dasa aksara’.
Dasa aksara merupakan sepuluh hurup utama dalam alam ini yang merupakan simbol dari penguasa alam jagat raya dan sangat erat hubungannya dengan dewata nawasanga. Dari sepuluh hurup bersatu menjadi panca brahma (lima hurup suci untuk menciptakan dan menghancurkan), panca brahma menjadi tri aksara(tiga hurup), tri aksara menjadi eka aksara (satu hurup). Ini hurupnya: “OM”. Bila sudah hafal dengan pengucapan hurup suci tersebut agar selalu di ingat dan diresapi, karena ini merupakan sumber dari kekuatan alam semesta yang terletak didalam tubuh kita (bhuana alit) ataupun dalam jagat raya ini (bhuana agung) .
Dan ketahuilah kandaning Sang Hyang Aksara, kawruhake na lungguhe, pasurupe, hanaring Buwana Alit, ring angga sariranta. 20 akweh ikang aksara, ane dadi bungkahing sastra, yang kawruhe, away wera, apan mula dahat tutur iki, wenang managa buwana. Iki luwirnya:
ha na ca ra ka = ada utusan,
da ta sa wa la = pada peperangan,
pa dha ja ya nya = sama saktinya,
ma gab ha tha nga = sama-sama mati.
Disini yang digunakan referensi aksara Jawa. Karena lebih lengkap dan mudah dipahami. Ke 20 aksara itu menggambarkan suatu proses penciptaan Tuhan, yang dilewatkan kepada manusia.
Maka penjelasannya sebagai berikut:
ha na ca ra ka = Ada utusan, utusan dari Hyang Widhi, dua orang manusia, laki dan perempuan. Yang dalam mitos cerita Aji Saka bernama Dora dan Sembada.
da ta saw a la = Membawa pesan atau tugas yang tidak boleh tidak, harus dilaksanakan. Tugas Dora adalah mempertahankan keris, yang ditipkan Aji Saka kepadanya. Sedangkan tugas Sembada kembali meminta keris tersebut.
pa da ja ya nya = perintahnya pasti, “Dora kutitip keris ini kepadamu, dan tidak boleh siapapun mengambil kembali, selain aku”, kata Aji Saka. Dan setelah itu, Sembada pun diperintah. “Semada ambilah keris yang kutitipkan pada Dora, jangan pernah kembali tanpa keris tersebut”, kata Aji Saka pula.
ma ga bat ha nga = Itulah alasannya, kenapa kedua utusan itu lalu bertempur. Namanya juga murid Aji Saka, pastilah bukan manusia sembarangan. Karena sama-sama saktinya, maka keduanya pun akhirnya sama-sama mengalami kematian.
lebih dalam, dapat diselami artinya sebagai berikut:
Aji Saka melambangkan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.
Dora adalah manusia laki-laki dewasa, dan
Sembada adalah manusia perempuan dewasa.
Keris ini adalah symbol purusha = purus; kemaluan laki-laki.
Saung keris yang dibawa Sembada, sebagai bukti ia utusan Aji Saka, adalah simbol predana = vagina; kemaluan wanita.
Bertempur adalah simbol persetubuhan, senggama antara laki-laki dan perempuan. Sama-sama lelah, karena api asmara yang tadi telah membakar dirinya telah padam, telah mati.
Karena itulah kerajaan Aji Saka bernama Medang Kemulan, yang berarti Medal Kemulan atau keluar dari kemaluan lewat pergumulan, persetubuhan.
Dan karena itu pula, bila tiba-tiba ada seorang wanita remaja ataupun dewasa kedapatan hamil dan tidak ada yang mengaku bertanggung jawab, maka agar anaknya nanti tidak menjadi anak bebinjat, dia bisa dikawinkan atau dinikahkan dengan sebuah keris. Karena keris dianggap simbol purusha.
Selanjutnya dikatakan :
ha na ca ra ka, unggwanya Wetan (Timur) adalah kawitan atau wiwitan (permulaan) adanya wujud manusia,
pa dha ja ya nya, unggwanya Kulon (barat) berarti bapak-ibu kelonan (tidur bersama),
da ta sa wa la, unggwanya kidul (selatan) berarti kemaluan bapak ndudul (menerobos kemaluan ibu), kemudian si ibu menjadi bunting, hamil.
ma ga ba tha nga, unggwanya Lor (utara) artinya lahir, melahirkan anak.
Dengan adanya kelahiran manusia inilah ajaran Kanda Pat menjadi ada. Bila tidak ada kelahiran ini, maka ajaran Kanda Pat pun takkan pernah ada.
Menurut sastra Kejawen, aksara 20 itu, bila diucapkan secara terbalik, akan menjadi ilmu penolak yang sangat ampuh. Bisa menolak segala malapetaka. Termasuk menolak tuju, teluh, teranjana, leak, desti, pepasangan, sesawangan, rerajahan dan sebagainya. Inilah mantranya :
“Nga Tha Ba Ga Ma, Nya Ya Ja Dha Pa. La Wa Sa Ta Da, Ka Ra Ca Na Ha”.
Penjelasannya adalah sebagai berikut :
Nga Tha Ba Ga Ma = Tidak ada kematian,
Nya Ya Ja Dha Pa = Tidak ada kesaktian,
La Wa Sa Ta Da = Tidak ada peperangan,
Ka Ra Ca Na Ha = Tidak ada utusan.
Mantra ini telah diyakini dan dipraktekkan oleh beberapa teman, dan semuanya mengatkan berhasil.
Lebih jauh penjabaran aksara 20 dalam kaitannya dengan ajaran Kanda Pat Dewa, adalah begini :
Ha Na Ca Ra Ka, Dewanya Bhatara Iswara, rupanya putih, senjatanya Bajra, tunggangannya Gajah.
Da Ta Sa Wa La, Dewanya Bhatara Brahma rupanya Abang, senjatanya Danda, tunggangannya Angsa.
Pa Dha Ja Ya Nya, Dewanya Bhatara Mahadewa, rupanya kuning, senjatanya Nagapasah, tunggangannya Naga.
Ma Ga Ba Tha Nga, Dewanya Bhatara Wisnu, rupanya ireng, senjatanya Cakra, tunggangannya Garuda.
Dari aksara 20 (dwidasa aksara) inilah kemudian lahir dari Dasaksara, dadi pancaksara, dadi triaksara, dadi Rwabhineda.
Sabdaning Pancaksara adalah Na Ma Si Wa Ya. Catatan : Mang, Ang, Ong, Ung, Yang, Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya. Semua disebutkan Pancaksara.
Sabdaning Rwabhineda adalah : Ang Ah, dadi Purusa-Predana, Akasa-Pretiwi, Lemah-Peteng, dan Urip kelawan Pati.
Triaksara ring Buwana Alit, Ang ring ati, Ung ring ampru, Mang ring papusuh. Dan juga, Ang ring bayu, Ung ring sabda dan Mang ring idep. Ang berwujud api, Ung berwujud air, dan Mang berwujud angin. Ang Dewanya Brahma, Ung Dewanya Wisnu, dan Mang Dewanya Iswara.
Begini caranya menyatukan ataupun menempatkan sang hyang dasa aksara dalam badan ini.
Yang pertama sang hyang sandhi reka yang terletak dalam badan kita ini. Beliau bertapa-beryoga sehingga beliau menjelma menjadi sang hyang eka jala resi. Sang hyang eka jala rsi beryoga muncul sang hyang ketu dan sang hyang rau.
Sang hyang rau menciptakan kala (waktu), kegelapan, niat jahat yang sangat banyak, sedangkan sang hyang ketu menciptakan tiga aksara yang sangat berguna, diantaranya wreasta (ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, ma, ga, ba, nga, pa, ja, ya, nya), beserta swalalita dan modre. Sehingga jumlah hurupnya adalah dua puluh hurup. Aksara modre bersatu dengan sembilan hurup wreasta yaitu dari ha –wa, yang kemudian disebut dasa sita. Aksara swalelita, bersatu dengan sembilan hurup wreasta lainnya yaitu dari la – nya, yang kemudian disebut ‘dasa sila’ dan ‘dasa bayu’. Bertemu ketiga induk dari aksara suci tersebut; dasa sita, dasa sila, dasa bayu menjadi ‘dasa aksara’.
Kedelapan belas aksara ini dapat dirangkaikan menjadi suatu kalimat untuk memudahkan menghapalkannya, yakni: Hana caraka gata mangaba sawala pada jayanya. Artinya: ada (dua orang) hamba berpengalaman membawa surat, sama perwiranya.
Tetapi ada pula yang menulis aksara ini sebagai berikut: Hana caraka dhata sawala pada jayanya magabathanga. Artinya: Ada (dua) prajurit berkelahi, sama saktinya (akhirnya) keduanya menjadi mayat.
Kedelapan belas aksara ini merupakan wreastra, yakni aksara yang tampak dan dapat diajarkan kepada siapa saja. Sedangkan aksara yang tidak tampak yang terdiri atas dua buah aksara disebut swalalita yaitu Ah dan Ang; merupakan aksara yang tidak boleh diajarkan kepada sembarang orang.
Kedua, aksara swalalita ini dilengkapi dengan pangangge sastra, yaitu kelengkapan aksara berupa ardha-candra berbentuk bulan sabit, windu yang melambangkan matahari berbentuk bulatan dan nada melambangkan bintang yang dilukis sebagai segi tiga.
Ketiga, pangangge sastra ini sering dipasangkan dengan aksara huruf hidup: a, i, u, e, o sehingga dibaca menjadi: ang, eng, ing, ong, dan ung. Suku kata ini disebut: ang-kara, eng-kara, ing-kara, ong-kara, dan ung-kara. Bentuk seperti ini disebut modre.
Kelengkapan ketiga aksara swalalita ini sering dihubungkan dengan kekuatan dan simbol dari dewa, sehingga bentuk windu adalah lambang agni, Dewa Brahma, sama dengan aksara Ang. Bentuk ardha-candra adalah lambang air, Dewa Wisnu sama dengan aksara Ung. Dan bentuk nada adalah lambang udara, Dewa Siwa sama dengan aksara Mang.
Ketiga aksara ini jika disatukan akan menjadi Ang-Ung-Mang atau A-U-M yang dibaca Aum atau Om. Di Bali diucapkan Ong. Aksara Ong-kara inilah sumber dari semua aksara, sehingga disebut wija-aksara, aksara yang maha suci, lambang Dewa Trimurti.
Kedudukan kedelapan belas aksara Bali tersebut di dalam tubuh manusia atau bhuana alit adalah sebagai berikut:
Ha di ubun-ubun
Na di antara kedua alis
Ca di dalam kedua mata
Ra di kedua telinga
Ka di dalam hidung
Da di dalam mulut
Ta di dalam dada
Sa di tangan (lengan) kanan
Wa di tangan (lengan) kiri
La di hidung
Ma di dalam dada kanan
Ga di dalam dada kiri
Ba di pusar
Nga di dalam alat kelamin
Pa di dalam pantat (anus)
Ja di kedua tungkai (kaki)
Ya di tulang belakang
Nya di tulang ekor
Kelengkapan atau pangangge aksara mempunyai kedudukan atau tempat pula di dalam tubuh manusia, yakni:
Ulu di kepala (dalam otak)
Taling di hidung
Surang di rambut
Nania di lengan (tangan)
Wisah di telinga
Pepet di batok kepala
Cecek di lidah
Guwung di kulit
Suku di tungkai (kaki)
Carik di persendian
Pamada di alur jantung
ini merupakan maksud/arti dari sastra wreastra, dibaca dari belakang. diantaranya;
nyaya, berarti sang Hyang Pasupati, tuhan
japa, berarti sang hyang mantra,
ngaba, berarti Sang Hyang guna,
gama, berarti kekal, abadi,
lawa, berarti manusia
sata, berarti hewan dan binatang
daka, berarti pendeta, nabi, orang suci
raca, berarti tumbuhan
naha, berarti moksa, nirvana
ini pertemuan sastra yang delapan belas (wreastra) , bertemu ujung dengan pengkalnya menjadi dasa aksara, diantaranya;
ha – nya menjadi sa
na – ya menjadi na
ca – ja menjadi ba
ra – pa menjadi ma
ka – nga menjadi ta
da – ba menjadi si
ta – ga menjadi a
sa – ma menjadi wa
wa – la menjadi i & ya
begini cara menempatkan sang hyang dasa aksara didalam badan, yang merupakan linggih (stana) dewata nawasanga di dalam tubuh manusia, diantaranya;
sa ditempatkan di jantung, dewa Iswara.
ba ditempatkan di hati, dewa Brahma.
ta ditempatkan di kambung, dewa Mahadewa.
a ditempatkan di empedu, dewa Wisnu.
I ditempatkan di dasar hati, dewa Siwa.
na ditempatkan di paru - paru, dewa Maheswara.
ma ditempatkan di usus halus, dewa Rudra.
si ditempatkan di ginjal, dewa Sangkara.
wa ditempatkan di pancreas, dewa Sambhu.
ya ditempatkan di ujung hati, Dewa Siwa.
Ada pula yang memberikan ulasan tentang dasa aksara ini bahwa setiap aksara itu mempunyai arti sendiri-sendiri, yaitu:
Sa berarti satu
Ba berarti bayu
Ta berarti tatingkah
A berarti awak
I berarti idep
Nama berarti hormat
Siwa berarti Siwa
Ya berarti yukti
Dengan pengertian seperti itu, maka arti dari dasa aksara ini adalah orang yang mempunyai tingkah laku dan pikiran (idep) yang luhur saja yang mampu mempergunakan beyu kekuatan dari Siwa. Dengan menyatukan tingkah laku dan pikirannya dia akan mampu mempergunakan dasa bayu untuk kesehjateraan buana alit dan buana agung.
Dasa aksara tersebut terbentuk dari dua jenis aksara suci, yaitu panca tirta dan panca brahma.
yang disebut panca tirta, adalah sebagai berikut:
sang sebagai tirta sanjiwani, untuk pangelukatan (membersihkan).
Bang sebagai tirta kamandalu, untuk pangeleburan (menghancurkan).
Tang merupakan tirta kundalini, utuk pemunah (menghilangkan).
Ang merupakan tirta mahatirta, untuk kasidian (agar sakti).
Ing merupakan tirta pawitra, untuk pangesengan (membakar).
Ini yang dikatakan panca brahma, berada dalam diri manusia. Ini aksaranya;
Nang disimpan di suara.
Mang disimpan di tenaga
Sing disimpan di hati/perasaan
Wang disimpan di pikiran
Yang disimpan di nafas.
Kemudian balikkan hurup tersebut:
Yang disimpan di jiwa
Wang disimpan di guna/aura
Sing disimpan di pangkal tenggorokan
Mang disimpan di lidah
Nang disimpan di mulut
Bila Dasa aksara diringkas, aksara yang ada di panca tirtha dipasangkan dengan aksara panca brahma akan muncul Sang Hyang Panca Aksara. Inilah panca aksara tersebut:
Sa + Na menjadi Mang
Ba + Ma menjadi Ang
Ta + Si menjadi Ong
A + Wa menjadi Ung
I + Ya menjadi Yang
panca brahma dan panca tirta diringkas menjadi tri aksara (a, u, m).
Setelah itu baru turun arda candra (bulan sabit), windu (lingkaran) dan nada (titik). Baru boleh di ucapkan sang, bang, tang, ang, ing, nang, mang, sing, wang, yang.
Jika panca tirtha digabung dengan panca brahma ditambah dengan tri aksara dan eka aksara akan terjadi catur dasa aksara.
Catur dasa aksara ini terdiri atas: sa-ba-ta-a-i ditambah na-ma-si-wa-ya, serta digabung dengan ang-ung-mang dan ong-kara yang erat kaitannya dengan catur-dasa-bayu, suatu kekuatan yang ada di dalam buana alit dan buana agung, yang memungkinkan manusia dan dunia hidup dengan wajar.
Ini menyimpan Rwa bhineda (dua sisi dunia), ini suaranya; Ong Ung.
Ong di hati putih, ung di hati hitam.
Ung di empedu, ong di pankreas.
Ong di dubur, ung di usus.
lafalkan aksara tersebut lalu letakkan dalam tubuh kita dan alam semesta. Ini rangkuman intisari dari sastra yang berjumlah lima hurup, yang digunakan untuk memuja tuhan, memanggil, menghaturkan persembahan, memohon anugrah dari tuhan YME, diantaranya:
mantra untuk memuja tuhan, Mang Ang Ong Ung Yang.
mantra untuk memanggil agar tuhan berkenan hadir, Ang Ong Ung Yang Mang
mantra untuk mempersembahan sesajen jamuan dari kita, Ong Ung Yang Mang Ang
mantra untuk memohon anugrah dari tuhan YME, Ung Yang Mang Ang Ong
Ini suara inti sari; ekam evam dwityam Brahman, disebut ONG. Berupa api rwa bhineda Ang, berupa air rwa bineda Ah.
dasar mantra antuk tri aksara; Mang Ang Ung
kemulan mantra; Ang Ung Mang
pengastiti widhi dewa bethara; Ung Mang Ang
iki pengeraksa jiwa antuk catur aksara; Mang Ang Ung Ong
pengundang bhuta dengen antuk kahuripan; Ang Ung Ong Mang
pemageh bayu ring raga antuk catur resi; Ung Ong Mang Ang
pangemit bayu antuk catur dewati; Ong Mang Ang Ung
Menurut Lontar Kanda Pat, jika manusia dapat menguasai cara penggunaan pangangge sastra atau sastra busana, maka dia dianggap telah menguasai ajaran Durga, dewi kematian yang ada di kuburan.. Seseorang yang mampu mempergunakan wisah, yakni, huruf h, maka orang tersebut akan mampu melakukan aneluh, membencanai orang lain. Bila dia mampu mempergunakan aksara wisah dan taling maka dia dapat melakukan tranjana (ilmu sihir). Kalau dia mampu mempergunakan wisah dan cecek, maka dia akan dapat melaksanakan hanuju, menunjukkan kekuatannya ke suatu sasaran yang tepat.
Seseorang yang dapat memanfaatkan busana sastra wisah, taling, cecek, dan suku sekaligus maka dia dapat menjadi leak. Dia adalah seorang leak ahli bathin yang amat besar.
Dia mampu mengendalikan semua kekuatan negatif atau pangiwa yang ada di dunia ini. Untuk mampu menggunakan aksara pangangge ini yang merupakan gambar dan lambing yang rumit ini perlu ketekunan dan kemauan keras untuk mempelajarinya. Jika salah mempelajarinya maka kekuatan aksara ini akan dapat membahayakan jiwa orang yang mempelajarinya. Tetapi bagi orang yang mampu mempelajarinya dengan baik, maka orang ini dapat mempergunakan kekuatan aksara ini untuk tujuan baik sehingga menjadi balian panengen, untuk menyembuhkan orang sakit akibat terkena sihir balian pangiwa. Untuk mempelajari lebih dalam mengenai aksara pangangge ini dapat dibaca di dalam lontar Tutur Karakah Durakah, Panglukuhan Dasaksara, Tutur Karakah Saraswati, Tutur Bhuwana Mabah, Usada Tiwas Punggung, Usada Netra dan lainnya lagi.
Setiap aksara apalagi setelah digabungkan beberapa aksara sehingga menjadi dasa aksara, panca aksara, catur aksara, tri aksara, dwi aksara, dan eka aksara mempunyai gambar atau lambang sendiri-sendiri dengan kekuatan bayu atau vayu yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan dan kesehjateraan umat manusia. Tetapi ada pula orang yang mempelajari aksara ini dengan tujuan utnuk membuat sakit orang lain, sehingga dia disebut balian pangiwa. Hal ini tentunya tidak dikehendaki oleh umat manusia. berikut ini meditasinya:
Ong, niatkan menstanakan dirambut (visualisasi ongkara ngadeg)
Sang, stanakan di Siwadwara (rasakan dewa Iswara Dengan warna Putih)
Bang, stanakan di Kepala (Dewa Brahma, Merah)
Tang, stanakan di Kening ,selaning lelata (Dewa Mahadewa, Kuning),
Ang, stanakan di wajah (DewaWisnu, Hitam),
Ing, stanakan di Lidah (Dewa Siwa, Amancawarna),
Nang, stanakan di Tenggorokan (Dewa Mahesora, dadu),
Mang, stanakan di Hati (Dewa Ludra, Jingga),
Sing, stanakan di Perut (Dewa Sangkara, Hijau),
Wang, stanakan di Nabhi/Pusar (Dewa Sambhu, Biru),
Yang, stanakan di Muladhara (Bhatara Guru, mancawarna)
Barang siapa yang memahami pengetahuan ini akan memiliki kesidian serta kesaktian. Ajaran ini oleh masyarakat umum dikenal dengan nama, Yoga, Meditasi dan Samadhi. Namanya berbeda, namun hakekatnya adalah sama saja.
Menurut ajaran Yoga di dalam lapisan tubuh eterik Manusia, terdapat tujuh Cakra utama yang merupakan linggan para Dewa yaitu:
Cakra Muladara, menjadi linggan Dewa Brahma.
Cakra Swadhisthana, menjadi linggan Dewa Wisnu.
Cakra Manipura, menjadi linggan Dewa Rudra.
Cakra Anahata, menjadi linggan Dewa Iswara.
Cakra Wisuda, menjadi linggan Dewa Maheswara.
Cakra Ajna, menjadi linggan Dewa Mahadewa.
Cakra Sahasara menjadi linggan Dewa Siwa.
Untuk Dewa Sambu dan Dewa Sangkara malingga ring Cakra kembar, yang merupakan cakra menengah. Dimana Dewa Sambu berada di sebelah kanan, dan Dewa Sangkara di sebelah kiri. Cakra Kembar berada di kedua tangan, kedua mata, kedua telinga dan sebagainya.
Tulang punggung yang dikatakan sebagai poros tubuh. Dari dalam badan halus yang bersesuaian dengan tulang punggung ini, muncul pusat-pusat kesadaran yang disebut dengan Cakra. Di dalam tubuh halus (eteris) ada banyak sekali Cakra. Namun hanya ada tujuh cakra yang dianggap utama, meliputi :
Cakra Muladara, bersesuaian letaknya dengan pantat.
Cakra Swadhisthana, bersesuaian letaknya dengan kemaluan.
Cakra Manipura, bersesuaian letaknya dengan pusar.
Cakra Anahata, bersesuaian letaknya dengan jantung.
Cakra Wisuda, bersesuaian letaknya dengan tenggorokkan.
Cakra Ajna, bersesuaian letaknya dengan pertengahan kedua alis (selaning lelata).
Cakra Sahasara, bersesuaian letaknya dengan ubun-ubun. Di dalam Sahasara Cakra inilah Siwa bersemayam. Bukan berarti Siwa yang ditempatkan, tetapi kekuatanNya yang dimanifestasikan di sini. Tuhan tidak dapat dibatasi di suatu tempat. Tetapi manifestasinya dapat dipusatkan dimana saja.
lebih lanjut, baca: Apa itu Chakra?
Cakra-cakra itu merupakan pusat energy rohani. Cakra ini tidak tampak dengan mata biasa, karena cakra itu tidak berbadan fisik, melainkan dilapisan badan halus yaitu badan eteris. Selain itu, dalam anatomi tubuh halus itu, terdapat juga nadi-nadi tempat aliran energi, yang memiliki hubungan khusus dengan masing-masing cakra itu. Disebut ida atau pinggala. Kedua nadi ini, terdapat disebelah kanan dan kiri tulang punggung. Disebutkan bahwa, pengetahuan tertinggi ditutupi oleh maya sehingga pengetahuan tertinggi tetap bersembunyi. Yoga adalah jalan untuk menyingkapkan maya dan membuka pengetahuan tertinggi itu. Gheranda Samhita mengatakan, “Tidak ada ikatan yang melebihi kekuatan maya, dan tidak ada kekuatan melebihi Yoga untuk membasmi ikatan-ikatan itu”. Dia yang tekun berlatih Yoga akan mendapatkan bermacam-macam siddhi atau kekuatan gaib.
Badan ini adalah sakti, keperluan badan adalah keperluan sakti. Segala yang terlihat dan berbuat itulah sakti. Seluruh badan dan pekerjaannya adalah penjelmaan sakti itu. Untuk menyadari hal ini orang harus menyempurnakan dirinya. Penempatan Dewa pada bagian-bagian tubuh tertentu, menyimbolkan adanya upaya membuka mengaktifkan dan mengharmoniskan cakra. Semua cakra harus terbuka dan berfungsi menghisap dan memancarkan energy (prana), mengatur, mempertahankan, dan mengelola aspek fisik, emosional, mental dan kejiwaan. Sejalan dengan itu, semakin pandai seseorang memahami kedudukan Dewa di dalam dirinya, berarti ia semakin mahir mengatur gerakan cakra di dalam tubuhnya, sehingga gerakan cakra itu semakin harmonis dan sempurna. Seorang dalam melakukan olah meditasi, yoga atau Samadhi harus mampu memasukkan energi (prana) ketubuhnya secara teratur, agar pengembangan batinnya berjalan dengan baik. Dengan demikian, gerakan cakra semakin harmonis dan sempurna, sehingga menghasilkan energi (prana) yang semakin besar. Energi (prana) yang dihasilkan itulah merupakan modal untuk menjadi Manusia Setengah Dewa Sakti Manderaguna.
demikianlah sastra yang ada di alam ini yang berada juga didalam tubuh kita. Jagalah kesucian dan keseimbangan dari hurup suci tersebut. Semoga setelah membaca dan meresapi sastra ini, dunia ini akan menjadi semakin sejahtera.
Om Awighnamastu Namo Siddham - Semoga tiada halangan.
Ini merupakan wejangan yang teramat mulia, diceritakan dalam setiap tubuh manusia terdapat hurup – hurup yang sangat disucikan, diceritakan pula bahwa Dewa - dewa dari hurup suci tersebut bersatu menjadi sang hyang ‘dasa aksara’.
Dasa aksara merupakan sepuluh hurup utama dalam alam ini yang merupakan simbol dari penguasa alam jagat raya dan sangat erat hubungannya dengan dewata nawasanga. Dari sepuluh hurup bersatu menjadi panca brahma (lima hurup suci untuk menciptakan dan menghancurkan), panca brahma menjadi tri aksara(tiga hurup), tri aksara menjadi eka aksara (satu hurup). Ini hurupnya: “OM”. Bila sudah hafal dengan pengucapan hurup suci tersebut agar selalu di ingat dan diresapi, karena ini merupakan sumber dari kekuatan alam semesta yang terletak didalam tubuh kita (bhuana alit) ataupun dalam jagat raya ini (bhuana agung) .
Dan ketahuilah kandaning Sang Hyang Aksara, kawruhake na lungguhe, pasurupe, hanaring Buwana Alit, ring angga sariranta. 20 akweh ikang aksara, ane dadi bungkahing sastra, yang kawruhe, away wera, apan mula dahat tutur iki, wenang managa buwana. Iki luwirnya:
ha na ca ra ka = ada utusan,
da ta sa wa la = pada peperangan,
pa dha ja ya nya = sama saktinya,
ma gab ha tha nga = sama-sama mati.
Disini yang digunakan referensi aksara Jawa. Karena lebih lengkap dan mudah dipahami. Ke 20 aksara itu menggambarkan suatu proses penciptaan Tuhan, yang dilewatkan kepada manusia.
Maka penjelasannya sebagai berikut:
ha na ca ra ka = Ada utusan, utusan dari Hyang Widhi, dua orang manusia, laki dan perempuan. Yang dalam mitos cerita Aji Saka bernama Dora dan Sembada.
da ta saw a la = Membawa pesan atau tugas yang tidak boleh tidak, harus dilaksanakan. Tugas Dora adalah mempertahankan keris, yang ditipkan Aji Saka kepadanya. Sedangkan tugas Sembada kembali meminta keris tersebut.
pa da ja ya nya = perintahnya pasti, “Dora kutitip keris ini kepadamu, dan tidak boleh siapapun mengambil kembali, selain aku”, kata Aji Saka. Dan setelah itu, Sembada pun diperintah. “Semada ambilah keris yang kutitipkan pada Dora, jangan pernah kembali tanpa keris tersebut”, kata Aji Saka pula.
ma ga bat ha nga = Itulah alasannya, kenapa kedua utusan itu lalu bertempur. Namanya juga murid Aji Saka, pastilah bukan manusia sembarangan. Karena sama-sama saktinya, maka keduanya pun akhirnya sama-sama mengalami kematian.
lebih dalam, dapat diselami artinya sebagai berikut:
Aji Saka melambangkan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.
Dora adalah manusia laki-laki dewasa, dan
Sembada adalah manusia perempuan dewasa.
Keris ini adalah symbol purusha = purus; kemaluan laki-laki.
Saung keris yang dibawa Sembada, sebagai bukti ia utusan Aji Saka, adalah simbol predana = vagina; kemaluan wanita.
Bertempur adalah simbol persetubuhan, senggama antara laki-laki dan perempuan. Sama-sama lelah, karena api asmara yang tadi telah membakar dirinya telah padam, telah mati.
Karena itulah kerajaan Aji Saka bernama Medang Kemulan, yang berarti Medal Kemulan atau keluar dari kemaluan lewat pergumulan, persetubuhan.
Dan karena itu pula, bila tiba-tiba ada seorang wanita remaja ataupun dewasa kedapatan hamil dan tidak ada yang mengaku bertanggung jawab, maka agar anaknya nanti tidak menjadi anak bebinjat, dia bisa dikawinkan atau dinikahkan dengan sebuah keris. Karena keris dianggap simbol purusha.
Selanjutnya dikatakan :
ha na ca ra ka, unggwanya Wetan (Timur) adalah kawitan atau wiwitan (permulaan) adanya wujud manusia,
pa dha ja ya nya, unggwanya Kulon (barat) berarti bapak-ibu kelonan (tidur bersama),
da ta sa wa la, unggwanya kidul (selatan) berarti kemaluan bapak ndudul (menerobos kemaluan ibu), kemudian si ibu menjadi bunting, hamil.
ma ga ba tha nga, unggwanya Lor (utara) artinya lahir, melahirkan anak.
Dengan adanya kelahiran manusia inilah ajaran Kanda Pat menjadi ada. Bila tidak ada kelahiran ini, maka ajaran Kanda Pat pun takkan pernah ada.
Menurut sastra Kejawen, aksara 20 itu, bila diucapkan secara terbalik, akan menjadi ilmu penolak yang sangat ampuh. Bisa menolak segala malapetaka. Termasuk menolak tuju, teluh, teranjana, leak, desti, pepasangan, sesawangan, rerajahan dan sebagainya. Inilah mantranya :
“Nga Tha Ba Ga Ma, Nya Ya Ja Dha Pa. La Wa Sa Ta Da, Ka Ra Ca Na Ha”.
Penjelasannya adalah sebagai berikut :
Nga Tha Ba Ga Ma = Tidak ada kematian,
Nya Ya Ja Dha Pa = Tidak ada kesaktian,
La Wa Sa Ta Da = Tidak ada peperangan,
Ka Ra Ca Na Ha = Tidak ada utusan.
Mantra ini telah diyakini dan dipraktekkan oleh beberapa teman, dan semuanya mengatkan berhasil.
Lebih jauh penjabaran aksara 20 dalam kaitannya dengan ajaran Kanda Pat Dewa, adalah begini :
Ha Na Ca Ra Ka, Dewanya Bhatara Iswara, rupanya putih, senjatanya Bajra, tunggangannya Gajah.
Da Ta Sa Wa La, Dewanya Bhatara Brahma rupanya Abang, senjatanya Danda, tunggangannya Angsa.
Pa Dha Ja Ya Nya, Dewanya Bhatara Mahadewa, rupanya kuning, senjatanya Nagapasah, tunggangannya Naga.
Ma Ga Ba Tha Nga, Dewanya Bhatara Wisnu, rupanya ireng, senjatanya Cakra, tunggangannya Garuda.
Dari aksara 20 (dwidasa aksara) inilah kemudian lahir dari Dasaksara, dadi pancaksara, dadi triaksara, dadi Rwabhineda.
Sabdaning Pancaksara adalah Na Ma Si Wa Ya. Catatan : Mang, Ang, Ong, Ung, Yang, Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya. Semua disebutkan Pancaksara.
Sabdaning Rwabhineda adalah : Ang Ah, dadi Purusa-Predana, Akasa-Pretiwi, Lemah-Peteng, dan Urip kelawan Pati.
Triaksara ring Buwana Alit, Ang ring ati, Ung ring ampru, Mang ring papusuh. Dan juga, Ang ring bayu, Ung ring sabda dan Mang ring idep. Ang berwujud api, Ung berwujud air, dan Mang berwujud angin. Ang Dewanya Brahma, Ung Dewanya Wisnu, dan Mang Dewanya Iswara.
Begini caranya menyatukan ataupun menempatkan sang hyang dasa aksara dalam badan ini.
Yang pertama sang hyang sandhi reka yang terletak dalam badan kita ini. Beliau bertapa-beryoga sehingga beliau menjelma menjadi sang hyang eka jala resi. Sang hyang eka jala rsi beryoga muncul sang hyang ketu dan sang hyang rau.
Sang hyang rau menciptakan kala (waktu), kegelapan, niat jahat yang sangat banyak, sedangkan sang hyang ketu menciptakan tiga aksara yang sangat berguna, diantaranya wreasta (ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, ma, ga, ba, nga, pa, ja, ya, nya), beserta swalalita dan modre. Sehingga jumlah hurupnya adalah dua puluh hurup. Aksara modre bersatu dengan sembilan hurup wreasta yaitu dari ha –wa, yang kemudian disebut dasa sita. Aksara swalelita, bersatu dengan sembilan hurup wreasta lainnya yaitu dari la – nya, yang kemudian disebut ‘dasa sila’ dan ‘dasa bayu’. Bertemu ketiga induk dari aksara suci tersebut; dasa sita, dasa sila, dasa bayu menjadi ‘dasa aksara’.
Kedelapan belas aksara ini dapat dirangkaikan menjadi suatu kalimat untuk memudahkan menghapalkannya, yakni: Hana caraka gata mangaba sawala pada jayanya. Artinya: ada (dua orang) hamba berpengalaman membawa surat, sama perwiranya.
Tetapi ada pula yang menulis aksara ini sebagai berikut: Hana caraka dhata sawala pada jayanya magabathanga. Artinya: Ada (dua) prajurit berkelahi, sama saktinya (akhirnya) keduanya menjadi mayat.
Kedelapan belas aksara ini merupakan wreastra, yakni aksara yang tampak dan dapat diajarkan kepada siapa saja. Sedangkan aksara yang tidak tampak yang terdiri atas dua buah aksara disebut swalalita yaitu Ah dan Ang; merupakan aksara yang tidak boleh diajarkan kepada sembarang orang.
Kedua, aksara swalalita ini dilengkapi dengan pangangge sastra, yaitu kelengkapan aksara berupa ardha-candra berbentuk bulan sabit, windu yang melambangkan matahari berbentuk bulatan dan nada melambangkan bintang yang dilukis sebagai segi tiga.
Ketiga, pangangge sastra ini sering dipasangkan dengan aksara huruf hidup: a, i, u, e, o sehingga dibaca menjadi: ang, eng, ing, ong, dan ung. Suku kata ini disebut: ang-kara, eng-kara, ing-kara, ong-kara, dan ung-kara. Bentuk seperti ini disebut modre.
Kelengkapan ketiga aksara swalalita ini sering dihubungkan dengan kekuatan dan simbol dari dewa, sehingga bentuk windu adalah lambang agni, Dewa Brahma, sama dengan aksara Ang. Bentuk ardha-candra adalah lambang air, Dewa Wisnu sama dengan aksara Ung. Dan bentuk nada adalah lambang udara, Dewa Siwa sama dengan aksara Mang.
Ketiga aksara ini jika disatukan akan menjadi Ang-Ung-Mang atau A-U-M yang dibaca Aum atau Om. Di Bali diucapkan Ong. Aksara Ong-kara inilah sumber dari semua aksara, sehingga disebut wija-aksara, aksara yang maha suci, lambang Dewa Trimurti.
Kedudukan kedelapan belas aksara Bali tersebut di dalam tubuh manusia atau bhuana alit adalah sebagai berikut:
Ha di ubun-ubun
Na di antara kedua alis
Ca di dalam kedua mata
Ra di kedua telinga
Ka di dalam hidung
Da di dalam mulut
Ta di dalam dada
Sa di tangan (lengan) kanan
Wa di tangan (lengan) kiri
La di hidung
Ma di dalam dada kanan
Ga di dalam dada kiri
Ba di pusar
Nga di dalam alat kelamin
Pa di dalam pantat (anus)
Ja di kedua tungkai (kaki)
Ya di tulang belakang
Nya di tulang ekor
Kelengkapan atau pangangge aksara mempunyai kedudukan atau tempat pula di dalam tubuh manusia, yakni:
Ulu di kepala (dalam otak)
Taling di hidung
Surang di rambut
Nania di lengan (tangan)
Wisah di telinga
Pepet di batok kepala
Cecek di lidah
Guwung di kulit
Suku di tungkai (kaki)
Carik di persendian
Pamada di alur jantung
ini merupakan maksud/arti dari sastra wreastra, dibaca dari belakang. diantaranya;
nyaya, berarti sang Hyang Pasupati, tuhan
japa, berarti sang hyang mantra,
ngaba, berarti Sang Hyang guna,
gama, berarti kekal, abadi,
lawa, berarti manusia
sata, berarti hewan dan binatang
daka, berarti pendeta, nabi, orang suci
raca, berarti tumbuhan
naha, berarti moksa, nirvana
ini pertemuan sastra yang delapan belas (wreastra) , bertemu ujung dengan pengkalnya menjadi dasa aksara, diantaranya;
ha – nya menjadi sa
na – ya menjadi na
ca – ja menjadi ba
ra – pa menjadi ma
ka – nga menjadi ta
da – ba menjadi si
ta – ga menjadi a
sa – ma menjadi wa
wa – la menjadi i & ya
begini cara menempatkan sang hyang dasa aksara didalam badan, yang merupakan linggih (stana) dewata nawasanga di dalam tubuh manusia, diantaranya;
sa ditempatkan di jantung, dewa Iswara.
ba ditempatkan di hati, dewa Brahma.
ta ditempatkan di kambung, dewa Mahadewa.
a ditempatkan di empedu, dewa Wisnu.
I ditempatkan di dasar hati, dewa Siwa.
na ditempatkan di paru - paru, dewa Maheswara.
ma ditempatkan di usus halus, dewa Rudra.
si ditempatkan di ginjal, dewa Sangkara.
wa ditempatkan di pancreas, dewa Sambhu.
ya ditempatkan di ujung hati, Dewa Siwa.
Ada pula yang memberikan ulasan tentang dasa aksara ini bahwa setiap aksara itu mempunyai arti sendiri-sendiri, yaitu:
Sa berarti satu
Ba berarti bayu
Ta berarti tatingkah
A berarti awak
I berarti idep
Nama berarti hormat
Siwa berarti Siwa
Ya berarti yukti
Dengan pengertian seperti itu, maka arti dari dasa aksara ini adalah orang yang mempunyai tingkah laku dan pikiran (idep) yang luhur saja yang mampu mempergunakan beyu kekuatan dari Siwa. Dengan menyatukan tingkah laku dan pikirannya dia akan mampu mempergunakan dasa bayu untuk kesehjateraan buana alit dan buana agung.
Dasa aksara tersebut terbentuk dari dua jenis aksara suci, yaitu panca tirta dan panca brahma.
yang disebut panca tirta, adalah sebagai berikut:
sang sebagai tirta sanjiwani, untuk pangelukatan (membersihkan).
Bang sebagai tirta kamandalu, untuk pangeleburan (menghancurkan).
Tang merupakan tirta kundalini, utuk pemunah (menghilangkan).
Ang merupakan tirta mahatirta, untuk kasidian (agar sakti).
Ing merupakan tirta pawitra, untuk pangesengan (membakar).
Ini yang dikatakan panca brahma, berada dalam diri manusia. Ini aksaranya;
Nang disimpan di suara.
Mang disimpan di tenaga
Sing disimpan di hati/perasaan
Wang disimpan di pikiran
Yang disimpan di nafas.
Kemudian balikkan hurup tersebut:
Yang disimpan di jiwa
Wang disimpan di guna/aura
Sing disimpan di pangkal tenggorokan
Mang disimpan di lidah
Nang disimpan di mulut
Bila Dasa aksara diringkas, aksara yang ada di panca tirtha dipasangkan dengan aksara panca brahma akan muncul Sang Hyang Panca Aksara. Inilah panca aksara tersebut:
Sa + Na menjadi Mang
Ba + Ma menjadi Ang
Ta + Si menjadi Ong
A + Wa menjadi Ung
I + Ya menjadi Yang
panca brahma dan panca tirta diringkas menjadi tri aksara (a, u, m).
Setelah itu baru turun arda candra (bulan sabit), windu (lingkaran) dan nada (titik). Baru boleh di ucapkan sang, bang, tang, ang, ing, nang, mang, sing, wang, yang.
Jika panca tirtha digabung dengan panca brahma ditambah dengan tri aksara dan eka aksara akan terjadi catur dasa aksara.
Catur dasa aksara ini terdiri atas: sa-ba-ta-a-i ditambah na-ma-si-wa-ya, serta digabung dengan ang-ung-mang dan ong-kara yang erat kaitannya dengan catur-dasa-bayu, suatu kekuatan yang ada di dalam buana alit dan buana agung, yang memungkinkan manusia dan dunia hidup dengan wajar.
Ini menyimpan Rwa bhineda (dua sisi dunia), ini suaranya; Ong Ung.
Ong di hati putih, ung di hati hitam.
Ung di empedu, ong di pankreas.
Ong di dubur, ung di usus.
lafalkan aksara tersebut lalu letakkan dalam tubuh kita dan alam semesta. Ini rangkuman intisari dari sastra yang berjumlah lima hurup, yang digunakan untuk memuja tuhan, memanggil, menghaturkan persembahan, memohon anugrah dari tuhan YME, diantaranya:
mantra untuk memuja tuhan, Mang Ang Ong Ung Yang.
mantra untuk memanggil agar tuhan berkenan hadir, Ang Ong Ung Yang Mang
mantra untuk mempersembahan sesajen jamuan dari kita, Ong Ung Yang Mang Ang
mantra untuk memohon anugrah dari tuhan YME, Ung Yang Mang Ang Ong
Ini suara inti sari; ekam evam dwityam Brahman, disebut ONG. Berupa api rwa bhineda Ang, berupa air rwa bineda Ah.
dasar mantra antuk tri aksara; Mang Ang Ung
kemulan mantra; Ang Ung Mang
pengastiti widhi dewa bethara; Ung Mang Ang
iki pengeraksa jiwa antuk catur aksara; Mang Ang Ung Ong
pengundang bhuta dengen antuk kahuripan; Ang Ung Ong Mang
pemageh bayu ring raga antuk catur resi; Ung Ong Mang Ang
pangemit bayu antuk catur dewati; Ong Mang Ang Ung
Menurut Lontar Kanda Pat, jika manusia dapat menguasai cara penggunaan pangangge sastra atau sastra busana, maka dia dianggap telah menguasai ajaran Durga, dewi kematian yang ada di kuburan.. Seseorang yang mampu mempergunakan wisah, yakni, huruf h, maka orang tersebut akan mampu melakukan aneluh, membencanai orang lain. Bila dia mampu mempergunakan aksara wisah dan taling maka dia dapat melakukan tranjana (ilmu sihir). Kalau dia mampu mempergunakan wisah dan cecek, maka dia akan dapat melaksanakan hanuju, menunjukkan kekuatannya ke suatu sasaran yang tepat.
Seseorang yang dapat memanfaatkan busana sastra wisah, taling, cecek, dan suku sekaligus maka dia dapat menjadi leak. Dia adalah seorang leak ahli bathin yang amat besar.
Dia mampu mengendalikan semua kekuatan negatif atau pangiwa yang ada di dunia ini. Untuk mampu menggunakan aksara pangangge ini yang merupakan gambar dan lambing yang rumit ini perlu ketekunan dan kemauan keras untuk mempelajarinya. Jika salah mempelajarinya maka kekuatan aksara ini akan dapat membahayakan jiwa orang yang mempelajarinya. Tetapi bagi orang yang mampu mempelajarinya dengan baik, maka orang ini dapat mempergunakan kekuatan aksara ini untuk tujuan baik sehingga menjadi balian panengen, untuk menyembuhkan orang sakit akibat terkena sihir balian pangiwa. Untuk mempelajari lebih dalam mengenai aksara pangangge ini dapat dibaca di dalam lontar Tutur Karakah Durakah, Panglukuhan Dasaksara, Tutur Karakah Saraswati, Tutur Bhuwana Mabah, Usada Tiwas Punggung, Usada Netra dan lainnya lagi.
Setiap aksara apalagi setelah digabungkan beberapa aksara sehingga menjadi dasa aksara, panca aksara, catur aksara, tri aksara, dwi aksara, dan eka aksara mempunyai gambar atau lambang sendiri-sendiri dengan kekuatan bayu atau vayu yang dapat dimanfaatkan untuk kebaikan dan kesehjateraan umat manusia. Tetapi ada pula orang yang mempelajari aksara ini dengan tujuan utnuk membuat sakit orang lain, sehingga dia disebut balian pangiwa. Hal ini tentunya tidak dikehendaki oleh umat manusia. berikut ini meditasinya:
Ong, niatkan menstanakan dirambut (visualisasi ongkara ngadeg)
Sang, stanakan di Siwadwara (rasakan dewa Iswara Dengan warna Putih)
Bang, stanakan di Kepala (Dewa Brahma, Merah)
Tang, stanakan di Kening ,selaning lelata (Dewa Mahadewa, Kuning),
Ang, stanakan di wajah (DewaWisnu, Hitam),
Ing, stanakan di Lidah (Dewa Siwa, Amancawarna),
Nang, stanakan di Tenggorokan (Dewa Mahesora, dadu),
Mang, stanakan di Hati (Dewa Ludra, Jingga),
Sing, stanakan di Perut (Dewa Sangkara, Hijau),
Wang, stanakan di Nabhi/Pusar (Dewa Sambhu, Biru),
Yang, stanakan di Muladhara (Bhatara Guru, mancawarna)
Barang siapa yang memahami pengetahuan ini akan memiliki kesidian serta kesaktian. Ajaran ini oleh masyarakat umum dikenal dengan nama, Yoga, Meditasi dan Samadhi. Namanya berbeda, namun hakekatnya adalah sama saja.
Menurut ajaran Yoga di dalam lapisan tubuh eterik Manusia, terdapat tujuh Cakra utama yang merupakan linggan para Dewa yaitu:
Cakra Muladara, menjadi linggan Dewa Brahma.
Cakra Swadhisthana, menjadi linggan Dewa Wisnu.
Cakra Manipura, menjadi linggan Dewa Rudra.
Cakra Anahata, menjadi linggan Dewa Iswara.
Cakra Wisuda, menjadi linggan Dewa Maheswara.
Cakra Ajna, menjadi linggan Dewa Mahadewa.
Cakra Sahasara menjadi linggan Dewa Siwa.
Untuk Dewa Sambu dan Dewa Sangkara malingga ring Cakra kembar, yang merupakan cakra menengah. Dimana Dewa Sambu berada di sebelah kanan, dan Dewa Sangkara di sebelah kiri. Cakra Kembar berada di kedua tangan, kedua mata, kedua telinga dan sebagainya.
Tulang punggung yang dikatakan sebagai poros tubuh. Dari dalam badan halus yang bersesuaian dengan tulang punggung ini, muncul pusat-pusat kesadaran yang disebut dengan Cakra. Di dalam tubuh halus (eteris) ada banyak sekali Cakra. Namun hanya ada tujuh cakra yang dianggap utama, meliputi :
Cakra Muladara, bersesuaian letaknya dengan pantat.
Cakra Swadhisthana, bersesuaian letaknya dengan kemaluan.
Cakra Manipura, bersesuaian letaknya dengan pusar.
Cakra Anahata, bersesuaian letaknya dengan jantung.
Cakra Wisuda, bersesuaian letaknya dengan tenggorokkan.
Cakra Ajna, bersesuaian letaknya dengan pertengahan kedua alis (selaning lelata).
Cakra Sahasara, bersesuaian letaknya dengan ubun-ubun. Di dalam Sahasara Cakra inilah Siwa bersemayam. Bukan berarti Siwa yang ditempatkan, tetapi kekuatanNya yang dimanifestasikan di sini. Tuhan tidak dapat dibatasi di suatu tempat. Tetapi manifestasinya dapat dipusatkan dimana saja.
lebih lanjut, baca: Apa itu Chakra?
Cakra-cakra itu merupakan pusat energy rohani. Cakra ini tidak tampak dengan mata biasa, karena cakra itu tidak berbadan fisik, melainkan dilapisan badan halus yaitu badan eteris. Selain itu, dalam anatomi tubuh halus itu, terdapat juga nadi-nadi tempat aliran energi, yang memiliki hubungan khusus dengan masing-masing cakra itu. Disebut ida atau pinggala. Kedua nadi ini, terdapat disebelah kanan dan kiri tulang punggung. Disebutkan bahwa, pengetahuan tertinggi ditutupi oleh maya sehingga pengetahuan tertinggi tetap bersembunyi. Yoga adalah jalan untuk menyingkapkan maya dan membuka pengetahuan tertinggi itu. Gheranda Samhita mengatakan, “Tidak ada ikatan yang melebihi kekuatan maya, dan tidak ada kekuatan melebihi Yoga untuk membasmi ikatan-ikatan itu”. Dia yang tekun berlatih Yoga akan mendapatkan bermacam-macam siddhi atau kekuatan gaib.
Badan ini adalah sakti, keperluan badan adalah keperluan sakti. Segala yang terlihat dan berbuat itulah sakti. Seluruh badan dan pekerjaannya adalah penjelmaan sakti itu. Untuk menyadari hal ini orang harus menyempurnakan dirinya. Penempatan Dewa pada bagian-bagian tubuh tertentu, menyimbolkan adanya upaya membuka mengaktifkan dan mengharmoniskan cakra. Semua cakra harus terbuka dan berfungsi menghisap dan memancarkan energy (prana), mengatur, mempertahankan, dan mengelola aspek fisik, emosional, mental dan kejiwaan. Sejalan dengan itu, semakin pandai seseorang memahami kedudukan Dewa di dalam dirinya, berarti ia semakin mahir mengatur gerakan cakra di dalam tubuhnya, sehingga gerakan cakra itu semakin harmonis dan sempurna. Seorang dalam melakukan olah meditasi, yoga atau Samadhi harus mampu memasukkan energi (prana) ketubuhnya secara teratur, agar pengembangan batinnya berjalan dengan baik. Dengan demikian, gerakan cakra semakin harmonis dan sempurna, sehingga menghasilkan energi (prana) yang semakin besar. Energi (prana) yang dihasilkan itulah merupakan modal untuk menjadi Manusia Setengah Dewa Sakti Manderaguna.
demikianlah sastra yang ada di alam ini yang berada juga didalam tubuh kita. Jagalah kesucian dan keseimbangan dari hurup suci tersebut. Semoga setelah membaca dan meresapi sastra ini, dunia ini akan menjadi semakin sejahtera.
Senin, 23 Januari 2017
MEMAHAMI MALAM SIWA RATRI DENGAN BAIK
Memahami Siwa Ratri dengan Baik
Siwa Ratri, malam pemujaan Siwa, ada baiknya kita menyambut “Malam Siwa” dengan pemahaman yang lebih benar, tidak berdasarkan gugon tuwon (kebiasaan) selama ini. Malam tergelap sepanjang tahun dalam kepercayaan Hindu, pangelong 14 Sasih Kepitu itu umat Hindu wajib melakukan puasa total yang meliputi upawasa, monabrata, dan jagra.
Orang sering menyebutnya “malam peleburan dosa”, seolah-olah dosa yang kita lakukan berhari-hari dan berbulan-bulan menjadi lebur hanya karena begadang semalam suntuk. Ini cara pemahaman yang keliru karena dosa tak bisa dilebur hanya dengan begadang, dosa hanya bisa diperbaiki dengan melakukan karma baik. Karena adanya pemahaman yang keliru ini, maka banyak orang yang hanya sekadar begadang. Pura didatangi, mekemit semalam suntuk sambil ngobrol dan makan-makan.
Bagaimana kita bisa melakukan monabrata (tidak berbicara) kalau asyik ngobrol? Memang yang paling mudah dari ketiga brata hari Siwa Ratri ini adalah jagra. Namun tanpa memahami maknanya karena kita asyik ngobrol bahkan tentang sesuatu yang mungkin jorok. Atau begadang sambil berjudi. Yang terakhir ini justru menambah dosa. Jagra yang dimaksudkan di sini adalah kita awas, eling, dan merenungi kehidupan ini untuk selalu diperbaiki kesalahannya.
Siwa Ratri sesungguhnya datang setiap bulan. Setiap pengelong 14 (sehari sebelum Tilem) adalah malamnya Siwa. Itu saat-saat terbaik untuk melakukan puasa. Sedangkan pengelong 14 Sasih Kepitu adalah malam tergelap setiap tahun, dan ini disebut Maha Siwa Ratri. Kata “maha” sudah menunjukkan bahwa ini Siwa Ratri yang lebih khusus karena yang paling besar. Umat Hindu di Nusantara, tentunya termasuk di Bali, hanya merayakan Siwa Ratri yang “maha” ini. Sedang Siwa Ratri setiap bulan dilewatkan begitu saja.
Kita tak bisa menyalahkan anak-anak muda Hindu yang mondar-mandir di jalan selesai melakukan persembahyangan, karena niat mereka itu sebenarnya bagus, bagaimana melewatkan “Malam Siwa” dengan jagra. Hanya karena tidak tahu caranya, tidak ada yang mengarahkan, maka mereka keluyuran begitu saja. Hal ini terjadi di kota-kota besar seperti Denpasar. Seperti tahun-tahun sebelumnya, selesai bersembahyang di Pura Jagatnatha, remaja Hindu itu keluyuran dengan sepeda motor. Bagi yang tidak membawa motor, mereka bergerombol duduk di lapangan Puputan Badung.
Sedikit sekali institusi atau lembaga atau organisasi yang mengambil inisiatif untuk merancang kegiatan yang mengisi pencerahan. Katakanlah misalnya meditasi massal, atau agni hotra, atau pembacaan ayat-ayat suci Weda melengkapi persembahyangan di pura. Atau mungkin dharmatula dalam lingkaran-lingkaran kecil — agar tidak ngobrol hal-hal yang bertentangan dengan agama — sementara pada jam-jam tertentu (katakanlah tengah malam) berhenti sejenak untuk melantunkan mantra suci ke hadapan Siwa. Kita bisa melakukan ini dengan mudah sekarang, karena lewat internet sudah banyak aplikasi mantram yang bisa di-down load untuk Siwa Ratri ini. Anak-anak muda Hindu itu sesungguhnya mudah untuk digiring sepanjang ada yang mengkordinir dengan baik.
Dengan format yang lebih ideal merayakan Siwa Ratri kita tak akan dibelenggu oleh legenda Lubdhaka yang selama ini selalu menjadi mitos dalam Siwa Ratri. Bahwa kisah Lubdhaka dijadikan acuan memang bagus dan kita tak usah mencari-cari acuan yang lainnya. Namun yang perlu kita ketahui, Lubdhaka itu hanyalah simbol. Simbol-simbol ini harus dikupas artinya, tak bisa “dihafalkan” sebagai sebuah cerita biasa.
Kita di Bali agak malas mengupas simbol-simbol yang sudah diberikan leluhur kita di masa lalu. Orang dengan mudahnya menyebutkan, dosa yang kita lakukan berhari-hari akan ditebus dengan jagra (tidak tidur) pada “Malam Siwa”, bukankah Lubdhaka yang kerjanya berburu saja bisa mendapatkan sorga hanya dengan begadang satu malam? Kalau begitu, mudah sekali orang memperoleh sorga, pegawai percetakan di koran, satpam yang kerjanya malam-malam, semua masuk sorga.
Lubdhaka harus dicerna sebagai simbol orang yang gemar berburu dalam arti kias, bisa berburu materi yang tak ada puasnya, berburu jabatan yang tak kunjung diraih, berburu kesenangan yang tak ada ujung, berburu ilmu yang tak kunjung dibagi. Para pemburu ini pada suatu hari pasti akan tersesat “di rimba yang menakutkan” dan dia tak akan bisa keluar dari “ketakutan” itu jika ia tidak melakukan perenungan. Ia harus membebaskan dirinya dari “nafsu berburu” untuk mencapai kesadaran. Simbol-simbol ini yang harus dikupas. Makanya, mari kita coba dari sekarang, bagaimana menjadi Lubdhaka yang sadar bahwa ada suatu saat di mana kita harus membebaskan diri kita dari nafsu berburu itu.
Anggapan bahwa Siwa Ratri adalah malam peleburan dosa karena naskah yang ditulis sejarawan Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka yang menyebutkan Mpu Tanakung penulis Kekawin Lubdhaka hanya mencari muka kepada Raja Ken Arok. Sejarah menyebutkan, Ken Arok menjadi raja setelah membunuh Tunggul Ametung. Mpu Tanakung yang hidup di masa itu lalu menulis Kekawin Lubdaka yang intinya dosa bisa dilebur. Dengan kekawin ini Mpu Tanakung mau cari muka bahwa dosa Ken Arok bisa dilebur di hari Siwa Ratri.
Namun belakangan dua ahli sejarah Jawa terkenal, Dr. Petrus Josephus Zoetmulder dan Andries Teeuw, membantah naskah Poerbatjaraka dalam bukunya berjudul Siwaratrikalpa of Mpu Tanakung. Buku ini baru terbit 1969 sementara perayaan Siwa Ratri yang dipopulerkan di Indonesia sudah dimulai setelah 1965. Malam peleburan dosa itu dijadikan “obat penyejuk” pasca tragedi G 30 S/PKI yang pasti banyak menimbulkan dosa.
Bantahan Zoetmulder dan Teeuw ini disertai penelitian bahwa Ken Arok, Raja Singhasari, meninggal dunia pada tahun 1247, sementara Mpu Tanakung menulis Kekawin Lubdaka pada zaman Majapahit akhir (1466-1478). Selain itu, sebagai seorang pendeta, Mpu Tanakung tak mungkin mencari muka pada raja. Dua ahli ini lalu berkesimpulan, Mpu Tanakung memang pendeta cerdas yang menulis Kekawin Lubdhaka berdasarkan kitab-kitab dari India karena banyak ada persamaan dengan kisah-kisah suci di India. Hanya saja Mpu Tanakung mengadopsi kearifan lokal dalam menggubah kekawin yang simbolis itu.
Karena itu mari kita dudukkan kisah Lubdhaka sebagai ajaran yang penuh simbol dan perlu kita kupas isinya, sehingga tidak serta merta Siwa Ratri dijadikan malam peleburan dosa yang begitu sederhana.
Siwa Ratri, malam pemujaan Siwa, ada baiknya kita menyambut “Malam Siwa” dengan pemahaman yang lebih benar, tidak berdasarkan gugon tuwon (kebiasaan) selama ini. Malam tergelap sepanjang tahun dalam kepercayaan Hindu, pangelong 14 Sasih Kepitu itu umat Hindu wajib melakukan puasa total yang meliputi upawasa, monabrata, dan jagra.
Orang sering menyebutnya “malam peleburan dosa”, seolah-olah dosa yang kita lakukan berhari-hari dan berbulan-bulan menjadi lebur hanya karena begadang semalam suntuk. Ini cara pemahaman yang keliru karena dosa tak bisa dilebur hanya dengan begadang, dosa hanya bisa diperbaiki dengan melakukan karma baik. Karena adanya pemahaman yang keliru ini, maka banyak orang yang hanya sekadar begadang. Pura didatangi, mekemit semalam suntuk sambil ngobrol dan makan-makan.
Bagaimana kita bisa melakukan monabrata (tidak berbicara) kalau asyik ngobrol? Memang yang paling mudah dari ketiga brata hari Siwa Ratri ini adalah jagra. Namun tanpa memahami maknanya karena kita asyik ngobrol bahkan tentang sesuatu yang mungkin jorok. Atau begadang sambil berjudi. Yang terakhir ini justru menambah dosa. Jagra yang dimaksudkan di sini adalah kita awas, eling, dan merenungi kehidupan ini untuk selalu diperbaiki kesalahannya.
Siwa Ratri sesungguhnya datang setiap bulan. Setiap pengelong 14 (sehari sebelum Tilem) adalah malamnya Siwa. Itu saat-saat terbaik untuk melakukan puasa. Sedangkan pengelong 14 Sasih Kepitu adalah malam tergelap setiap tahun, dan ini disebut Maha Siwa Ratri. Kata “maha” sudah menunjukkan bahwa ini Siwa Ratri yang lebih khusus karena yang paling besar. Umat Hindu di Nusantara, tentunya termasuk di Bali, hanya merayakan Siwa Ratri yang “maha” ini. Sedang Siwa Ratri setiap bulan dilewatkan begitu saja.
Kita tak bisa menyalahkan anak-anak muda Hindu yang mondar-mandir di jalan selesai melakukan persembahyangan, karena niat mereka itu sebenarnya bagus, bagaimana melewatkan “Malam Siwa” dengan jagra. Hanya karena tidak tahu caranya, tidak ada yang mengarahkan, maka mereka keluyuran begitu saja. Hal ini terjadi di kota-kota besar seperti Denpasar. Seperti tahun-tahun sebelumnya, selesai bersembahyang di Pura Jagatnatha, remaja Hindu itu keluyuran dengan sepeda motor. Bagi yang tidak membawa motor, mereka bergerombol duduk di lapangan Puputan Badung.
Sedikit sekali institusi atau lembaga atau organisasi yang mengambil inisiatif untuk merancang kegiatan yang mengisi pencerahan. Katakanlah misalnya meditasi massal, atau agni hotra, atau pembacaan ayat-ayat suci Weda melengkapi persembahyangan di pura. Atau mungkin dharmatula dalam lingkaran-lingkaran kecil — agar tidak ngobrol hal-hal yang bertentangan dengan agama — sementara pada jam-jam tertentu (katakanlah tengah malam) berhenti sejenak untuk melantunkan mantra suci ke hadapan Siwa. Kita bisa melakukan ini dengan mudah sekarang, karena lewat internet sudah banyak aplikasi mantram yang bisa di-down load untuk Siwa Ratri ini. Anak-anak muda Hindu itu sesungguhnya mudah untuk digiring sepanjang ada yang mengkordinir dengan baik.
Dengan format yang lebih ideal merayakan Siwa Ratri kita tak akan dibelenggu oleh legenda Lubdhaka yang selama ini selalu menjadi mitos dalam Siwa Ratri. Bahwa kisah Lubdhaka dijadikan acuan memang bagus dan kita tak usah mencari-cari acuan yang lainnya. Namun yang perlu kita ketahui, Lubdhaka itu hanyalah simbol. Simbol-simbol ini harus dikupas artinya, tak bisa “dihafalkan” sebagai sebuah cerita biasa.
Kita di Bali agak malas mengupas simbol-simbol yang sudah diberikan leluhur kita di masa lalu. Orang dengan mudahnya menyebutkan, dosa yang kita lakukan berhari-hari akan ditebus dengan jagra (tidak tidur) pada “Malam Siwa”, bukankah Lubdhaka yang kerjanya berburu saja bisa mendapatkan sorga hanya dengan begadang satu malam? Kalau begitu, mudah sekali orang memperoleh sorga, pegawai percetakan di koran, satpam yang kerjanya malam-malam, semua masuk sorga.
Lubdhaka harus dicerna sebagai simbol orang yang gemar berburu dalam arti kias, bisa berburu materi yang tak ada puasnya, berburu jabatan yang tak kunjung diraih, berburu kesenangan yang tak ada ujung, berburu ilmu yang tak kunjung dibagi. Para pemburu ini pada suatu hari pasti akan tersesat “di rimba yang menakutkan” dan dia tak akan bisa keluar dari “ketakutan” itu jika ia tidak melakukan perenungan. Ia harus membebaskan dirinya dari “nafsu berburu” untuk mencapai kesadaran. Simbol-simbol ini yang harus dikupas. Makanya, mari kita coba dari sekarang, bagaimana menjadi Lubdhaka yang sadar bahwa ada suatu saat di mana kita harus membebaskan diri kita dari nafsu berburu itu.
Anggapan bahwa Siwa Ratri adalah malam peleburan dosa karena naskah yang ditulis sejarawan Raden Mas Ngabehi Poerbatjaraka yang menyebutkan Mpu Tanakung penulis Kekawin Lubdhaka hanya mencari muka kepada Raja Ken Arok. Sejarah menyebutkan, Ken Arok menjadi raja setelah membunuh Tunggul Ametung. Mpu Tanakung yang hidup di masa itu lalu menulis Kekawin Lubdaka yang intinya dosa bisa dilebur. Dengan kekawin ini Mpu Tanakung mau cari muka bahwa dosa Ken Arok bisa dilebur di hari Siwa Ratri.
Namun belakangan dua ahli sejarah Jawa terkenal, Dr. Petrus Josephus Zoetmulder dan Andries Teeuw, membantah naskah Poerbatjaraka dalam bukunya berjudul Siwaratrikalpa of Mpu Tanakung. Buku ini baru terbit 1969 sementara perayaan Siwa Ratri yang dipopulerkan di Indonesia sudah dimulai setelah 1965. Malam peleburan dosa itu dijadikan “obat penyejuk” pasca tragedi G 30 S/PKI yang pasti banyak menimbulkan dosa.
Bantahan Zoetmulder dan Teeuw ini disertai penelitian bahwa Ken Arok, Raja Singhasari, meninggal dunia pada tahun 1247, sementara Mpu Tanakung menulis Kekawin Lubdaka pada zaman Majapahit akhir (1466-1478). Selain itu, sebagai seorang pendeta, Mpu Tanakung tak mungkin mencari muka pada raja. Dua ahli ini lalu berkesimpulan, Mpu Tanakung memang pendeta cerdas yang menulis Kekawin Lubdhaka berdasarkan kitab-kitab dari India karena banyak ada persamaan dengan kisah-kisah suci di India. Hanya saja Mpu Tanakung mengadopsi kearifan lokal dalam menggubah kekawin yang simbolis itu.
Karena itu mari kita dudukkan kisah Lubdhaka sebagai ajaran yang penuh simbol dan perlu kita kupas isinya, sehingga tidak serta merta Siwa Ratri dijadikan malam peleburan dosa yang begitu sederhana.
SALINAN LONTAR SUNDARI GAMA
Om Swastyastu
Buku puniki wantah salinan saking cakepan Sunarigama Titiang nurunin buku mangda wenten anggen nyuluhing raga. Maduluring pelajahan cakepan Sunarigama Ring Ida Dane mepawos buku puniki, titiang nunas ampurayang, yaning wenten keiwang-keiwangan sane kepanggih semalihnya mangda ledang nagingin kekirangan kakirangan buku puniki.
Om Shanti Shanti Shanti Om.
Oleh : I Made Gambar
DAGING LONTAR SUNARIGAMA
Ong Awignam astu namo sidham
Iki sang Hyang Sundari gama, ngaran, kaderistianing pakerti game, lingira sang hyang Sukseme Licin, ring wateking puru ite kabeh, make derestianing praja mandala, wenang winarah-warah, sekeramania ring sang Wisesang rat, wenang nilak sahan, tekaning wang same peraja mendale kabeh, nemitaning.
Dereste perajanira Sri Aji, kejageditanira, apanian pengekeretia dayat sukseme utama iki, kinerame gamania deperewatek dewate kabeh, wiyoge denire Sang Hyang tige wisesa ndia, Brahmana, Wisnu, Isuara, pinuja de perewatek maheresing langit, winastu denira Sang Hyang Siwa darma, ndia kalinganta ling betara, Om ranak sire puroite mekabehan, Siwe-sogate, ringen pewarah kui iri kite anaku anlingin aji Sundari game pakertinte kapewitran, pangisining warige gemet, pecatuning rat buane, wahyaning ngastutia Sang Hyang, pereboktianingwoang mahayu rage sarire, kadiang ape luwirnia nihan, ate sadepak wang utama punang wari awaning kerete nugerahanira Hyang Mahewisesa tumurun.
Maring buane, bah iking sarwa dadi, nimitanian rahayu pati purwa ikang mandale, lewih tinemunia rahayu, aneres ring teri buane, mahening kejageditan kapurohite kabeh, biyuh bale biyuh sisia, samngkane luwir keramania tatkale wang utama make suci laksanining Hyang, iniring de watek dewte kabeh, gandarwe-dandarwi.
Apsare-apsari muang risinggane, tumute sang dewa pitara, kang wus sire ngaskaran, mantuking suarge-loke, nguni weh pitare kang kari yemukti aneng pitri laye, ike kabeh aka weng yutetame, dewasanikang sarwa reresik, ayoge, diane semedi, ngestiya jatpremodite, nguni nurun maring buane kote ngelanglang ikang peroje mandale.
Asung sukerete ring manuse kabeh tan doh ikang sarwa tumamah, muang perani kabeh, mangkane yogiannia amilu ring setutinita Sang Hyang sahe widiwidane, aturakene ring betare mahante keramania.
Nahane luwirnian ring peretiti mase, atare kartike purnama kunang, ayoge-yoge betara perama-Suare, sire Sang Hyang Purusangkere, sadgane lawan betari, iniring dening watek dewata kabeh, tekeng widia dari, tumutang resi gane, ate samone wenang sang puroita ngarge puje, pasang lingge, separ keramania,
Muah de gelaraken keramaning candere sewane, nguniweh aturakene puje tarpane ring Hyang kawitan, widi widane sarwa pawitre, saside, muang ring Hyang ulan aturakene penek jenar, perayascita luwih, muang reresik, iwaknia, sate putih siungan ring sor sege agung.
Ikang wong keramania aturakene puspa wangi ring Hyang astawekene ring sanggar, muang paryangan risedenging ratri, adiyane semadi, ketekaning tilem, wenang amugpug, lare rege wigenaning sarire, aturakene wangi-wangi ring paryangan, muang ring.
Puwuring aturu, pujekene widia dare, widia dari, sobagia pua yan ane paweh sesayut widia dari abesik, mangde nugrahe, kawiadnyananing seraja karye ngistri, pantaraning ratri yoge meneng, palania lukat male pape petake letuhning sarira.
Ate ring cetra mase tilem kunang, nasusucening watek dewate kabeh, ane ring telenging samudra cemene dine, met sarining terthe kamandolu, yogia wang kabeh umatur aken pakerti ring sarwa dewa yeki keramania. Ring catur dasi kang keresene pakse, agawe yakene.
Bute yadnya, aneng catus pataning dese, nistania pance sate, madiania pance sanak, utamania catur agung, yame raje pinuja de sang mahe pandite, siwa bude sakuwu-kuwu wenang sege mance warna 9, (sia) iwak sate sate berumbun rinancane, sahe tabuh tuak arak, genahing caru ring dengen, sambat sang bute raja, muah pebalapan ring sarwa bute muang kale kabeh, ring luanikang dauh, yekale ngarania, telasing ataur angurupuk, irika umantuka kene ikang sarwe bute muang kale kabeh, angun ndurukan sasab merane kabeh, serane orob-orob geni seperakpak, sinemburan masuwe, mantraning sarwa tetulak wisia, muang penyengker agung, iderane saumah pekarangan dening geni ike, telas mangkane ikang wang laki bi, abiye kale ring natar, malukat keayab sesayut pamiakala, muang perayascite, lare meradan, benjangnia, amati geni, muang tan wenang wang anambut gane saluwirnia, agani kunang, ring separaning genahnia, kalingania wang weruhing tatua carite, semadi, gelarane yoge semadi.
Irikang teriyo dasi ikang keresene pase, lasti ane ikang peretime, yoganire Sang Hyang tige wisesa, luwirnia, desepuseh, dalem, perengakene sarwa arce-peretime dewa paryangan, medangke kabeh, lungeken maring segara, iniring dening wang sekeraman, sahe widi widane.
Idangan, larapan ring sang Hyang Barune, mengaku anganyut laraning jagat, sepape-kelese letuhing buane telas kalebur ring segara. Telas tiningkah separi kerame, antukakene punang peretemi muah, jejeraken mungguingbale panjang, aturin datengan, kayeng perelegi, risam ne puput sepule-pali, antuka kene maring setananire suang-suang. Yapuan nore laksanan mangkene, bawur ikang desa, mede-mede lakunia paripolahnia, apan Sang Hyang Aadikale wenang anadah wong tan pakertia – game, ape matang nian mangkane, matangnia angusak asik wang mangkane, eweh sang perepati, rug maring desa, damaning sad kayangan, wisesa, suci abesik, daksine abesik, peras ajuman abesik, rayunan perangkat abesik, iwak sarwa pawitre, kacang-kacang, canang wewangi sahe rake, kembang payas, reresik, sadulurania, ring sor segeh agung abesik. Segeh sasah nem tanding iwaknia bawang jae nem (6) tanding iwaknia bawang jae, sang puroite wenang angarge puje sakeramania. Kunang pakertining manuse, perayascite lewih, panyeneng tahenan.
Muah ane weng rerekanire Sang Hang-rue binede, mekadinere Sang Hyang Surye, sire yoge, Samane sang puroite, katekeng janna sake pangania wenang mahening adnyane, aturaken wangi-wangi canang yase ring sarwa dewa, pelakunia ring sanggar paryangan, patirte gocare, puspe wangi. Len sake rike ane pawukon, kaweruhakena tatuae, Uku sint, Somo pon, ngaran Somo-ribek, mangereti ring sang Hyang Terimerti, ungguan ring lumbung, paryangan, widi-widane, nyanyah geringsingan,
Geti-geti biyu mas, duluran wangi-wangi, ikang wang tan wenang anumbuk pari, angadol beras, katemah dening betare seri. Pakenania wenang ngastutiSAng Hyang teri- paremane. Angisep sari tatue adnyane-aje aturu ring rahine. Anggare wage, sabuh emas.
Pasucian betare Mahadewa, pakertinia ring raje berane emas manik, sarwe mule ratne manik, widi widanania, suci daksine, peras penyeneng, sesayut merte-sari, canang lenge wangi burat wangitadah pawitre genahnia ring piyasan ring sanggar, tuwi ring paturon wenang, ike wqang wenang suci laksan, ayua malupe.
Sing kasukan, sarwe ratne emas maniking rage-sarire, yateyuge pinaayunia riwusnia ikang maturan ring ide betare, surudania wenang ingayab. Bude keliyon, ngaran pagrwesi, Sang Hyang Peremesti Guru, sire mayoge, irining dening wajek dewe nawasanga.
Ngawerdiaken uriping sarwa tumitah, tumuwuh maring buane kabeh, irike wenang sang sedake mengarge puje pari kerama, pasang lingge, ngarcane padue ide betare Peramesuare, widi-widinania daksine, suci asoroh, peras ajuman panyeneng, sesayut pance lingge, canang wangi, sahe rake runtutania, aturakene ring sanggar kamulan.
Kunang ring samania wang sesayut pageh urip, abesik perayascita, ring tengah wangi pasangane yoge semadi. Muah perecaru ring sang pance mahe bute, sege warna anut pance desa ring natar sanggah, muah segeh agung abesik, kunang ring ware Landep Saniscara keliyon, puje walin betare Siwe sambade.
Muang yoganire Sang Hyang Pasupati, puje walinire Betara Siwe, tumpeng putih kuning adanan, iwak sate sarupania wenang, gerih terasi bang, sedah who 29 (sengwelikur), atura kene ring sanggar. Yogan Sang Hyang Pasopati, sesayut pasopati abesik,
Sesayut ajeng perang abesik, sesayut kasume yude abesik, suci daksine peras ajuman, canang wangi, reresik, asta wekene ring sarwe sanjate lelandeping perang, kalingania ikang wong apasupati landeping idep, samangkane lekasakene, sarwe matre wisese.
Danur daran, uncarakene ring busananing aperang. Redite umanis, puje walin betare Guru, widi-widanania, sesayut pengambean abesik, sedah ingapan 25 (selai), muang kuangi 8 (kutus) aturakene ring sanggar kamulan, wenang dewi winuuh pakertinia.
Ike dening kasidania. Mangkane ikang wang manganjali ring betaa Guru, astawekane ring sanggar, Wariga, Saniscra Keliyon ngaran, panguduh, puje kertinira Sang Hyang Sangkare apan sire umredia ken sarwaning tumuuh, kayu-kayu kunang, widi-widanania, peras tulung sayut, tumpeng bubur, muang tumpeng agung, iwaknia guling dadi, patk wenang, sahe rake, panyeneng tetebus, kalingania anguduh, ikang tanem tuuh, asetane sekar awoh agodong, dadiye urip ikang sawe jarme. Sesayut cakre geni, yadian, Some paing, puje walin betare Brahma, widi widinania, sedah who, saruntutania sake sidania, astawekene ring paibon dulurane puspa wangi, kayeng lagi.
Sungsang, weraspati wage, ngaran parereduan, sugin jawe, kajaring loke, yate peretistan, betara kabeh, arere don ring sanggar muang ring paryangan, kadulurin pangereratan reresik betare, sahe puspa wangi, kunang wang weruhing tatue jenyane, pasang yoge, sang wiku, angarge puje, apan betare tumurun maring madia pade, amukti banten.
Anerus tekeng galungan, pakeretining wang, sesayut muang tutuan, pengeredane sake, sukan arania.
Sukre keliyon, ngaran sugi Bali, pakenania ameras titaning rage tawulan kewale anadahe tirthe gcara, pangelukatan ring sang pandita paketining wang…
Ikang Dungulan Redite paing, turun Sang Hyang kale tige, menadi bute galungan, arep anadah anginun ring manuse pade matangnian sang wiku muang sang pare sujan den perefiakse juge sire kumekas ikang jenyane nirmale, nimitania, tan ka surupan tekap
Sang Bute galungan, ndah mangkane mengaram panyekeban ucaping loke. Some pon wahiyaning wang angomong yoge semadi yate pituhu – tuhun nyumade, sad gane lawan betare, yate sinambat penyaan dening loke.
Anggare, wage penampaan, irike penadah ire sang bute.
Galungan, marmaning sinanggerahe dening pare kerti, ring dese-dese ane bute nyadnya, aneng catus pataning dese, sarupaning yadnya wenang kunang sakuweh nikang sanjate peperangan kabeh jaye-jaye kene samane ike, nguniyeh.
Ikang wang kabeh perascitanen, muang jaye-jaye dening sang pandite, meke perako peretameng perang, ane perecaruning sakuwu-kuwu kunang, sege warne telu, sinasah, tandingania anut urip, purwe putih lime, daksine bang, siye utare selem papat, iwaknia olahan bawi.
Sahe tubuh, sege agung abesik, senahing caru ring natah umah, muang ring sanggar, dengen, sambat sang bute galungan ikang laki-laki abiye kale aperayascite, ayabing sesayut mengerepaken mantra pergolan, sahe busananing paperangan, ngaran patitising nnyane, ngaran patitisingadnyane gala ngapadang, palana kose ring perang.
Bude keliyon Galungan, ngaran mayekene sarwe biye paraning idep, aturakene widi-widinania ring sarwe dewe, ring sanggar perebuting umah ike kabeh pade bantenane, sapekerti, ring sanggar paryangan agung-alit, aturan tumpeng penyajian penek wakulan, ajuman sedah woh kembang payas, wangi-wangi pasucian, munggah ring sanggar ike.
Banten ring pesambiangan tumpeng pengambian, jarimpen, pajegan gebogan, sdaan, saruntutania, iwak jejatah bawi muang gegorengan, esuk juge masania umaturaken banten, sehe puspe wangi, asep menyan astangi.
Jenek sawengi ngacepan ike enjang-enjing pada nyuci laksane, kale perate amete we pawitre ring beji, jejamas.
Kum-kuman, nuli ngaturakene puspe wangi, bedaye tirthe ring sanggar, nuli asuguh ring natar, wenang parid ikang banten ayabing anak putu kaye rare, sang wiku muang sujane, wenang mayoge gineng, adiane semadi angitung darma, telas.
Ware Kuningan, redite, wage, ngaran pemari dan Guru, ye ulian ngaran, pakenania mantukaken perewatek dewate kabeh maring suarge kayangan, sang kesepania dewa lunge, atinggale kadirge yusan, widi-widanania tipat kelanan, canang rake wangi-wangi, patirte gocare.
Somo keliwon, pemancekan agung ngaran, masuguh agung ring dengen, mesamlah ayam same lulung, pakenania. Ngunduraken sarwe bute kabeh.
Bude paing Kuningan, puje wali betara Wisnu, widi-widanania sedah ingapon putih ijo, jampe 26 (nem likur) tumpeng ireng iwak ayam ireng, sahe dulurania, astawe kenering paibon dulurane puspe separi keramania.
Sukre wage, ngaraning penampaan, taname puspe puje kerti kewale gawekene sope caraning Kuningan, muang pengegen seananing adnyane nirmala sukseme.
Saniscare, keliyon Kuningan, tumurun watek dewate kabeh, muang sang dwe-pitare, asuci laksane, nehher mamukti be banten, sege selanggi, tebog, sahe rake dene sangkep.
Gegantungan, tamiang candige ring teretepaning sarwe wewangunan, aje amujaning bebanten kelangkahaning jegjeg surye, sewatek dewate kabeh, mantuke maring sunia taye, ane muah pengacining janme manuse sesayut perascite luwih, penek kuning, iwa itik putih. Pakenaning akene cite nirmale, tan pegating semadi, sehana segeh agung abesik, ring natar sanggar.
Paang, bude keliyon pegat uwakan, ngaran, pati warah panelasning mengku, biane semadi, waraning Dungulan ike, wekasing pereline, ngaran kalingan ike, pakenaning sang wiku lumekasang kang yoge.
Semadi, umoring kale ane ring nguni, sahe widi-widane sarwe pwitre, wangi-wangi, astawe kene ring sarwa dewa, muang sesayut dirge yuse abesik, katur ring Sang Hyang Tunggal, panyeneng tatebus.
Merakih, Sukre umanis, puje walin, betara Rambut sedane ngaran Sang Hyang Rambut kepale, widi-widanania.
Suci, daksine, peras, penek ajuman, sodaan putih kuning, astewe kene ring sang Hyang Rambut sedane, kalingania pinuje kene maring raganire, orte rejate, kenake, yatike pakerti ring sang Hyang kale mejaye.
Uye, saniscare, keliyon tumpek kandang, pakerti ring sarwe sate, mine paksi, patik, wenang muang pasu.
Widi-widanania, suci, daksine, peras, penek ajuman sodaan putih kuning, canang lenge-wangi burat wangi, penyeneng pasucian, astewe kene ring sanggar, pengarcane ring sang Hyang rare angon. Kunang ring sarwe pasu, patik wenang ane pengacinia, yan sopi kebo, widi-widanania, tumpeng sesayut abesik, penyeneng, reresik, jarimpen canang rake, yan bawi lua, tipat belekok, yan sarwa paksi, sate, itik, angse, puter, titiran, saluwiring tipat side purne, tipat bagia, tipat pandawe, dulurane penyeneng tatenus. Kembang payas, kalingania ikang wang, wenang parid ring sang Hyang Rare Angon.
Tuyi tatuwe ye ring manuse, ikang paksi, soto mine, ring ragante yate wewalunganing ragante ike, sang Hyang Rare Angon sarire utame.
Wayang Redite wage, patemunire sang sinte, lawan sang wayang, ngaran ware cemer, tan wenang sujanme, apeningan alelenge, ajungkas, asuri tutug, ketekeng, sukerania, pala ning punah saguning awak.
Sukere wage, ala pakse, ngaran we ketaman campur, nimitani a ikang wang, yogia paselate dening apuh, amenerin ulun ati,, muang sasuwuk, ruaning pandanumah-umah paturon, enjingnia, ikang sasuwuk pupullakene, winadahan sidi, buangan ring dengen, dulurane pasegehen.
Sesapan mangutang lare-wigene.
Saniscare keliyon Tumpek wayang, ngaran puje walin betara Isuara, pengastawania, ring sarwe tetabuhan, gong, gambang, gender, gente, gendongan, saluwiring imian-nimian, muang ringgit, mekadi peretimanire, widi-widanania, suci peras ajuman perangkat iwaknia.
Itik putih, sedah woh, canang rake, pasucian kayeng lagi, akerti ring manuse tuwi tatuweye, wayangania sang Hyang sukseme, penganstitining rage sarire juge, sesayut tumpeng agung abesik, perayascita, panyeneng, apan iki sarire juga wayaning ringgitire, Sang Hyang Sukseme, Sang Hyang Isuara pinake dalang, pakerti pinaka panguntap, ndatan arep sire awewalan, samangkane ajepene-aje ikang wang tan astiti ajane, pape temahania.
Watugunung, saniscare, Umanis, puje walin betare Saressuati widi-widanania, nistania, suci peras daksine, penek ajuman sesayut sare suati, banten sare suati, segare gunung, perangkat putih kuning, tansah wangi-wangi, daksine, pengadegan abesik, kembang payas sekar cane, canang yase, sadulurania sehananing pustake, makelingganing aksare pine hayu, puje walinin, sahe aturaken puspe wangi, astawukene tirthe pakuluh ring Sang Hyang surye samane tan wenang angereke, aksare, amace, anulis,
Tuwi makidung muang kekawin, tuwi arerasan saluwiring tatuwe aksaree sukseme, kewalia amuje-muje walinin betara Saresuait juge wenang, apan sang pinuje sire amdalaning sarwe dewe, kewale meneng juge sire ayoge, enjang-enjingnia mebanyu penaruh, asuci laksane ring biji kewala perebate, ajejamas, deningkum
Kuman, aturakene muah labaan, ring betare sege peradnyan, muang jaja sarwa merik, nuli paridania bukti nen.
Kunang utamaning puje walinire betari Sare Suati, ngadegakene sanggar tutuan, munggah suci muke, daksina gede, sarwa pat, catur rebak sdaruntutania, muang penek beras seperapat, iwak sarwe pawitre, ring.
Sor bebangkit bebek abesik, sesayut pitung suaan, perayascite lewih, katung ring sare suati, wenang dulurin pere gempal agung-alit, muah tumpeng gru abesik, enjangnia ring banyu penaruh ike, minte nugerahe ring sang Hyang Saresuati, buat peradnyan sidia, ngunggaha keke suci dadua ring sanggar, muang saresuati.
Dulurane perayascite, sesayut sake buatan.
Muah pengacinira ring rage sariranire sahe minte nugerahe sesayut limang warne, luwirnia, sidepurne, dirgeyuse, pageh urip, durmenggale, atme rauh, muang yoge sidia, luwir tetandingania sesayut yoge sidia.
Ike sege teri warne, iwak putih itik jambul ginuling sege ike tncebane sekar tunjung putih, mewaris kedapan nagesari ruaning kayu mas, ruaning sokasti, pade maesel, genahakene soring sesayut, arte 227 (satak pitu likur) pengangge sarwa putih, bebangkit itik abesik, telasing abanyu penaruh, nuli minta nugeraha ring sang Hyang Saresuati, ngaksame, semade tutugakene mantre, Ong Sang Hyang Sare suati, asungakene manuse betari angangge aji Sukseme sadia, nuhune ulu kastung karan, yoge semadi jape mantre, Ong sidi rastu tatastu ye name suahe. Telas mangkane ngalungsur tatebasan limang.
Warne, ayab, kunang ikang sesayut yoge sadia, bantekenakene luwiring aturu, aturing sang manumdi sire, ayabakene ping telu, make rahine, sesapinia, pukulun sang Hyang reke terine yane, tayane aturaken, tarpane suye namah suahe, Ah-ah merthe sanjiwe ye namah, jeng telas semapaning uku samangkana.
Nihan taye amanah, kunang ring pance terane, semadi betara Siwe, sayogia wong anadahe tirthe gocare, ngaturaken wangi ring sanggar, muang luwuring paturon maneher menganing akene cite.
Wehane sasuguh ring natar umah, sanggar, ring dengen, dening sege kepel duang kepel dadi atanding, wehakene ade telung tanding, iwaknia bawang jae.
Kang sinambat ring natar, sang kae bucari.
Ring sanggar bute bucari.
Ne ring dengen, sang Durge bucari
Ike pade wehane labaan, nangken kaliyo, kinon rumakse umah, nimitania. Pade anemu sadia rahayu. Kunang yan kale biyantare keliyon, pakerti tunggal kayeng lagi.
Kadi ring keliyon nemu atutan kewale tambehane sege warne limang warne, dadi awadah, ring dengen juge genahing caru ike, ike sanding lawang ring luur, aturane canang lenge wangi burat wangi, canang gantal, astewekane ring Durge dewem, ne ring sor, ring Durge bucari, kale bucari bute bucari,
Pelania ayu pari-purne sire aumah, yania tan asiti mangkane ibute bucari, aminte nugerahe ring betari Durge dewem, mangerubading sang maumah, angadakakan desti, aneluh anaranjane, mengawe gering sasab merane, apasang pengalah, pamunah ring sang maumah, muang sarwe dewe kabeh, wineh kinia ketadah de waduanira sang Hyang kale, nguniweh sewaduanire dewi Durge, tuhunia mangkane, ayua sire alpe ring wuwus manai.
Nahante waneh, rengen denta, anggare, keliyon ngarania anggare kasih, pekenania pengasianing rage sarire,
Nahante waneh, rengen denta, anggare, keliyon ngarania anggare kasih, pekenania pengasianing rage sarire,
Sadekale samane yogia wang amugpug angelakat sealaning sarire, wigenaning awak, dene ayoge wang apn ike yoganire, betare Ludre, mereline alaning jagat teraye, pakertinia aturakene wangi-wangi, puspe wangi, asep astanggi muang tirte gocare.
Bude keliyon, pasucian sang Hyang Ayu, kalingania Astiti Hyang mami nirmale, pakertinia canag yase wangi-wangi, kembang payas, ring luuring aturu, muang ring sanggar, laksanania angesti kayowananingteri mendale pakenan ia tunggal ayuning sarire kaperetame, kaping ruania ayuning sang sanak sarwaning numadi, katigania, ayuning peraja mandale.
Bude wage, ngaraning Bude cemeng, kalingania adnyane sukseme pegating indria, betari manik galih sire mayoge, nurunaken Sang Hyang Ongkare mertha ring sanggar, muang ring luwuring aturu, astawe kene ring seri nini kunang duluring diane semadi ring latri kale.
Bude wage, ngaraning Bude cemeng, kalingania adnyane sukseme pegating indria, betari manik galih sire mayoge, nurunaken Sang Hyang Ongkare mertha ring sanggar, muang ring luwuring aturu, astawe kene ring seri nini kunang duluring diane semadi ring latri kale.
Saniscara keliyon ngaraning tumpek, ye wekasing tuduh, ikang sarwe janme, ayua lali sire ngastutui Sang Hyang Perama wisesa, apan sire tanane doh tane parek lawan sire, tan parok tan pasah, apan sire amet panet, kale sane katemurun kerte nugerahe, nire Sang Hyang ring.
Madia pade loke, pengacinia kayeng pere lagi, rise denging, ratri tan wenang anambut gawe, balik menapuhe sire acite nirmale, umengete ring sesananire Sang Hyang Darma, muang ke wiadnyane sastre kabeh, telas samangkane, ayua sire tan mangguhaken rahayu, separaning lakunte, ape nian mangkane wang tan pakerti tan peyase, tan pekerame ngarania, same lawan sato, binania amangan sege, yan sang wiku tan manut dudu sire wiku, ranakire Sang Hyang Darme, kalingan ike. Nahante muah kaweruhakene, sadekale candre gerahe.
Wuwuse dening lke, ulan pinangan kale-rawu, kalingania ike tatu weyw, perewesaning rat buane, kaperetame dadiye u gering peretiti mase, pangestuning gasale ganep patugelang ikang cakre wale maputer ring teri loke, kaping ruania matemu ikang ulan lawan Surye, mangkane nimitania wenang pinuje dening
Sang sedake kabeh, dening puje pari kerama sake buatan, muang nguncaraken ikan mantre, candre astawa, yarmisahaken, malaning patemun Sang Hyang Ulan lawan kale rau, upeti, setiti kene Sang Hyang Ulan, bubur biaung bulu, sangkanane kelape dante, teketan gajih same widadahan suyuk, aturakene ring paibon muang canang lenge wangi burat wangi, rantasan sarwe putih. Ikang janme wenang suci laksane, pasangakene yoge samadinte, sahe wecanan sarwe tatua sukseme, muang parwe carite aneng natar sahe canang daksine. Astawe kene ring Sang Hyang Surye Candre palania perad.
Nyan peraginawe ring aji, rahayu pari purna tekeng perti sentananire, apan sire weruh ring pengarcane patemuning yayah-rene muang setiti ring rage sarire, ritelas mangkane salek lawasnia dine tan wenang agawe ayu. Kunang kalaning surye gerahe, Surye merte tinadah kale rawu, ye perewese juge, make setananing perewesa.
Juge, sasmitanore Hyang perame Wisesa setaun lawasnia dinemit denire yang Siwe Raditiya, tan kuase mekarya ayu yan durung liwar panyepian nikang sasih kesange, same pekerti nia ring candra gerahe.
Peretamaning perewesania, kalih ane ring garge semapte ike, muang perekempe, tuwi tekaning lindu ketug, guntur sakuwe hing perewesw, tekeng puje kerti, telas cinaritaken mungguwing widi sastra roge senggaraning bumi. Nihante kaweruhakene, de sang pandite, lawit pereteka ning sawe, ayua salah pasang salah surup, salah sastre salah surup ungguani re sang atme, kunang yan sire,
Angentasaken sang pitare, tatuwe iki tatasakene rumuhun, den peretiakse jati, ayua kari kumur ring ulat, samar ring ati, ayue salah sukseme tatasakene juge, apan dahating seng ke sire sang pandite angentas atma ning mati, nimitania anemu dalan apadang molihing suarge, ndiete nihan linging Aji Sang Hyang Darme,
Yania melakuning sawe peretike, keramania awatang sawe, pakertinia awadah, manuting palihing ke wang ania, sahe be banten teben, damar kurung, patulangan, genep saperekarania suargania ring daksina, ngaran Budelaye, kawahnia geni murub, pengadang-ngadang Dore-kale, cikre bale watek Cingkare, widiye darinia sang
Gagar mayang, wikunia begawan Rameperasu, dewania Sang Hyang Berahme, wewalinia gambang, tirthe kamandalu pemuputniaanyut basminen ring setre.
Kunang yania nyawe wedane, pelakunia kerame tunggal lawan sawe pereteka, rahayu upekare tunggal, nging mapengawak cendane, majegau, kayu abe, niste madi utamaning wangse anutakene, suargania pancine, kawah banyu wedang, pengadang-ngadang sang Suratme Cikere balewatek pisaca, widia dari Sang Sulasih, Wekunia.
Begawan Kenua, dewania betara Mah dewa, wewalania gong tirthenia mertha kundelini pamuputnia ring setre.
Begawan Kenua, dewania betara Mah dewa, wewalania gong tirthenia mertha kundelini pamuputnia ring setre.
Kunang yania maperenawe, pamelakunia kayeng pere lagi, suargania utare, kawahnia endut beledagah, pengadang-gadangnia, Adi kale, cikra bale kale kingkare, widia dari tunjung biru, wikunia Begawan Jenaka, dewania betara Wisnu wewalenia saron, tirtha nia mahe pawitra, pamuputnia ring setre.
Yan Suaste, pelakunia, keramania apawak bangbang, pangubania puput ring setre, ane pewadah, tan pedamar kurung, tan penpecare, muang patulangan, upekarania perecaru ring setre, suargania wetan, kawahnia dume ketu, pengadang-ngadangnia, sang Jogor-manik, cikre bale Wilmingkare, widia darinia sang superabe, wikunia begawan Beregu, Sang Hyang Isuara dewatania, wewalenia tras, pamuputnia ring setra.
Kunang yania apitre yadnye, pakertinia ring umah, tan pewadah tan patulangan, tan pedamar kurung, tan pebanten teben upekarania disuaste juge, kewali saji genep. Muang nasi angkep, tekaning perecaru, suargania ring madia, kawahnia weci dese, pengadang-ngadang sang bute angge sakti, cikre balania gending-gending luang, tirthania mertha sanjiwani telas.
Kunang yan ane atmaning pati tan pin hayu, dening pance atme peretiste, yeki maneher sire sang pitara umunguhaker ance gati sangsare, kalebuing kawah sor, ngaran bude buk, yan ane sengker lawasnia, apan ike panelasing kawah ring sor muah agung genah nia ring tape beraa ilianing kawah ke anerus maring pance weci, ilianing pance weci anerus aring bude buk, irike menadi dasar entiping kawah, telas.
Langganan:
Postingan (Atom)





