Sabtu, 17 Agustus 2013

Hakikat dan Filosofi Tumpek Landep



Hakikat dan Filosofi Tumpek Landep
“api ched asi papebhyah sarvebhyah
papakrittamah sarvam jnanaplavenai ‘va
vrijinam samtarishyasi”
(BhagavadgitaIV.36)
Walau seandainya engkau paling berdosa
diantara manusia yang memikul dosa
dengan perahu ilmu-pengetahuan ini lautan dosa engkau akan seberangi
Setiap hari suci agama umat Hindu sesungguhnya tak hanya sekadar rerahinan rutin yang mesti dirayakan. Namun, didalamnya ada nilai filosofis yang penting dimaknai dalam kehidupan sehari-hari. Tumpek Landep, misalnya, memiliki nilai filosofi agar umat selalu menajamkan pikiran.
Hari suci Tumpek Landep yang diperingati setiap enam bulan pawukon memiliki makna penyucian sarwa sanjata yang menunjang kehidupan manusia. Dalam perkembangannya sarva sanjata tidak hanya diartikan seperti: tombak, keris, panah, kampak dan lain-lainnya. Akan tetapi semua peralatan yang menunjang kehidupan manusia termasuk sarana dan prasarana jasa dan transportasi.

Secara lebih mendalam Tumpek Landep memiliki makna sebagai penyucian dan peningkatan rohani spiritual diantaranya pikiran dan hati yang suci. Melalui penyucian ini diharapkan manusia memiliki ketajaman pikiran setajam senjata dan kesucian hati sejernih air salju, sehingga apa yang dikatakan dan diperbuat berdampak pada kepekaan dan kepedulian yang tinggi terhadap semua ciptaan Sang Hyang Widhi. Dengan demikian ketajaman dalam berpikir yang disertai etika dalam berkata dari berbuat harus sesuai dengan ajaran agama Hindu yaitu Dharma. Tumpek Landep mengajarkan kepada umat manusia agar senantiasa merawat dan memelihara segala perlengkapan dan sarana yang menunjang kehidupan manusia, agar mampu menghadapi perkembangan modernisasi yang serba cepat, tepat dan akurat.

Pada era globalisasi seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi, manusia dalam arti dan fungsi yang kecil dituntut mengambil peran berkarya dalam segala aspek kehidupan baik sebagai pencipta, pemelihara maupun pelebur. Apa yang diciptakan manusia, dipelihara dan dilebur oleh kekuatan serta kemampuan manusia tetapi sifatnya hanya terbatas. Karena itu manusia senantiasa mawas diri dan interospeksi diri terhadap berbagai kelemahan dan keterbatasannya.

Dengan demikian sebagai manusia tidak menjadi sombong dan angkuh bilamana memiliki kemampuan dan kekuatan yang lebih diantara ciptaan Hyang Widhi. Justru sbagai manusia lebih menyadari akan hakikat dan jati dirinya guna meningkatkan rohani spiritual menuju kepada Brahman sang Pencipta. Empu Kuturan  menyatakan :
Ikang citta hetu nikang atma pamukti swarga, citta hetu ning atma tibeng naraka, citta hetu nimittanyan pangdadi tiryak, citta hetunyan pengjanma manusia, citta hetunya pananggihaken kamoksan mwang kalepasan, nimitanya nihan
Arti :
Pikiranlah yang menyebabkan sang pribadi menikmati sorga, pikiranlah yang menyebabkan sang pribadi jatuh kedalam neraka, pikiranlah yang menyebabkan menjadi binatang, pikiranlah yang menyebabkan menjelma menjadi manusia. Pikiranlah yang menyebabkan orang mendapatkan kamoksan dan kelepasan, sebabnya demikian
Apabila sattwika yang dominan menyebabkan mencapai moksa
Apabila rajah yang dominan menyebabkan neraka,
Apabila tamah yang dominan menyebabkan menjelma menjadi binatang
Apabila sattwam dan rajah yang dominan menyebabkan sorga
Apabila sattwam, rajah dan tamah yang dominan menyebabkan menjelma menjadi manusia
Secara lahiriah senjata memiliki ketajaman pada mata pisau dan ujungnya dan secara rohani ketajaman senjata dalam diri manusia terletak pada Tri Kaya Parisudha. Karena itu bagian manusia yang paling tajam adalah pikiran dan mata hati. Kemudian ketika diaplikasikan melalui mulut maka yang paling tajam adalah lidah dan ketika digunakan melalui perbuatan maka yang paling tajam adalah tangan dan kaki. Ketajaman itu perlu dikendalikan agar pikiran, mata hati, lidah, tangan dan kaki dapat berfungsi dengan baik untuk kesejahteraan dan kebahagiaan umat manusia. Tidak ada saling menyakiti dan tidak ada tindakan kekerasan fisik dan psikis. Semuanya dapat diharmoniskan keberadaannya masing-masing sehingga tumbuh sikap saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

Tumpek Landep juga mengajarkan untuk merawat dan memelihara segala sarana dan prasarana yang ada didalam tempat suci (pura, kuil dan candi) seperti senjata Dewata Nawa Sanga. Karena itu makna piodalan Pura dikaitkan dengan Tumpek Landep sebagai peringatan berdirinya Pura dan hari penyucian segala sarana dan prasarana perlengkapan upacara agama hindu termasuk senajata Dewata Nawa Sanga.
Dengan ilmu pengetahuan pulalah umat menjadi manusia yang lebih bijaksana dan mampu memanfaatkan teknologi itu secara benar atau tepat guna, demi kesejahteraan umat manusia. Bukan digunakan untuk mencederai nilai-nilai kemanusiaan.
“tad viddhi pranipatena
paripprasnena sevaya
upadekshyanti te jnanam
jnaninas tattvadarsina”
(BhagavadgitaIV.34)
Belajarlah dengan wujud displin, dengan
bertanya dan dengan kerja berbakti,
guru budiman yang melihat kebenaran akan mengajarkan padamu ilmu budi-pekerti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar