Senin, 27 Februari 2017

SARANA AGNI HOTRA

Sarana dan Prosesi Agni Hotra

Dewasa ini, Upacara agni hotra atau Homa yajna sudah semakin dikenal dan digemari oleh masyarakat bali. Terbukti dengan semakin banyaknya permintaan untuk melakukan yajna ini. Bahkan dalam sehari, seorang Hotri/ hotraka atau Pandita yang memimpin upacara agni hotra ini bisa mendapat permintaan lebih dari sekali dalam sehari. Hal ini tidak terlepas dari efesiensi dan juga manfaat nyata yang bisa didapat dari upacara dimaksud. Sebab upacara Agni Hotra selalu bisa dikaitkan atau dirangkaikan dengan beberapa upacara keagamaan lainnya seperti Agni Hotra untuk megedong-gedongan, untuk merayakan tiga bulanan, pawiwahan, membersihkan pekarangan (secara niskala) dan juga untuk menyempurnakan upacara pitra yajna.

Mengingat prosesi, kelengkapan, penyediaan tempat dan juga biayanya yang relative murah telah menjadikan upacara Agni hotra sebagai pilihan bijak bagi mereka yang kesehariannya selalu sibuk dengan pekerjaan dan juga bagi mereka yang menginginkan  sebuah formula praktis, simple, dan juga ekonomis namun tetap tidak kehilangan makna  dalam beragama. Sebab dalam ritual agni hotra, semua kelengkapannya merupakan bahan-bahan yang amat mudah dicari dengan harga yang cukup terjangkau. Seperti misalnya biji-bijian, beras, kayu bakar, minyak goreng, susu, dan lain-lain. Waktu untuk menyiapkan sekaligus melaksanakannyapun  relative sangat singkat sekitar 3 sampai 4 jam saja.
Keberhasilan suatu yajna memang tidak bisa diukur dari seberapa besar biaya yang dikeluarkan ataupun dari seberapa banyak dan meriahnya bebantenan yang dipakai namun lebih kepada efek atau dampak yang ditimbulkannya kepada sang Yajamana. (apakah setelah melakukan suatu upacara, orang yang bersangkutan bisa lebih mendapatkan ketenangan, ketentraman dan kebahagiaan ataukah sebaliknya) sebab seringkali terjadi di masyarakat bahwa ketika upacara yang dibuatnya selesai, hidupnya tidak semakin membaik karena terus dikejar oleh kewajiban membayar hutang karena meminjam uang demi lengkapnya sebuah upacara atau bahkan mengalami keretakan keluarga karena biaya upacara diambil dari hasil pembagian warisan orang tua. Hal ini tentu tidak sejalan dengan prinsip dan cita-cita dari agama itu sendiri. Sebab agama mengajarkan bahwa manusia hendaknya hidup secara rukun untuk mencapai artha dan kama yang dilandasi Dharma sehingga kebahagiaan jagadhita dan moksa sebagai tujuan akhir bisa tercapai.

Hal ini tentu sangat terkait dengan masing-masing individu untuk memulainya, terutama untuk menyadari dan mengetahui bahwa yajna atau pelaksanaan korban suci itu adalah sebuah keharusan bagi semua orang sebagaimana ujar Bhagavad Gita bahwasannya jika kita lalai akan sebuah kewajiban lalu bagaimana seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan dalam hidupnya kini maupun dalam penjelmaannya yang akan datang. Oleh karena itu segala bentuk dan kegiatan yajna untuk menyenangkan para dewa tetap harus dijalankan yang mana hal itu tentu harus didasarkan pada keikhlasan, keyakinan, serta niat dan usaha sendiri. Sebab jika kita melakukan upacara yajna tanpa dilandasi oleh pengetahuan tentang makna, tata cara maupun tujuan upacara dimaksud, tanpa dilandasi keikhlasan dan jerih payah sendiri, hal itu sama saja dengan membuang-buang waktu karena hanya akan mengantarkan kita pada moha atau kebingungan. Oleh karena itu, sangat penting bagi sang Yajamana (orang yang akan melakukan yajna) untuk membuat atau mendapatkan kelengkapan ritual itu sendiri sebagai tanda keikhlasan dan niat sungguh-sungguh untuk mempersembahkan hasil kegiatan kita kepada para dewa. Sebab jika Yajamana hanya menyerahkan segala sesuatunya kepada orang lain atau Hotri untuk melengkapinya, sehingga ia hanya perlu mengeluarkan uang lalu duduk manis menunggu selesainya upacara, ini bukanlah tanda kebajikan dalam beragama sebab yang terpenting dari setiap ritual agama bukanlah pada bagaimana upacara itu bisa selesai dengan lancar saja tetapi lebih kepada bagaimana setiap orang terdidik untuk belajar mengetahui proses kegiatan upacara dimaksud sehingga bisa menumbuhkan sradha serta kecintaan terhadap nilai agamanya sehingga generasi Hindu kedepannya bisa lebih percaya diri dalam menjawab segala pertanyaan umat lain yang sering terkesan menyudutkan karena ketidak berdayaan kita menjelaskan makna dan tujuan upacara agama secara logis sehingga menimbulkan kesan bahwa sebagian besar umat hindu beragama hanya karena warisan, dan ikut-ikutan dengan dalil ‘Anak mule keto”

Bercermin dari hal ini dan dengan tujuan untuk lebih memasyarakatkan upacara Veda, serta membangkitkan rasa jengah untuk membangun sumber daya Hindu yang lebih mapan, lewat tulisan ini saya merangkumkan kegiatan agni hotra untuk dipakai pembelajaran dan acuan bagi semua pihak yang mendalami upacara ini.

Sekilas tentang upacara Agni Hotra
Agni hotra adalah suatu upacara yajna yang menggunakan api sebagai media utamanya. dalam salah satu Purana dinyatakan bahwa Dewa Agni (disimbulkan dengan api) adalah lidahnya Tuhan. Sehingga dalam ritual agni Hotra, semua persembahan akan dituangkan kedalam api yang berada dalam kunda. Agni hotra merupakan ritual yajna yang sudah cukup tua. Hal ini sangat jelas dapat kita lihat dari kisah-kisah purana dan juga Itihasa dimana Agni Hotra selalu menjadi pelengkap bagi manusia untuk menghubungkan dirinya dengan Tuhan maupun para Dewa. Dalam epos Ramayana kita tahu bahwa Raja Dasarata juga melakukan agni hotra untuk mendapatkan anak, begitupun saat prosesi penyatuan Mahadeva dengan Parvathi dalam prosesi pernikahan. Drupadi yang sangat dikasihi oleh Vasudeva Krishna juga lahir dari api kurban yang dilakukan oleh raja Drupada. Agni hotra yang sarat dengan kemuliaan dan keagungan ini karena di dalam prosesnya padat berisi lantunan mantram-mantram Veda memang hampir dilupakan di jaman Kali ini bahkan sempat dicurigai sebagai upacara milik aliran kelompok tertentu saja. Padahal upacara ini dengan sangat jelas disebutkan dalam kesusastraan Veda yang merupakan kitab suci resmi agama Hindu sebagai raja dari sebuah yajna.

Yatrā suhārdāṁ sukṛtam – agnihotrahutaṁ yatrā lokaḥ, taṁ lokaṁ yamniyabhisambhuva  sā no ma hiṁsit puruśān paśuṁūca – Di mana mereka yang hatinya mulia bertempat tinggal,  orang yang pikirannya damai dan mereka yang mempersembahkan Agnihotra, di sanalah majelis (pimpinan masyarakat) bekerja dengan baik, memelihara masyarakat, tidak menyakiti mereka dan binatang ternaknya.  Atharvaveda XXVIII.6

 A. Hoṁa  Yajña/Agnihotra dalam kitab suci Veda dan susastra Sanskerta

Sumber tertua tentang ūpacāra Hoṁa  Yajña/Agnihotra dapat kita jumpai dalam kitab suci Veda khususnya kitab Ṛgveda X.66.8. Demikian pula kitab Atharvaveda VI.97.1 dan yang lain-lain yang secara tradisional oleh umat Hindu di India disebut Yajña atau Yaga. Jadi bila di India kita mendengar umat Hindu melakukan Yajña atau Yaga yang dimaksud tidak lain adalah Agnihotra walaupun secara leksikal pengertian Yajña atau Yaga jauh lebih luas dibandingkan dengan Agnihotra. Agnihotra dalam pengertian leksikal (masculinum, neutrum dan femininum) yang dimaksud persembahan suci kepada Sang Hyang Agni (api suci) teristimewa adalah persembahan susu, minyak susu atau Ghee dan susu asam atau Yogurt. Ada dua macam Agnihotra yaitu yang dilakukan secara rutin (konstan) umumnya 2 kali sehari pagi dan sore (nitya atau nityakāla) dan Agnihotra yang dilakukan secara insidental (kāmya atau naimitikakāla/Monier, 1993: 6).
Istilah yang lain untuk Hoṁa  Yajña/Agnihotra adalah Huta (persembahan kepada Sang Hyang Agni) oleh karena itu kita mengenal pula istilah Hotṛi yang juga berarti api. Agnihotra juga disebut Havan dan kata Havani berarti sendok (yang dalam bahasa Sanskerta disebut Juhu) untuk menuangkan persembahan cair. Nama Hoṁa  mengandung arti persembahan berbentuk cairan yang dituangkan ke dalam api suci (Loc.Cit.). Sumber-sumber lainnya tentang ūpacāra Agnihotra adalah kitab-kitab Brāhmaṇa di antaranya Kauśītaki, Sathapatha, dan Aitareya Brāhmaṇa. Selanjutnya bila kita melihat-kitab-kitab Sūtra khususnya tentang Kalpasūtra, Gṛhyasūtra, Śrautasūtra dan lain-lain selalu kita menemukan informasi tentang betapa pentingnya ūpacāra Hoṁa  Yajña/Agnihotra ini bisa kita lihat pada kitab-kitab Śrautasūtra  (Aśvalāyana S.S.II.1.9, Saṇkhāyana S.S.II.1, Lāthyāyana S.S.IV.9.10., Kātyāyana S.S.IV.7-10., Mānava S.S.I.5.1., Vārāha S.S.I.4.1., Baudhayana S.S.II., Bhāradvāja S.S.V., Āpastamba S.S.V.1., Hiraṅyakeśi S.S.III.1-6, Vaikhānasa S.S.I, Vādhūa S.S.1.,Vaitāna S.S.5-6) kitab tersebut menggambarkan bermacam-macam bentuk  persembahan Hoṁa  Yajña / Agnihotra yang secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut: Seorang pelaksana Agnyadhāna hendaknya setiap hari mempersembahkan persembahan kepada api suci Agnihotra pagi dan sore hari apakah dilakukan oleh perseorangan atau di bawah pimpinan seorang Adhvaryu. Bila tiada seorang Adhvaryu yang memimpin, kepala keluarga dapat melakukannya teristimewa pada waktu bulan purnama dan bulan baru terbit. Dari kitab-kitab Śrautasūtra  dan juga kitab Brāhmaṇa kita mendapat informasi tentang pahala yang diperoleh bagi mereka yang dengan tekun mempersembahkan atau melaksanakan ūpacāra Agnihotra, dinyatakan bahwa segala keinginannya akan tercapai. Api suci hendaknya tetap menyala pada rumah-rumah para Gṛhastha. Mereka yang secara rutin melakukan Agnihotra, maka kemakmuran akan dapat terwujud. Agnihotra dengan mempersembahkan biji-bijian, minyak susu, susu, susu asam dan lain-lain yang kini di India disebut Samagri, diikuti dengan pengucapan mantram-mantram, terutama mantram Veda dan hendaknya dilakukan seseorang selama hidupnya atau sampai mencapai tingkatan hidup sebagai Saṁnyāsin (Ram Gopal, 1983: 535). Hoṁa  Yajña/Agnihotra merupakan persembahan wajib yang dilakukan oleh setiap Gṛhastha  karena hanya Gṛhastha secara sempurna dikatakan dapat melakukan Yajña dan Agni yang dimaksud dalam Agnihotra adalah Tuhan Yang Maha Esa yang bila dilaksanakan pada pagi hari maka persembahan itu ditujukan kepada Sūrya, mantram yang selalu diucapkan adalah:      
Oṁ Bhūr Bhūvaḥ Svaḥ Oṁ Sūrya Jyotiḥ Jyotiḥ Sūrya Svaha  dan bila dilakukan sore hari (menjelang malam) ditujukan kepada Agni dengan mengucapkan mantram:
Oṁ Bhūr Bhūvaḥ Svaḥ Oṁ Sūrya Jyotiḥ Jyotiḥ Agni Svaha (Abhinash Chandra Das, 1979: 493).
Selanjutnya dalam kitab-kitab Itihāsa dan Purāṇa dan juga kitab-kitab Agama atau Tantra, ūpacāra Agnihotra senantiasa dilaksanakan dan tentu pula mantram yang digunakan, di samping mantram-mantram Veda adalah mantram-mantram yang bersifat Pauranic, Agamik atau Tantrik.

B. Hoṁa  Yajña/Agnihotra menurut sumber Jawa Kuno (Kawi)
Bila kita membuka sumber tertua Jawa Kuno, maka dalam bagian awal dari kakawin Rāmāyana, yakni ketika prabhu Daśaratha memohon kelahiran putra-putranya dipimpin oleh Maharsi Ṛṣyaśṛṅga keturunan Gadhi kita mendapatkan informasi tentang ūpacāra Agnihotra sebagai berikut:
Saji ning yajña ta humadang, śrī wṛkṣa samiddha puṣpa gandha phala,
dadhi ghṛta kṛṣṇatila madhu. mwang kuśāgra wṛtti wetiḥ (24) - Sesajen ūpacāra korban telah siap, kayu cendana, kayu bakar, bunga, harum-haruman dan buah-buahan, susu kental, mentega, wijen hitam, madu, periuk, ujung alang-alang, bedak dan bertih
Lumekas ta sira mahoṁa , pretadi pisaca raksasa minantram, bhuta kabeh inilagaken, asing mamighna rikang Yajña (25) - Mulailah beliau melangsungkan ūpacāra korban api (Agnihotra), roh jahat dan sebagainya, pisaca dan raksasa dimentrai. Bhuta Kala semuanya diusir, segala yang akan menggangu ūpacāra korban itu
Sakali karana ginawe, awahana len pratista sannidhya, Parameswara inangen-angen, umunggu ring kunda bahnimaya (26).- Segala perlengkapan ūpacāra telah tersedia. Doa dan tempat peralatan hadirnya Devata. Bhatara Śiva yang dimohon kehadiran-Nya, hadir pada tungku persembahan
Sampun Bhatāra inenah, tinitisaken tang miñak sasomyamaya, lawan kṛṣṇatila madhu, śrī wṛkṣa samiddha rowang nya (27)- Sesudah Devata disthanakan, diperciki minyak “sOṁa”, wijen hitam dan kayu cendana beserta kayu bakar
Rāmāyana I. 24-27.
Sumber Jawa Kuna lainnya adalah Agastya parwa (355) yang menjelaskan berbagai macam Yajña (Pañca Maha Yajña) yang dalam uraiannya tentang Deva Yajña secara tegas menyatakan bahwa Deva Yajña adalah persembahan kepada Śivāgni yang dimaksud tidak lain adalah Agnihotra sedang Korawāsrama, menyatakan bahwa Deva Yajña adalah ūpacāra persembahan berupa makanan dan pengucapan mantram-mantram Stuti dan Stava (Hooykaas, 1975: 247) menunjukkan bahwa mantram Veda merupakan sarana dalam Deva Yajña yang tidak lain juga hampir sama dengan pelaksanaan Agnihotra. Di dalam kakawin Sutasoma 79.8, Tantri Kāmanîaka 142 dan Nāgarakṛtāgama 8.4 dinyatakan bahwa ūpacāra Agnihotra atau Hoṁa yajña tersebut merupakan puncak dari ūpacāra korban.
Dalam lontar Vrspati tatwa juga ada disebutkan bahwa salah satu usaha untuk menyucikan diri bagi seorang Sadhaka adalah dengan melakukan Agnihotra atau Hoṁa yajña:
Śuddha ngaranya eñjing-eñjing madyus, aśuddha śarīra, masūrya sewana, mamuja,
majapa, mahoṁa  – Bersihlah namanya, tiap hari membersihkan diri, sembahyang kepada Sang Hyang Sūrya , melakukan pemujaan, melakukan Japa dan melaksanakan Hoṁa yajña. Śīlakrama, lamp.41.
Berdasarkan beberapa temuan peninggalan purbakala (arkeologi) dan tradisi yang hidup dalam masyarakat Bali. Yang mana salah satunya adalah  peninggalan purbakala adalah adanya berupa lobang api (Yajñaśala atau Vedi) tempat dilaksanakan-nya ūpacāra Agnihotra. Tempat atau lobang api ini dapat pula kita saksikan di salah satu Gua Pura Gunung Kawi yang diyakini oleh penduduk sebagai Geria Brahmana terdapat sebuah lobang dalam sebuah altar di tengah-tengah gua, yang rupanya dikelilingi duduk oleh pelaksana ūpacāra Agnihotra. Peninggalan berupa lobang tempat api unggun itu adalah Yajñakunda (Yajñaśala) dikuatkan pula dengan adanya lobang api di bagian atap sebagai ventilasi keluarnya asap dari tempat dilangsungkannya ūpacāra Agnihotra. Nama-nama seperti Keren, Kehen, Hyang Api Hyang Agni (Hyang geni) dan Śala menunjukkan tempat yang berkaitan dengan dilangsungkannya ūpacāra Agnihotra.
Upacāra Agnihotra terakhir terjadi pada masa kerajaan Klungkung di bawah raja Dalem Waturenggong  di Istana raja Gelgel dengan purohita  Mpu Astapaka bersama Danghyang Dwijendra. Saat itu, ketika pelaksanaan ūpacāra Agnihotra berlangsung, kobaran api menjadi begitu besar dan meninggi hingga melalap atap panggung tempat ūpacāra sehingga mengakibatkan kebakaran. maka sejak itu raja memerintahkan untuk melaksanakan ūpacāra Agnihotra yang kecil dan sederhana saja yang kemudian terus mengerdil menjadi dengan menggunakan pasepan (padupan) saja sehingga lama kelamaan, tradisi melaksanakan ūpacāra Agnihotra itupun hanya dikenal oleh para pandita saja, bahkan sesudahnya karna proses waktu, banyak dari pemangku yang bahkan tidak mengetahui asal mula dari penggunaan pasepan itu sehingga nyaris bahwa ritual agni hotra atau pemujaan kepada dewa agni ini semakin memudar dan tak dikenal di Bali.

C. Hoṁa  Yajña/Agnihotra dalam stuti atau stava
Di masa yang lampau pelaksanaan Agnihotra menggunakan mantram-mantram yang bersifat Tantrik, seperti juga yang oleh sebagian digunakan oleh Sampradaya-Sampradaya di India Devasa ini.

D. Keutamaan ūpacāra Hoṁa  Yajña/Agnihotra
Segala sesuatu yang diketahui atau dirasakan manfaatnya tentu akan dicari atau dilaksanakan oleh umat manusia. Demikian pula halnya ūpacāra Hoṁa  Yajña/ Agnihotra. Berbagai penelitian ilmiah membuktikan bahwa Agnihotra demikian sangat penting artinya bagi kehidupan umat manusia. Salah satu buku yang menguraikan tentang manfaat Agnihotra adalah Hoṁa  Therapy, Or Last Chance diterbitkan oleh Fivefold Path, Inc. Parama Dham (House of Almighty Father), Madison, Virginia, USA,1989 yang menguraikan manfaatnya bagi kesehatan umat manusia.
kitab Kauśītaki Brāhmana (II.1) mengidentifikasikan persembahan Agnihotra adalah persembahan kepada Deva Sūrya  dan menurut kitab suci Veda (Ṛgveda I.115.1) Sūrya adalah jiwa atau Ātma dari seluruh alam semesta, yang bergerak dan yang tidak bergerak (sūrya ātma jagatas tasthusaś ca).  Mantram-mantram yang digunakan dalam ūpacāra Agnihotra umumnya dipetik dari kitab suci Veda, Ṛgveda, Yajurveda (salah satu yang sangat terkenal adalah Agnir jyotir jyotir agnir svāhā, Sūrya  jyotir yotiḥ Sūrya ya  svaha, III.9), dan beberapa mantram dari Atharvaveda. mantram lainnya biasanya dari mantram sampradaya tertentu, misalnya Śaivisme menggunakan mantram pemujaan kepada Ganeśa, Durgāsaptasati, Rudram, Śivamahimastotra dan lain-lain. Kitab Mahābhārata menyatakan: Seperti seorang raja di antara umat manusia, seperti Gāyatrī mantram di antara seluruh mantram, demikian pula ūpacāra Agnihotra adalah ūpacāra yang sangat penting di antara semua ūpacāra-ūpacāra Veda ( Ganga Ram Garga, 1992: 217).


E.Pelaksanaan ūpacāra Hoṁa  Yajña / Agni Hotra dan Sarananya
Sarana ūpacāra persembahan
1.   Kayu bakar, sedapat mungkin kayu mangga, intaran, beringin, cempaka, sandat, tulasi, majagau, batang kelapa kering atau cendana yang telah kering.
2.   Gahvya (gobhar) diambil dari kotoran sapi-sapi yang dipelihara dan disayangi oleh pemiliknya dan bukan berasal dari tempat/rumah pemotongan hewan.
3.   Daun, batang, bunga, akar dan ranting kayu tulasi (disebut Pañcāngga) dan juga daun mangga untuk persembahan ke dalam api suci. Beberapa daun mangga yang telah diisi lambang Omkara biasanya juga dipasang dengan benang tridatu mengelilingi areal tempat agni hotra sebagai simbul proteksi oleh Sri Ganesha.
4.   Sarana Pancamrtam yang terdiri dari : Susu segar, yoghurt (susu asam), gula merah, ghee (minyak sapi), madu
5.   Aneka biji-bijian  seperti kapulaga, biji kacang hijau, cengkeh, beras merah, putih dan hitam serta wijen.
6.   Minyak kelapa.
7. 1 Kelapa untuk Daksina dan 2 lainnya untuk upacara memecahkan kelapa (jumlah menyesuaikan dengan orang yang akan melakukan pemecahan kelapa)
8.   10 Nasi kepel yang telah diisi ghee untuk persembahan kepada para bhuta
9.   Bunga tabur dan bunga untuk muspa
10.(Khusus untuk Abhiseka) akan ada tambahan seperti penyiapan daun sirih, garland, minyak wangi, kumkum, benang suci,dan juga kamper untuk aarthi)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar